CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Kejailan Reno


__ADS_3

Kantin hari ini benar-benar sangat rameh sampai harus berdesak-desakan. karena memang tadi ada meeting jadi kantin begitu ramai. Rendi, pak direktur, dan reno, terpaksa harus memesan makanan saja. Tempat juga sudah full mau tidak mau mereka harus naik kembali ke atas ruangan.


Saat memesan makanan tiba-tiba ada yang menawari mereka untuk duduk tapi mereka lebih memilih untuk makan di atas.


"Permisi kalian duduk di sini saja," Ucap salah satu pelanggan yang ada di kantin.


"Gak usah kalian duduk saja kami akan naik ke atas lagi." ucap pak direktur tersenyum ramah. kariawan itu lalu kembali ke tempat duduknya dan memberi tau teman nya yang sama-sama duduk bersama nya.


Pak direktur sempat berbalik ke arah mereka sambil melemparkan senyumnya, tanda dari pak direktur kalau mereka tidak perluh khawatir.


Para kariawan itu balik membalas senyum pak direktur, mereka semua memang sudah terbiasa dengan kebaikan pak direktur.


Setelah memesan makan siang mereka kembali naik ke atas, di lift lagi-lagi rendi diusili sama kakak nya.


Krook, krook krook, suara perut berbunyi tiba mengejutkan semua nya. Tiba-tiba saja pak direktur dan reno saling berdehem.


"Ehmm, kayaknya ada suara perut yang berbunyi nih, Itu suara perut siapa yah?" Tanya Reno sengaja memancing rendi yang lagi asik-asiknya bermain dengan pikiran nya. Lamunan nya tiba-tiba buyar saat sadar diledekin sama kakaknya, padahal dia sudah berusaha untuk menutup rasa laparnya tapi cacingnya juga tidak bisa di atur.


"Ehmm, itu perut siapa yah." ucap rendi balik. semua yang ada di lift saling bertatapan, gimana mungkin itu bukan perut rendi jelas-jelas kan bunyinya menuju ke perut rendi.


"Hahahaha, ngaco itu perutmu lah mana mungkin perut kakak." Reno mengelak, Rendi hanya menggaruk-garuk keningnya.


Mereka sampai di lantai atas, saat membuka pintu kantor terlihat seorang wanita di kursi kantor sedang membaca data yang ada di meja. Hal itu sontak saja membuat mereka menaruh kecurigaan kepada wanita itu.


"Siapa itu? sepertinya dia seorang wanita." ucap reno kaget saat melihat ada cewek duduk di kursi kantor, wajah nya di tutupi jadi tidak kelihatan.


"Apa lina," tebak rendi.


"Lina, kalau lina dia akan sadar dengan kehadiran kita ini dia malah tidak bergerak-gerak." Ucap reno.

__ADS_1


"Ihhh, papa kok langsung merinding yah." Ucap pak direktur.


"Ish papa nakutin aja, ayo kita lihat bersama." Ucap rendi, rendi dan reno lalu mendekati meja. saat gadis itu sadar ada yang mendekat dia berniat mengejutkan mereka.


"Satu dua tiga, Ha......" Ucap wanita itu yabg tak lain lina.


"Ahhhhh," Reno dan rendi terkejut sontak saja teriak, pak direktur yang sudah dari tadi duduk di sofa ikutan terkejut.


"Hahahhaa, Kalian dari mana aku dari tadi tungguin loh." ucap Lina sambil tertawa terbahak-bahak. Pak direktur yang ada di sofa hampir saja syok mendengar ketiga anaknya..


"Ehmm, dari pada kalian sibuk bercanda aini makan ini papa sudah siapin." Panggil pak direktur kepada ketiga anaknya.


"Yes akhirnya kita bisa makan bersama lagi..." Muka bahagia lina tiba-tiba berubah ketika sadar ada yang kurang dari mereka.


"Ada apa mba?" Tanya rendi saat melihat wajah kakanya langsung berubah.


"Gak papa kok, aku cuma teringat sama Cindi saja." Ucap Lina sambil berusaha tersenyum, kali ini rendi ikutan tersenyum paksa. jika kakanya tau kalau cindi lagi sakit entah apa yang terjadi.


"Iya pak, semalam dia kecapean makanya aku suruh bibi ikut di aku satu orang biar dia itu tidak kerja sendirian di rumah." Nasehat Rendi, mendengar hal itu mereka saling tersenyum-senyum satu sama lain.


Kali ini rendi malah semakin heran, ada apa dengan mereka rendi tidak tau. Lagi-lagi perutnya berbunyi, panggilan alam untuk makan siang sudah tiba.


"Kayaknya panggilan alam datang lagi, makan yuk aku sudah lapar nih." Ucap rendi sambil mendahului mereka ke meja. Terlihat di meja banyak makanan yang sudah di atur papanya.


Mereka lalu duduk di kursi sofa itu untuk makan siang, mereka makan tanpa bersuara. makan tanpa bersuara membuat suasana terasa begitu hening.


"Ehmmmm makanan nya sumpah enak banget." ucap Reno tak sadar sambil mengunya makanan itu.


"Ehmm," Tegur pak direktur, menyadari kesalahan nya reno hanya tersenyum saja.

__ADS_1


"Lupa pak, Upsss." Lagi-lagi reno mengeluarkan suara saat makan, dia kali ini hanya tersenyum jail. Pak direktur hanya menggeleng-gelengkan kepala saja, lalu melanjutkan makan nya.


Selesai makan rendi kembali ke meja kerja dan papanya memilih untuk duduk di sofa, sedangkan reno membantu lina bersih-bersih.


selesai bersih-bersih cindi dan reno pamitan ke papanya untuk turun kembali ke ruang kantor.


"Pa aku pamit yah, di bawah masih ada pekerjaan yang belum selesai." pamit Lina.


"Pa aku juga pamit yah, banyak kerja juga nih." pamit reno.


"Ya udah kalian turun aja, lagian kan ada rendi yang jagain papi." ucap Pak direktur, terlihat rendi mengangkat satu alisnya. Dia kebingungan, tapi dia iyakan saja apa yang barusan papanya katakan.


lina dan reno memasuki lift itu, di dalam ruangan papanya malah memilih untuk membaca koran yang ada di atas meja. Rendi tetap fokus mengerjakan laporan.


Pukul 03:00 Waktunya para kariawan kantor pulang kecuali kalau ada yang memilih untuk lembur. Rendi dan papanya turun ke bawah, terlihat masih banyak kariawan yang belum pulang karena lembur.


"Pak banyak yang lembur yah." Ucap Rendi kepada papanya.


"Iya, kamu langsung pulang ke rumahmu?" Tanya papanya.


"Iya pak," Terlihat pak budi membukakan pintu mobil buat pak direktur.


"Ya ampun budi saya sudah bilang kita itu sahabat, jangan membuatku merasa tidak enak." Ucap Pak direktur dengan rendah hati.


"Tidak apa-apa pak, selama ini kan bapak yang membantu keluarga kami anggap saja ucapan selamat untuk kami." Ucap pak budi dengan suara yang lembut dan ramah.


"Iya, lain kali anggap aku sebagai saudara mu yah, kita kan sahabat sekaligus saudara." Ucap pak direktur sambil memukul pelan pundak pak budi. Terlihat pak budi tersenyum ramah dan menjabat tangan sahabat nya. Persahabatan yang berjalan sejak mereka kecil sampai sekarang.


Mereka tidak bisa berpisah satu sama lain, jika pak budi pergi maka akan di cari sama pak direktur. Begitupun sebaliknya jika pak direktur tidak ada maka dia akan mencarinya, meski dia sama kampung tapi pak budi selalu main ke rumah pak direktur sampai akhirnya dijadikan anak angkat oleh papanya pak direktur.

__ADS_1


...🐼🐼🐼...


__ADS_2