
Pagi-pagi Cindi sudah menyiapkan semua persiapan untuk pergi kerja, dia juga sudah merasa baikan habis istirahat satu harian. dengan menghirup napas dalam-dalam cindi berdoa dalam hatinya.
Di meja makan, keluarganya sudah menantinya untuk sarapan pagi. Anisa bahkan sudah duduk di meja, dengan mengigit roti masuk ke mulutnya. Cindi melewati anisa sengaja mencubit pipi nya, hal itu membuat Anisa marah dan ngambek.
"Ibu, kakak cindi cubit pipi anisa." Anisa mulai ngambek.
"Kok ngambek sayang, kakak Cindi kan cuma cubit saja." ujar Ibunya.
"Tapi, Tapi, cakit di cubit." Anisa mulai menangis. Cindi bahkan tidak sadar kalau dia Mencubit. pipi adiknya yang tembem itu terlalu keras.
Cindi yang melihat adiknya mulai menangis jadi tidak enak, walaupun dia merasa lucu juga. yah di video lah adiknya yang nangis lalu di tanya kenapa nangis.
"Sayang kok nangis kak Cindi kan cubit nya pelan.
"Kakak Cindi, cubit nya kelas jadi cakit. sambil mengucek matanya.
"Sayang sudah nangisnya, kan mau ke sekolah." kata papa.
Cindi menjadikan status WA Video adiknya lalu meminta maaf kepada Anisa.
"Aduuh adekku sayang jadi nangis sebentar kakak belikan boneka deh. mendengar hal itu Anisa langsung berhenti menangis.
"Kakak benaran mau belikan Anisa boneka?"
"Iya dong sayang masa kakak bohong, kalau begitu lanjutkan makannya sayang." semua di meja makan hanya tertawa mendengar Anisa berhenti nangis.
Setelah sarapan pagi seperti biasanya papa akan mengantar Anisa ke sekolah dan mengantar Cindi ke kantor.
"Dah mama," Teriak Anisa.
"Dah sayang," Ucap Ibu.
Cindi mendekati ibunya untuk meminta doa restunya agar di berkati semua pekerjaan di kantor. "Ma Cindi pergi dulu, aku minta doa restunya." Ujar cindi ke ibu, dia lalu mencium punggung tangan ibu.
...🐼🐼🐼...
Cindi berjalan dengan santai menuju ke ruang kantor, di jalan dia bertemu bayu.
"Hai sayang, kamu kemana saja kemarin?"
"Kemarin aku ke rumah sakit."
"Oooh, katanya kamu sakit tapi aku tidak yakin jadi ingin ku tanya langsung denganmu.
__ADS_1
"Iya aku sakit, sayang dua hari yang lalu kamu kemana?" tanya Cindi.
"Aku ada urusan diluar." Ucap Bayu berbohong, padahal kemarin dia bermalam di villa bersama pacar keduanya.
"Aku masuk duluan yah! Cindi berlalu dari hadapan Bayu, sebenarnya dia mulai curiga entah kenapa dia mulai bosan dengan sikap Bayu. padahal dia sudah pacaran hampir satu tahun, entahlah rasanya semua seperti berbeda bagi Cindi seperti Bayu berusaha menyembunyikan sesuatu dari nya.
aduuh aku tidak boleh banyak pikiran, semoga saja Bayu berkata benar.
Cindi masuk ke dalam kantor, di kantor semua orang menceritakan anak direktur CEO baru kantor ini. Cindi semakin penasaran siapa yang mereka cerita, setelah lama berfikir akhirnya dia memberanikan diri bertanya.
" Kak Lina apakah benar pak direktur utama di gantikan dengan anaknya?"
"Iya, kemarin pak direktur utama mengumumkan kepada kami semua di ruang kumpul."
"Oooh, tapi siapa yah nama pria itu kak?" tanya Cindi lagi, dia benar-benar hanya ingin tau siapa pria itu.
"Namanya Rendi sayang, kamu kok kepo yah?" Ledek Lina tapi Cindi hanya terdiam.
Apakah dia beneran CEO di kantor ini, pikir Cindi heran.
Lina berjalan keluar membawah laporan di tangannya, Cindi mengejar Lina dan bertanya.
"Kak Lina..." teriak Cindi.
"Laporannya mau di bawah kemana?" tanya Cindi.
"Ohh laporan ini, aku mau membawanya ke ruang pak direktur." kata Lina.
"Biar aku saja kak, kayaknya aku juga akan ke kamar mandi setelahnya."
"Oh oooh iya, ini nak?" kak Linda lalu menyerahkan laporan yang di pegang ya ke Cindi tanpa ragu.
"Makasih yah sudah banyak membentuk kakak."
"Iya kak tidak masalah kok." mendengar hal itu Lina hanya tersenyum dan memukul pundak cindi pelan.
Cindi berjalan menuju lift, dia masuk ke dalam lift dan memencet lantai atas.
Semoga saja aku tidak kaget jika kak Lina benar, yah aku hanya heran saja.
Cindi sudah sampai di lantai atas, dia lalu membawa laporan di tangannya ke ruang pak direktur utama.
Cindi mengetok pintu sebelum masuk.
__ADS_1
Tok tok tok, kok tidak ada jawaban. tanya nya dalam hati.
Tok tok." setelah lama menunggu pak direktur membuka pintu.
"Cindi, ya ampun nak ku pikir kamu sakit." pak direktur mengkhawatirkan keadaan Cindi.
"Oooh kemarin Cindi hanya merasa kecapean kok pak."
"Ooooh, silahkan masuk." Pak direktur mengizinkan Cindi masuk.
Di dalam Cindi memutar-mutar kepalanya seperti mencari seseorang. pak direktur binggung di buatnya.
"Nak Cindi cari siapa? tanya pak direktur. di meja kerja Rendi mendengar ada orang yang datang, tapi berusaha untuk terlihat santai.
"Ooh tidak kok pak, aku hanya kagum dengan desain ruangan ini." Ucap Cindi berharap pak direktur tidak curiga dengan sikapnya.
Cindi menyimpan berkas itu di meja, di meja ada pria yang dari tadi tunduk, sibuk mengerjakan laporan. Wajahnya ditutupi oleh rambutnya yang jatuh di dahinya.
Cindi berusaha untuk melihat wajahnya tapi dia tidak berhasil, Cindi menundukkan kepalanya ingin melihat wajah itu tapi sama saja dia tidak berhasil. Cindi lalu menghela napas kesal, pak direktur utama yang melihat sikap keanehan Cindi dari tadi tertawa.
"Dia Rendi nak Cindi, apa nak Cindi ada janji dengan nya?" pak direktur pura-pura bertanya, perkataan pak direktur hampir membuat Cindi melompat kaget.
Rendi yang mendengar ayahnya bicara omong kosong lalu menoleh melihat ke arah Cindi. di terus menatap gadis itu dari kepala sampai pinggang.
tidak ada yang menarik dia terlihat biasa saja, bisiknya dalam hati. Cindi yang melihat tingkah tingkah Rendi jadi bingung sendiri.
"Ehhhhhm, pak direktur maaf kan aku menggangu kerja kalian, kalau begitu aku keluar dulu yah?" Cindi meminta izin berharap pak direktur tidak akan menahannya.
Ooh tuhan, dia beneran anak angkuh itu, aduh kalau pak direktur menyuruhku tinggal di dalam dulu bagaimana, orangnya aneh lagi.
"Nak, kamu temani bapak duduk di sofa bapak mau ngobrol." Ucap Pak Direktur.
"Aduuuh Pak aku di bawah belum mengerjakan" belum selesai Cindi bicara pak direktur sudah menaikkan tangannya.
"Pekerjaan nya nanti bisa di selesaikan, ayo duduk." Pak Direktur menyuruh Cindi duduk di depannya, Cindi hanya bisa mengangguk dan pasrah.
"Nak Cindi bapak ini kan sudah tua, di kantor ini bapak belum pernah ketemu kariawan yang benar-benar baik dan sangat pengertian." Ucap Pak Direktur memujinya.
"Wah, Cindi tidak seperti yang bapak kira.
Di kejauhan Rendi hanya sibuk dengan tugas laporan dia sama sekali tidak peduli dengan yang lainnya.
...🐼🐼🐼...
__ADS_1