CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Pagi cerah tak secerah hati


__ADS_3

Pagi hari pukul 06:00 seperti biasanya Cindi terbangun dari tidurnya, dia langsung tersenyum dan memilih untuk melenturkan tubuhnya agar dia lebih bersemangat.


Setelah melakukan beberapa yoga cindi langsung masuk ke dalam kamar mandi, dia benar-benar merasa lebih baikan pagi ini. Rasanya dia hanya ingin melakukan hal yang membuatnya merasa tidak bosan dan bisa lebih bersemangat pagi.


Setelah mandi Cindi lalu menggunakan baju setelan yang membuatnya merasa nyaman, Rendi masih terlihat berbaring di tempat tidur. Cindi sengaja tidak membangunkan nya, dia tidak tega saja jika harus membangunkan orang yang asik-asik nya tidur.


"Selamat pagi Rendi, semoga kamu bisa tetap semangat." Ujar Cindi lalu langsung bangkit dari tempat tidur nya. Cindi menuruni anak tangga secara berlahan, entah berapa lama dia baru sampai di lantai bawah. Mungkin karena kebanyak menghayal dia sampai lupa kalau dia sudah ada di lantai bawah.


Dia langsung menuju dapur untuk membuat sarapan pagi. Beberapa menit kemudian Semua sarapan pagi sudah tertata rapi di meja makan, Cindi sengaja menyiapkan nasi goreng pagi ini dengan susu dan Roti yang sudah tersedia di meja makan. Rasanya dia sangat ingin menyajikan nasi goreng ala Cindi untuknya.


"Okey sepertinya semua sudah siap, apa aku tunggu saja atau aku bangunin saja?" Cindi mulai bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.


Cindi mulai mendudukkan badan nya di meja makan dengan tenang, dia kali ini tidak mau terlaku banyak kecapean. Dia lebih memilih masak yang ringan-ringan saja pagi ini, lagian dia sudah membungkus roti bekal coklat untuk Rendi, jadi dia tidak perluh khawatir kalau pria itu akan kelaparan di kantor.


Cindi menatap bungkusan kecil itu di meja yang berisi roti coklat dengan jumlah porsi besar sesuai porsi Rendi, Beberapa menit dia menunggu tapi pangeran tidurnya itu masih juga belum turun.


"Ya ampun beb kok lama?" Tanya Cindi. Cindi langsung naik ke kamar saat hendak membuka pintu dia syok melihat Rendi kali ini hanya menggunakan handuk saja seperti kemarin. Kerena tidak ingin tertangkap basa Cindi langsung menutup kembali pintu kamar itu, tapi tiba-tiba saja ada suara dari dalam kamar menegurnya.


"Kenapa di tutup, malu yah sama aku masuk saja kalau kamu mau." Ujar Rendi sengaja memancing Cindi.


"Mau apa, aku kurang ngerti aku mau turun ke bawah." Tiba-tiba tanpa sepengetahuan nya Rendi langsung membuka pintu dan menarik lengan nya.

__ADS_1


"Rendi mau kamu apa? lepasin tangan aku dong." Cindi syok melihat tangan itu masih menyentuh tangan nya.


"Kamu kenapa lari aku tanya?" Tanya Rendi lagi dengan perasaan yang penuh kekesalan.


"Ohhh, hahahaha tidak papa kok beb, turun makan yuk udah di siapin loh." Ujar Cindi dengan memegang kedua wajah Rendi penuh kasih sayang yang palsu itu.


Tiba-tiba saja Rendi langsung menghempas tangan yang menyentuh wajahnya, dan langsung mendahului Cindi turun tangga, Cindi hanya tersenyum saja sambil mengikuti Rendi dari belakang.


Baru di ruang tamu hidung Rendi rasanya semakin Mencium aroma yang nyaman dari dapur, dia langsung menghampirinya tanpa malu lagi sama Cindi dan langsung melahapnya. Cindi yang ada di depan nya ikutan sarapan tapi dia cuma makan Roti yang sudah di siapkan banyak di piring bundar.


...🐼🐼🐼...


Terlihat dari tadi cindi memperhatikan mimik wajah Rendi yang sangat serius itu sambil sekali-kali memujinya dalam hati.


"Ehmmm, tiba-tiba rendi berdehem saat sadar kalau dia di perhatikan dengan Cindi sambil sekali-kali tersenyum ke arah nya. Selesai makan Rendi meminum susu di gelas besar.


"Kamu sudah sakit yah, kenapa menatapku sambil senyum-senyum gitu?" Tanya Rendi heran dengan suara yang sangat terdengar lantang dan sedikit marah. Mendengar hal itu yang ada Cindi tambah tersenyum seakan dia mulai tidak waras lagi, Rendi kali ini hanya gelang-gelang saja.


"Aku nanya nih, kok kamu senyum-senyum sendiri?" Kali ini Tensi benar-benar naik.


"Beb, setiap orang di ciptakan di muka bumi dengan memiliki akal pikiran dan hati nurani, aku hanya tersenyum untuk mengikuti kata hatiku yang meminta ku untuk tetap tersenyum." Mendengar hak itu Rendi malah sibuk melirik ke sana kemari.

__ADS_1


Kali ini Cindi yang kesal akibat ulah Rendi seperti sengaja untuk tidak mendengarkan apa yang dia katakan olehnya jadi dia lebih memilih untuk diam saja tanpa ngomong lagi. Selesai makan Rendi membantunya membersihkan meja, Setelah itu dia naik ke kamar untuk mengambil tas kantor yang isinya itu data-data penting dan flashdisk yang berisi data-data penting.


Tanpa menyapa Cindi Rendi lebih memilih untuk pergi, tapi tiba-tiba Cindi menyadarinya dia langsung mencuci tangan nya dan langsung pergi ke arah Rendi. Rendi hanya mengangkat alisnya tanda heran, tiba-tiba Cindi mengambil tangan Rendi dan mencium punggung tangan itu.


"Maaf, aku hanya ingin menjadi istri yang baik saja kamu jangan marah lagi. aku hanya masih syok dengan keadaan..." Belum selesai Cindi ngomong Rendi mengangguk dan pergi meninggalkan rumah tanpa ngomong pamit.


"Rendi," Panggil Cindi. Rendi langsung membalikkan tubuhnya.


"Ada apa?" Tanya Rendi heran.


"Aku cuma mau bilang kamu hati-hati yah," Nasehat Cindi padahal dia sangat ingin menanyakan banyak hal dengan nya akan tetapi dia hanya bisa ngomong satu kata saja.


Rendi hanya mengangguk, tanpa tersenyum sedikit pun dia malah lebih memilih pergi dari hadapan cindi. Cindi hanya tersenyum saat melihat mobil itu melaju pergi meninggalkan tempat itu, dia lalu masuk ke dapur lagi untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dapur.


Setelah selesai mengerjakan semuanya Cindi keluar di ruang tamu dengan membawah lap di tangan nya, dia hanya ingin membersihkan beberapa debu yang lengket di sofa dan lemari buku itu.


Setelah selesai dia lalu naik ke kamar nya untuk istirahat sejenak, sebentar siang dia akan cake up jadi dia lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya biar tidak kecapean. Niat istirahat di pukul 10:00 pagi malah membuatnya malah tertidur lelap.


Sekarang dia benar-benar sudah tepar terlihat di dahinya sudah tidak keringatan lagi. Padahal dia di suruh istirahat tapi dia malah memilih untuk bekerja, kalau mau ambil pembantu kayaknya itu bisa membantunya tapi untuk saat ini Cindi belum kepikiran ke situ, mungkin dia akan ambil pembantu kalau dia sudah sering terapi nanti nya.


Lagian dia masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah jadi lebih memilih untuk mengerjakan nya. Padahal di rumah nya sendiri dia punya pembantu untuk membantu ibunya agar tidak kewalahan dan kecapean.

__ADS_1


...🐼🐼🐼...


__ADS_2