
Setelah menunggu hampir setengah jam lebih Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga. Mobil di luar ada yang sengaja membuat langkah Cindi ingin beranjak dari kursi duduknya.
"Bu kayaknya Rendi sudah datang deh, aku duluan dulu yah." Ucap Cindi sambil mencium tangan ibunya.
"Iya sayang hati-hari yah, salam ibu sama rendi." Ucap Wina.
"Siap deh bu," Cindi keluar dari rumah itu untuk melihat nya, benar saja si wajah tampan yang cuek itu sudah ada di dalam mobil menatapnya tampan senyum.
"Ehmmm, beb senyum dong." Tegur Cindi lalu masuk ke dalam mobil. Rendi tidak menghiraukan kata-kata Cindi yang sengaja membuatnya ingin marah.
Mobil itu melaju pergi tanpa ada suara dari sang pemilik mobil, Cindi ikutan canggung dengan situasi itu.
"Ehmm, Pak mau ngobrol? kalau mau ngobrol ayo." Tanya Cindi, dia seperti nya tidak sabaran ingin berbicara.
ehhh," Rendi hanya menjawabnya satu kata padahal Cindi ngomongnya banyak.
"Bapak aku ini masih kariawan bapak, jadi bapak harus menjawab pertanyaan aku.
"Ehhh," Lagi-lagi Rendi menjawabnya dengan satu kata, cindi sontak menjadi sebal di buatnya.
"Yaudah aku saja yang bicara, Jadi gini aku paling suka sama pria yang cuek karena keren tapi aku tidak suka cowok yang super-super genit dan suka menggombal wanita apalagi suka baperin anak orang habis itu ngilang deh kayak jalangkung, menurut bapak gimana?." Perkataan Cindi barusan membuat Rendi harus menelan air liur.
"ehhh," Lagi-lagi rendi menjawabnya satu kata.
"Aku paling suka cowok gagah yang murah senyum dan baik hati di bandingkan cowok tampan tapi dia tidak peduli dengan orang di sekelilingnya dan angkuh." Ucap Cindi lagi, Tapi kali ini Rendi hanya berbalik menatapnya dan kembali menyetir.
"Ehh, pertama bertemu bapak aku sangat suka sama sikap cueknya tapi tidak suka samaa." Belum selesai Cindi melanjutkan perkataan nya Rendi sudah menaikan satu alis nya tanda kesal nya.
"Enggak kok pa, bapak sangat baik kok," Ucap Cindi balik memujinya kali ini alis Rendi langsung naik satu.
Dasar perempuan aneh, bagaimana mungkin bapak bilang dia sopan. Padahal sama bos kantornya saja dia berani buka-bukaan.
"Pasti bapak kira aku ini perempuan aneh, aku tidak aneh aku hanya sedikit menghibur. Harusnya bapak tau satu hal ini deh, orang yang banyak bicara sebenarnya adalah orang yang sangat pendiam, orang yang suka ketawa sebenarnya orang yang sangat menyedihkan, dan orang yang jarang tersenyum bisa jadi dia orang yang sangat ramah." Perkataan Cindi kali ini bisa di benar kan oleh Rendi, tapi yang membuat nya kaget dari mana Cindi tau kalau dia ngomong dalam hati dan menghujatnya.
"Ya ampun nih calon ku kebanyakan mikir, kita mau ke mana?" Tanya Cindi lagi.
__ADS_1
"Ehhh," Lagi-lagi dia ngejawab satu kata.
"Ya udah kalau tidak mau di jawab, pak kok sikap bapak berbeda yah sekarang tidak kayak biasanya suka ngerjain aku." Ucap Cindi, pertanyaan Cindi binggung mau di jawab apa dengan nya jadi rendi hanya fokus menyetir saja.
Karena pertanyaan nya dari tadi cuma di jawab satu kata, akhirnya cindi memutuskan untuk diam dan tidak berbicara lagi. sepanjang perjalanan ini dia tidak bicara lagi.
"Kamu mau ke toko baju mana?" Tanya Rendi.
"Ehhh, Jawab Cindi.
"Kamu mau ke toko baju mana?" Tanya Rendi kesal.
"Ehhh," Lagi-lagi Cindi malas menjawabnya.
"Ya udah kita ke tokoh baju pesta di depan sana."
"Ehhhh," Kali ini rendi yang kesal, dia di mobil jadi semakin kesal saja.
"Kamu di tanya bukan nya jawab iya malah jawab ehhh." Bentak Rendi.
"Gitu aja ngambek," Ledek Rendi.
"Ehhh," Kesal Cindi.
...🐼🐼🐼...
Mereka turun di salah satu toko baju yang menjual baju untuk pengantin, Cindi hanya bisa mengekor dari belakang Rendi. Saat masuk ke dalam tokoh Cindi langsung pergi dari hadapan Rendi dan memilih-milih pilihan nya sendiri. Rendi hanya menggeleng-geleng saja.
Cindi memilih-milih gaun pengantin, Sudah hampir setengah jam dia keliling-keliling tapi dia bingung mau pilih yang mana.
"Bagusnya yang mana yah, aku kok langsung bingung." Cindi berbicara sendiri, sampai sang kasir menghampiri dirinya.
"Mau pilih yang mana mba?" Tanya kasir.
"Tunggu yah mba aku tanya dia dulu." Ucap Cindi sambil menunjuk Rendi yang sibuk memilih jas yang bagus.
__ADS_1
"Hai beb, aku bagusnya pake yang mana yah?" Tanya Cindi kepada Rendi tapi Rendi hanya menatapnya heran sambil kembali sibuk memilih-milih untuk dirinya sendiri.
"Ya allah aku kok bisa yah mau ngomong sama batu bata." Ucap Cindi kesal dan membalikkan badan nya dengan kesal. Rendi malah tidak peduli dia hanya menggerutu dalam hatinya kesal.
"Dasar cewek aneh, makin aneh saja dia." Kesal Rendi.
"Aku telpon ibu aja deh," ucap nya, dia lalu mengambil handphone nya dari dalam tas dan menelpon ibunya.
Dringggg, driinggg, dringgg. Suara telpon berbunyi di meja ruang tamu, wina yang berada di dapur lalu berjalan ke ruang tamu. Dia mengangkat telpon lalu berbicara dengan seseorang dia dalam telpon.
"Halo ini dengan siapa?" Tanya wina dari dalam telepon.
"Ini aku bu, mau video call nih." Ucap Cindi kepada ibunya.
"Video call untuk apa sayang?" Tanya Wina.
"Gak kok cuman mau minta pendapat ibu saja tentang baju nya." Ucap Cindi kepada Wina.
"Ohhh, yah boleh lah tunggu aku ambil handphone dulu yah sayang. Soalnya ini mama lagi masak juga nih di dapur." jelas Wina.
"Ya ampun, bibi mana bu?" Tanya Cindi.
"Bibi lagi ajakin Annisa ke Indomaret katanya mau beli es crim." Ucap wina.
"Ohhh, ya udah ibu masak aja, aku telpon ibu Hajra aja atau mba lina siapa tau mereka mau bantu untuk milih." Cindi memberi saran kepada ibunya.
"Iya takutnya masakan ibu hangus nih, ibu tutup dulu telpon nya kamu lanjut deh milih nya." Nasehat wina lalu menutup telpon.
Wina kembali ke dapur, untung sayur sama ikan yang di gorengnya tidak gosong. Wina hanya bisa mengusap dada tanda bahagia dan syukur.
Di toko Cindi menelpon Ibu hajra, kali ini rendi hanya geleng-geleng saja melihat nya.
Dasar yah wanita Ribet banget hidupnya, gitu aja rompa banget sih. Kalau bisa sih lebih baik aja gak usah repot-repot, pilih saja sendiri. Dari tadi Rendi tidak henti-henti nya ngebacot dalam hati tanda kesal.
...🐼🐼🐼...
__ADS_1