CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Balik ke kota


__ADS_3

Malam semakin larut orang-orang mulai pergi dari tempat itu, Acara bersih-bersih hampir selesai. Saat semuanya selesai semua semakin sepi tanpa ada suara lagi, semua orang sudah tertidur pulas.


Pagi telah datang menyambut sang mentari, nek Salimah akan ke kota ikut bersama Wina dan suaminya. Siska dan ibunya tetap di kampung karena hari ini Siska masuk sekolah lagi.


"Kakak apa hari ini kita akan pulang?" Tanya Linda saat itu.


"Iya dong sayang, bukannya Linda harus balik untuk operasi besok." Cindi mengingatkan Linda jadwal Operasi linda.


"Kakak apa di operasi itu sakit?" Tanya Linda dengan polosnya.


"Tidak kok sayang, di operasi nanti Linda harus tenang yah." Cindi begitu iba melihat Linda yang masih kecil itu harus berada di rumah sakit lagi besok.


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu mobil itu berlalu pergi meninggal tempat itu, Terdengar suara sorakan para tetangga mendoakan mereka agar selamat sampai tujuan.


Di jalan Semua semua di mobil itu tertidur lelap kecuali Tono yang sedang menyetir, Nek Salimah begitu menikmati mimpi nya di malam itu.


Deng deng deng.... deng... hem... hem.. hem.. Lantunan lagu Malaysia begitu membuat suasana di mobil adem. Tono sengaja mengikuti lagu-lagu dari radio yang dia ketahui, agar tidak membuatnya pusing dan mengantuk.


Tak terasa mereka sudah sampai di perbatasan kota jakarta, Kendaraan mulai macet dan membuat kepala terbentur ke sana kemari akibat mobil yang tiba-tiba berhenti dengan sendirinya.


Tak, kali ini benturan sangat keras dan membuat kepala Cindi terbentur keras. "Ayah tolonglah pelan-pelan menyetirnya." rengek Cindi pada Tono.


"Iya sayang, ini jalan juga bikin masalah." Kesal Tono pura-pura marah.


Sudah hampir satu jam di jalanan macet barulah sampai di perumahan, Tono merasa sedikit legah karena sekarang tidak perluh menyetir terburu-buru lagi. Di depan rumah terlihat bibi sudah duluan membuka pintu rumah, dan langsung membuka pintu pagar.


"Bi, bantu yah keluarin barang-barang." Ucap Cindi sopan kepada bi inem.


"iya non," Terlihat bibi itu tersenyum ramah kepada nya.


"Cindi kali ini setelah selesai mengangkat barang-barang nya langsung izin ke papanya masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Pa aku masuk kamar dulu yah, mau istirahat."


"Iya," Papa nya begitu menjawabnya dengan spontan dan terdengar lembut.


"Sayang makan dulu dong, bibi sudah siapin nih untuk makan siang." Ajak ibunya dengan berjalan bersama ayahnya ke meja makan.


"Bentar aja bu, aku masih kenyang kok." Cindi berjalan masuk ke dalam kamar, di kamar dia langsung merebahkan tubuhnya yang begitu masih terlihat lelah.


...🐼🐼🐼...


Sudah hampir jam 11 pagi Rendi dan keluarga baru sampai di rumah, itu karena kompleks perumahan mereka berbeda satu jam dari rumah cindi kalau macet-macet begini. Rendi membantu keluarga nya mengangkat barang-barang masuk ke dalam terlihat pembantu rumah juga ikut membantu mereka.


"Bi ini yang sudah terbuka simpan di kulkas yah separuh," Ucap hajra kepada bibi dengan memberi jagung yang sudah terbuka.


"Iya non," bibi itu memilih-milih jagung itu dan beberapa sayuran yang bisa di masukkan ke kulkas.


Rendi dan yang lainnya naik ke kamar masing-masing untuk istirahat. Di kamar Rendi langsung membaringkan tubuhnya yang letih.


"Iya, kenapa kamu di sini?" Tanya Rendi kesal melihat kehadiran Cindi.


"Untuk menemani kamu." mendengar hal itu sontak saja dia kaget.


"Apa! aku tidak salah dengar, sana kembali ke kamarmu." bentak Rendi kesal dengan cindi.


"Tidak, aku tidak mau kembali sebelum aku menghilangkan rasa lelah mu." Cindi mendekati Rendi tapi Rendi malah mendorongnya sampai cindi terjatuh ke lantai dan lengannya terluka.


"Awwww," Cindi meringis kesakitan saat melihat tangannya semakin banyak mengeluarkan darah. Rendi sontak saja panik tanpa pikir panjang dia langsung mendekati nya dan mengambil kapas dari kotak obat, tapi tiba-tiba Cindi mendekatinya dan membuat Rendi tambah prustasi.


"Hei apa yang kamu lakukan, ini ambil obati sendiri luka mu." bentak Rendi, saat hendak beranjak tiba-tiba ada tangan yang menarik lengannya.


"Mau ke mana Honey?" Tanya Cindi dengan genit nya, mendengar hal itu serasa seluruh tubuh nya bergetar semua.

__ADS_1


"Ini tidak mungkin, ini seperti mimpi saja,"


"Rendi bangunlah, bangun...." Seperti ada suara teriakan keras yang membuat nya langsung terbangun dari mimpi buruknya.


"Aduuuuh kepalaku rasanya pusing," Rendi memegang kepala nya yang masih pusing itu.


"Pergilah cuci muka mu lalu turun ke bawah sarapan." Nasehat Reno dengan memukul pelan pundak adiknya dan berlalu pergi dari kamarnya. Rendi masih terdiam di tempatnya entah ada apa dengannya ini baru kali pertama dia mimpi di hantui wanita itu, apakah karena dia suka jail dengannya.


"Entahlah, apa dosaku dengannya mengapa aku mimpi bertemu dengan dia rasanya seluruh tubuhku ikutan merinding semua." Kesal rendi dalam hati. Dengan malas dia masuk ke dalam kamar mandi mencuci muka dan turun ke bawah untuk sarapan.


Terlihat sudah ada banyak keluarga nya di meja makan menunggu dirinya. Rio kali ini terlihat lemas dengan melipat tangannya di meja, saat melihat omnya datang dia yang paling pertama mengambil makanan dan lauk pauk di meja itu.


"Kayak lomba makan aja, kalian kenapa tidak makan?" Tanya Rendi heran kepada mereka.


"Katanya lagi nungguin om, di kirain om lagi sakit eh tau-taunya baik-baik saja." Ucap rio saat makanan di sendok baru mau melayang masuk ke mulut tiba-tiba saja sintia yang ada di sampingnya langsung menarik sendok nya kembali.


"Kebiasaan, Berdoa dulu." Tegur ibunya.


"Oh iya lupa." Ucap Rio dengan tersenyum semanis mungkin di hadapan mamanya.


Rendi duduk di dekat Reno dengan santainya, Semua baru makan saat dia duduk di meja makan. Rendi sendiri merasa aneh, ternyata ada hal yang akan mereka sampaikan setelah makan siang, pantas saja Rendi di buat bingung oleh mereka.


Yang membuat Rendi heran lagi kali ini semua berkumpul di ruang tamu seperti akan ada acara keluarga aja, "Ini kok pada kumpul yah, ada apa ini?" Tanya Rendi kali ini dia tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya di kepala yang sudah menumpuk ribuan pertanyaan.


"Duduk dulu nak, baru kami akan mulai." pinta ibunya ke Rendi, dia hanya bisa menurut saja wajahnya masih bingung dan heran.


"Pa ayo mulai." Bisik Hajra ke telinga suaminya.


Semua di sana seperti sudah mengetahui apa yang akan papanya katakan, hanya Rendi yang terlihat seperti orang asing heran dan kebingungan sendiri.


...🐼🐼🐼...

__ADS_1


__ADS_2