
Cindi tidak tau mau bilang apa jika ibunya bertanya jadi dia hanya bisa memilih diam saja. tiba-tiba hal yang tak di inginkan benar-benar terjadi.
"Loh Annisa mana?" Tanya ibunya keheranan.
"Annisa lagi...." Cindi jadi bingung sendiri harus jawab apa, ibunya semakin keheranan melihat tingkah aneh Cindi dan papanya.
"Ibu nanya Annisa mana?" Tanya ibunya lagi, Tono semakin tidak enak dengan situasi seperti ini jadi dia memutuskan nya untuk memberi tau kan yang sebenarnya ke Istrinya nya.
"Cindi kayaknya ibu mu pantas mengetahui semuanya nak, beri tau ibumu Annisa sekarang ada di mana?" Ucap Tono kepada Cindi dengan memukul pundak anaknya pelan. Tono lalu masuk ke dalam, dia tidak ingin menyaksikan kejadian itu di depan matanya.
"Ibu... ibu yang sabar yah, Annisa gak ada di sekolahnya." Cindi menunduk dan memeluk ibunya.
"Maksud kamu Annisa hilang," Tanya ibu nya lagi.
"Iya Bu, polisi akan mencari tau siapa pelaku nya ibu hanya perluh banyak berdoa dan sabar." Perkataan lembut Cindi membuat ibunya tenang tapi tidak membuatnya berhenti menangis.
"Nenek sudah pulang yah bu?" Tanya Cindi ke ibunya.
"Iya, tadi siang nenek sudah balik ke kampung lagi."
"Syukurlah, nenek sudah sangat tua Bu, Cindi hanya khawatir kalau nenek nanti syok dan bisa membuatnya kenapa-kenapa." Usulan Cindi hanya bisa di terimah oleh ibunya. Cindi membawah masuk ibunya ke dalam dan mendudukkan nya di sofa ruang tamu, hampir saja ibunya pingsan karena syok mendengar nya.
"Cindi... kita harus membantu papamu mencari jejak Annisa, ibu... ibu...tidak sanggup nak." Wina terus-terusan menangis sampai kesulitan untuk berbicara. Cindi hanya bisa menenangkan ibunya dengan memeluk nya. Papa nya keliaut dari kamar dengan pakaian yang biasa, dia akan ke kantor polisi lagi untuk mencari tau perkembangan kasus nya.
"Nak papa pergi dulu yah, jaga ibumu." nasehat papanya kepada Cindi.
"Tapi pa... aku mau ikut." Ucap Wina kepada suaminya.
"Gak usah ma... di rumah saja, nanti ku kabari kalau sudah ada perkembangan nya." Tono kalau keluar dari rumah itu menuju mobilnya dan berlalu pergi.
...🐼🐼🐼...
Di gubuk itu terlihat Annisa yang sudah tersadar dari pingsannya langsung terkaget berada di tempat seperti ini. bukannya dia tadi ada di taman menunggu ibu Dhini, Annisa kecil hanya bisa menangis menyadari dirinya berada di gubuk itu.
__ADS_1
"Uhuhuhuuuu.... Ibu... bapak... aku di mana?" Annisa teriak-teriak ketakutan di dalam gubuk itu. tiba-tiba seorang pria menggunakan penutup wajah masuk dan membentak-bentak Annisa karena kesal mendengar suara berbisik anak itu.
"Hei diam, kamu jangan banyak bicara." Ucap pria itu kasar.
"Uhuhuhuuuu... Om lepasin Annisa, Annisa mau di apakan om?" Tanya gadis kecil itu ketakutan. pria itu lalu berjongkok di hadapan Annisa, dan tersenyum penuh arti.
"Kamu akan di jual nak, tunggu sebentar lagi yah." Ucap pria itu dengan mengusap-usap kepala Annisa. Annisa yang terikat hanya bisa diam dan berharap papanya akan datang menjemputnya dari tempat neraka ini.
"Om jangan sentuh-sentuh Annisa, bukan muhrim." Teriakan Annisa mengundang pria itu tertawa keras.
"Hahahaha, baru pertama kali aku bertemu anak kecil seperti nak." Ucap pria itu lalu keluar dari gubuk.
Flashback on
Annisa bermain-main di taman bersama teman-teman nya tiba-tiba Ibu Dhini datang dan memanggil Annisa untuk makan siang karena dia membawa bekal lebih.
"Annisa sini nak," Panggil Ibu Dhini dari kejauhan. Annisa lalu berlari menghampiri Ibu Dhini yang sedang duduk-duduk di taman itu.
"Ibu membawah dua bekal, dan yang satunya untukmu." Ucap ibu Dhini.
"Annisa tidak lapar kok Bu," Annisa tidak terbiasa dengan makanan pemberian orang lain tapi kalau ibu Dhini dia malah menjadi anak yang cepat makan rayuan olehnya.
"Ayo lah sayang, kan sayang kalau di buang." bujuk ibu Dhini lagi.
"Annisa..." Annisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal berusaha untuk menolak, akan tetapi ibu Dhini masih saja memaksanya.
"Sayang kalau kita di kasih apa-apa sama orang harus di terimah loh." Nasehat ibu Dhini membuat Annisa kecil terpaksa harus menerima bekal itu. Annisa dan Ibu Cindi langsung memakan bekal itu dengan lahapnya, Setelah makan ibu Cindi memberi Annisa air minum. Setelah minum Annisa dan ibu Cindi akan kembali ke kelas lagi tapi tiba-tiba ada yang memukul kepala Annisa dan Ibu Cindi dan membuat ibu Cindi terpingsan pas bangun Dia panik Annisa sudah tidak ada di dekatnya lagi.
Ibu Cindi lalu melapor ka pihak sekolah atas kehilangan Annisa di taman, dan memberi tau kepada pihak sekolah kalau di di pukul oleh seseorang sehingga membuatnya terpingsan.
Sudan di cari kemana-mana tapi tetap saja tidak di temukan keberadaan nya, akhirnya Ibu Dhini memberi tau kebenarannya ke papa Annisa.
"Assalamualaikum," Ucap Dhini kepada papanya Annisa.
__ADS_1
"Wa Alaikum salam, ada apa?" Tanya Tono di sebarang telpon.
"Annisa... Annisa hilang dari sekolah," Dhini menangis sejadi-jadinya di telpon. Tono yang mendengar semua itu langsung syok dan langsung menuju ke sekolah Annisa.
Sesampainya di sekolah di liatnya Dhini sudah pucat dan menangis-nangis memeluk Tono. "maafin Dhini tidak bisa menjaga anak kakak dengan baik." Ucap Dhini kepada Tono.
"Tidak apa-apa, kita cari bersama-sama yah dek." Ucap Tono kepada Dhini.
"Tapi kakak sudah sangat baik sama aku, aku merasa tidak enak kak." Ucap Dhini lagi kepada Tono.
"Kakak mengerti situasinya, kamu harus pulang yah. apa ibu sehat di rumah?" Tanya Tono kepada Dhini.
"Sehat kok kak, kakak kenapa tidak mau beritau Cindi dan Annisa yang sebenarnya?" Tanya Tono.
"Aku hanya masih trauma sama masa lalu dek, nanti ada waktunya dia tau kok." Ucap Tono lagi.
"Tanya ibu yah, kalau aku belum bisa datang hari ini."
"Iya kak, ibu sangat merindukan dirimu." Dhini kali ini benar-benar merasa bersalah.
"Dek, kakak minta maaf yah sudah menyusahkan kamu."
"Tidak apa kok kak, Apa kak Wina sudah tau?" Tanya Dhini.
"Belum, Cindi juga belum tau."
"Aku khawatir kak Wina akan membenciku kak jika dia tau." Kekhawatiran Dhini mulai menjadi-jadi.
"Kamu tidak perluh khawatir dia tidak akan tau penyebabnya kok, akan bilang kalau Annisa di culik saat dirimu tidak ada di tempat kejadian." Nasehat Tono berharap kekhawatiran Dhini akan hilang.
"Kak nanti aku bantu cari Annisa yah!" Ucap Dhini sebelum pergi. Toni hanya bisa mengangguk saja dan banyak berharap dan berdoa.
...🐼🐼🐼...
__ADS_1