
Pagi pukul 05.00 Lina, nek Salimah, ibu Wina, dan ibu Hajra sudah terlihat bergabung ke dapur untuk menyiapkan makanan pagi. Terlihat di kulkas bahan makanan nenek sudah kurang Hajra dan Wina berencana akan ke pasar setelah makan pagi.
"Nek seperti nya bahan makanan nenek sudah mau habis, aku dan Wina akan ke pasar sebentar yah nek." Ucap ibu Hajra kepada nek Salimah.
"Kalian mau ke pasar, apakah tidak keberatan?" Tanya nenek khawatir jika menyusahkan mereka.
"Loh tidak dong nek, nenek dan yang lainnya duluan saja ke sawah sebentar pulang dari pasar kami akan nyusul. Apakah bisa nek naik mobil ke pasar, pasarnya kan sempit. Ucap Wina teringat pasar beberapa tahun yang lalu masih sempit.
"Bisa sekarang sudah ada parkiran mobil untuk para pengendara tapi di sana kalian harus jalan kaki untuk masuk ke dalam pasar, jika kalian kewalahan membawah belanjaan suruh saja tukang sayur nya membantu kalian sebentar tinggal kalian kasih upah saja." ajar nek Salimah kepada Wina dan Hajra.
"Okay deh." Ucap Hajra.
Terdengar di dapur sangat ribut karena ada empat orang yang masak di dapur dan semua nya adalah ahli masak. "Eh Lina anak kamu kok pendiam yah?" Tanya Wina kepada Lina.
"Entahlah Bu, akhir-akhir ini dia pendiam mungkin dia belum terlalu akrab sama kalian." ucap Lina.
"Ganteng loh anaknya, namanya siapa nak? tanya Wina.
"Abiandri canda Winata, kami memanggilnya Abi." Terdengar seorang anak kecil berlari mendekati ibunya di dapur.
"Ibu Abi haus," Abi mendekati ibunya sambil merengek-rengek di ambilkan air minum.
"Ehhh, anak ganteng ibu datang," Wina mendekati Abi, anak kecil itu hanya tersenyum saja. Lina mengambil air minum di meja dan mendudukkan putranya di kursi.
"Ini sayang duduk yah," mendengar perkataan ibunya Abi hanya mengangguk saja.
"Sudah umur berapa Lina?" Tanya Wina lagi.
"Sudah masuk lima tahun Bu, baru mau masuk TK tahun ini." Ucap Lina dengan tersenyum, terlihat anak tampan itu mencium pipi ibunya.
__ADS_1
"Telima Kasih ibu, ummah." Anak kecil itu berlari kembali masuk ke kamar tidur dan berbaring kembali di samping papanya.
"Ganteng sekali dia mirip sama papa dan Ibunya." Mendengar hal itu Lina hanya senyum-senyum saja.
"Namanya juga jodoh Bu, pasti mirip mukanya." Ibu Hajra menimpali perkataan Wina.
"Iya, memang jodoh itu ada kemiripan antara satu dan yang lainnya padahal tidak ada hubungan keluarga antara mereka, tapi karena sudah takdir mereka mirip maka itulah yang membuat mereka saling menyempurnakan satu sama lain." nek Salimah tiba-tiba bersuara.
"Wah berarti nek Salimah mirip dong sama almarhum." gombal ibu Hajra.
"Yah mirip, dia sudah meninggal dua tahun yang lalu selama dia meninggal anak bungsuku lah yang merawat nenek di kampung, ibunya Siska Windi karena Wina tinggal di kota karena suaminya kerja di kota." Nek Salimah begitu terharu mengingat kebaikan hati anak sulungnya.
"Anak nenek berapa?" Tanya Lina
"Anak nenek ada tiga, yang satunya sekolah di Jerman namanya Reynal dia melanjutkan S2 nya di Jerman." Mendengar hal itu Lina kaget dia tidak menyangkah kalau nek Salimah punya anak yang sekolah di luar negeri.
"Wah hebat, nek aku benar-benar kaget loh dengernya pasti dia sangat pintar." Ucap Lina.
"Wah keren sekali tidak sabar ingin ketemu nek." Lina begitu histeris bahkan sampai memeluk nek Salimah.
...🐼🐼🐼...
Pagi pukul 06.00 Lina membangunkan semua orang yang tertidur dari mimpi mereka, sementara yang di dapur mengeluarkan beberapa nampan berisi makanan enak hasil tangan mereka para ibu-ibu.
"Woahhh, harum sekali." Rio langsung pergi mendekati nampan itu dan mengambil satu ayam goreng.
Pakk, suara pukulan melayang di tangan Rio tidak salah lagi itu Sinta dari belakang memukul tangan anaknya.
"Ibu... aku kan lapar." Kesal Rio dengan ibunya.
__ADS_1
"Cuci muka, cuci tangan, sikat gigi," Nasehat Sinta.
"Iya-iya, cuci muka cuci tangan sikat gigi apa gak ke balik yah harusnya sikat gigi cuci muka cuci tangan." ledek Rio ke ibunya sambil berjalan ke kamar mandi. Sinta hanya menggelangkan kepala mendengar perkataan anaknya yang suka membenarkan kesalahan ibunya.
"Rendi mendekati meja makan terlihat banyak makanan di meja dia juga berencana untuk mengambil satu makanan tapi kali ini Hajra memukul tangannya.
Pakk, Suara tangan di pukul terdengar di telinga Rendi. lagi-lagi dia Kena pukulan dari ibunya.
"Nak masuk ke kamar mandi dulu sikat gigimu cuci muka dan cuci tangan." Tegur Hajra ke Rendi, tanpa basa basi Rendi menuju kamar mandi.
"Rio terlihat tergopoh-gopoh pergi ke ruang tamu dia seperti nya takut kehabisan makanan. semua sudah melaksanakan seperti yang di katakan Hajra. Sebelum makan harus cuci tangan dulu dan jika bangun tidur harus sikat gigi dulu agar makanan sehat masuk ke mulut.
Ibu Hajra sangat terkenal akan kebersihan nya di rumah itu karena dia waktu kuliah ambil jurusan keperawatan jadi dia tau banyak hal tentang kebersihan, merawat luka, bahkan tentang beberapa penyakit. Tapi setelah menikah dengan pak direktur dia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga untuk mengurus anak-anak dan cucunya saja.
"Aku suka loh kalau lupa di ingatkan." Kata Cindi saat semua sedang bergiliran ambil makanan.
"Iya, ibu juga suka lupa akhir-akhir ini tapi karena ibu pernah sekolah di kesehatan jadi nya kebiasaan untuk di ajarkan hidup bersih." Ucap Hajra kepada yang lainnya.
"Dokter yah Bu." Tanya Cindi.
"Bukan, ibu dulu kuliah sempat ambil jurusan keperawatan bahkan sempat kerja di rumah sakit tapi saat menikah sama pak direktur ibu harus berhenti karena sibuk urusin anak dan memilih urusin anak dan cucu saja sekarang." mendengar hal itu Cindi begitu kagum.
"Wah Tante keren loh." Siska begitu mengagumi Hajra yang suka mengingatkan kebaikan itu.
"Karena semuanya sudah mencuci tangan sikat gigi dan cuci muka maka sekarang waktunya makan, baca doa dulu sebelum makan. mendengar hal itu semua membaca doa masing-masing.
Aamiin, mereka semua baru memulai makannya setelah baca doa, terlihat semua makan begitu lahap untung hari ini mereka masak yang banyak untuk penghabisan masakan di kulkas. Setelah makan mereka semua duduk-duduk di depan rumah dan ada juga yang berjalan pagi sebelum ke sawah.
Wina dan Hajra malah pergi ke pasar di temani oleh Reno, Setidaknya ada laki-laki yang mengangkat barang belanjaan mereka.
__ADS_1
...🐼🐼🐼...