
Meliah kejadian barusan membuat dia syok dan kaget, mana dia bukan ahli dalam ilmu medis. Ternyata penyakit nya kumat dada cindi semakin terasa sakit dan sesak.
"Cindi, Cindi, kamu kenapa?" Tanya rendi kaget dia langsung pamit saat melihat tubuh itu terlihat lemas.
"Rendi kita bisa gak malam ini jangan ikut ke pesta, aku lagi gak enak badan." Ucap Cindi, Rendi langsung menggendong tubuh cindi ke tempat tidur.
"Iya, iya, nanti aku kasih tau papa kalau kita tidka bisa ikut." Ucap Rendi.
"Sayang jangan bilang ke mereka kalau aku sakit, bilang saja aku sedang banyak kerjaan." Ucap Cindi.
"Iya, iya, kamu sudah minum obat?" Tanya Rendi, Cindi menggelengkan kepala.
"Sudah tau sakit kok tidak minum obat, obatnya di mana nanti aku ambilkan." Ujar Rendi.
"Di dalam laci meja," Ucap cindi sambil menunjukkan laci meja sebelah kiri Rendi.
"Tunggu aku ambilkan," Rendi lalu membuka laci meja, dan menuangkan air minum yang terletak di atas meja.
"Berapa biji," Ucap Rendi.
"Dua biji, yang satunya satu biji." Rendi kaget melihat obat cindi berbeda dari obat lainnya.
"Kamu tidak salah minum obat kan?" Tanya Rendi.
"Itu obatnya benar," Ucap Cindi sambil tersenyum rendi hanya mengangguk saja dan tidak mempermasalahkan lagi. Cindi kali ini malah tertidur di atas kasur itu, Rendi langsung keluar ruangan dan menelpon papanya.
Tuut..... tuut..... tuuuut....
"Assalamualaikum bu," ucap rendi.
"Iya ada apa nak?" jawab ibu hajra.
"Maaf bu, kayaknya kami tidak bisa pergi cindi kecapean aku tidak mungkin kan tinggalin dia." Ucap Rendi, mendengar hal itu ibunya hanya tersenyum.
"Ohhh iya gak papa nanti aku suruh pak budi aja bawah kan makanan ke sana." Ujar Hajra.
"Kok bawah makanan ke sini bu?" Tanya Rendi.
__ADS_1
"Nak, kamu pasti rindu kan masakan ibu jadi ibu akan bawahin yah terimah yah nak." Hajra merasa sedih jika rendi akan menolak nya.
"Ya udah bu, rendi terimah deh tawaran ibu lagian kan aku benar-benar rindu masakan ibu, pengen meluk ibu." Ucap Rendi.
"Aduuuh, ada-ada saja anakku ku yang satu ini." Ucap Hajra sambil tersenyum-senyum.
"Iya dong ma, ya udah ma aku matiin yah sehat selalu buat orang di rumah." Ucap Rendi.
"Iya sayang, salam yah sama istrimu." Ucap hajra.
"Iya bu, ya udah bu aku tutup nih assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," Telepon di tutup, Rendi rencana nya mau beli makanan malah tidak jadi karena ada rezeki dari ibunya.
"Yah gak papa lah, lagian ibu sedih kalau ku tolak pemberian nya." ujar Rendi sambil berlalu kembali ke dalam kamar. Karena gak tau mau berbuat apa akhirnya rendi memutuskan untuk mengerjakan beberapa proposal untuk persiapan besok.
Tak selang beberapa beberapa menit dia duduk suara klakson mobil terdengar dari depan rumah, dia mengintip nya dari celah jendela terlihat di bawah. dia langsung menghentikan aktivitas nya dan berlari kecil keluar kamar.
Cekrek... suara pintu terbuka terlihat di dalam mobil ada pak budi yang sedang tersenyum ramah ke arah nya.
"Ohhh iya pak, bapak mau masuk dulu nanti saya buatkan kopi atau teh." Ucap Rendi.
"Gak usah nak Rendi ini lagi buru-buru mau balik nanti di cariin sama tuan rumah." Ucap Pak budi menolak halus.
"Ohhhh, okey pak salam yah sama keluarga kalau bapak sampai. katakan mohon maaf sebesarnya karena berhalangan datang." Ucap Rendi, mendengar hal itu Pak budi hanya tersenyum ramah.
"Iya nak rendi, nanti saya sampaikan pesan nak rendi. Kalau begitu saya pamit dulu, nanti di cari sama pak direktur." Pamit pak budi, Rendi tersenyum ramah dan mengangguk pelan, mobil itu melaju pergi ke jalan raya besar.
...🐼🐼🐼...
Rendi masuk kembali ke dalam rumah dengan mengunci kembali pintu. Makanan itu lalu di bawah ke dapur, emang rasanya makanan nya masih terasa hangat.
"Ya ampun ibu, semoga aku tidak merepotkan orang-orang yang ada di rumah." Batin nya dalam hati. makanan itu lalu di pindahkan di piring dan mangkok, Rendi lalu membagikan makanan itu menjadi dua porsi yang lebihnya di biarkan di meja dengan tertutup.
Makanan dua porsi itu lalu di simpan di nampan lalu di bawah naik ke kamar, dia tidak tau apa yang barusan dia lakukan dia hanya mengikuti hati nuraninya. Tidak biasanya dia seperti ini, tapi karena merasa iba dengan cindi jadi dia harus membantunya.
Saat membuka kamar di liatnya Cindi sekarang semakin pucat, Rendi hanya bisa terdiam. Mungkin Cindi benar dia harus memanggil pembantu rumah tangga untuk membantu nya.
__ADS_1
"Bangun makan dulu," Ucap rendi membangunkan cindi, Mendengar ada yang membangunkan nya cindi langsung membuka mata. Benar saja sekarang Rendi ada di depan nya dengan membawah dua porsi makanan di nampan.
"Aduuh aku kok pusing yah," Ucap Cindi sambil memegang kepalanya.
"Mungkin kamu kecapean, besok saya akan panggil salah satu pekerja rumah ibu buat temenin kamu yah." Ucap Rendi.
"Tapi ibu bagaimana?" Tanya Cindi.
"Nanti aku bicara sama ibu, lagian kan kalau satunya buat temenin kamu masih ada dua yang bantuin ibu." Jelas Rendi.
"Iya," kali ini Cindi hanya bisa menurut saja dia tidak bisa membantah ataupun banyak bercanda saat ini kondisinya benar-benar parah.
Rendi terpaksa harus menyuapinya meski sebenarnya dia juga sedang lapar, saat sendok kedua masuk ke dalam mulut tiba-tiba ada yang berbunyi.
Kroook, krook, krokkk.... Suara perut itu berbunyi berulang kali. Cindi saat itu rasanya ingin ketawa tapi hanya bisa menahan nya.
Kroook, Krook, Krookk... Lagi-lagi suara perutnya berbunyi lagi, cindi kali ini langsung memukul dahinya dengan tangan kanan karena tak tahan menahan perut.
"Hahahahha... Tuh perut minta di isi sayang." Ucap Cindi sambil tertawa padahal kan dia sambil makan.
"Oh bunyi yah aku gak denger." Ucap rendi sambil pura-pura gak tau.
"mana ada gak denger, orang itu perut mu." Ucap Cindi sambil menujuk perut Rendi.
"Gak ih kamu mengada-ngada aja, lanjut makan jangan ngomong." Ucap rendi, Cindi akhirnya tetap memilih diam.
"Kroook, kroook, krookkk......" Lagi-lagi cindi mendengar nya tapi rendi berusaha baik-baik saja.
"Sini makanan nya," Ucap Cindi sambil mengambil makanan di tangan rendi.
"Buka mulut yah, biar aku suapin." Ucap Cindi dan memang dia juga sekarang merasa kenyang, rendi aja ambil nasinya pake porsi laki-laki. Rendi hanya bisa nurut aja, dia membuka mulutnya.
"A... Ak...." Ucap Cindi seakan menyuruh rendi membuka mulut, mendengar hal itu alis rendi berulang kali terangkat satu.
"Hahahahha, jangan gitu ih terlalu tampan sih." Ucap Cindi. Rendi lagi-lagi hanya mengangkat alisnya satu tanpa mengeluarkan suara.
...🐼🐼🐼...
__ADS_1