
Meski masih terlihat pucat akan tetapi keadaan Cindi lumayan lebih baik dari pada semalam, dia hanya sedikit flu saja. Di taman anak-anak itu terlihat Annisa dan adik sepupu nya berlari kesana kemari penuh canda tawa.
Anak itu sebenarnya tidak bisa terlalu banyak gerak karena Minggu depan dia akan operasi, melihat kebahagiaan di wajah mereka membuat siapapun tidak akan sanggup menghentikannya. Sang Surya semakin memancarkan cahayanya sehingga terik matahari itu membasahi kening kedua anak kecil itu dan para pengunjung di taman.
Cindi terlihat sibuk dengan handphone di tangannya, Seorang pria mendekatinya tampan sepengetahuan dia.
"Ehmmm, anak-anak rupanya terlihat sangat bahagia yah!" Ucap pria itu mengejutkan Cindi.
"Om, Ya ampun om kenapa baru datang sekarang?" Cindi langsung memeluk Dion.
"Bagaimana kondisi mu nak?" Tanya Dion balik.
"Alhamdulillah, Cindi agak baikan sekarang." Ucap Cindi gugup mendengar pertanyaan Omnya.
"Baguslah, kalau ada masalah dengan kondisi kesehatan mu beri tau om yah!" Nasehat Dion kepada keponakan nya.
"Siap om, Om Cindi sebenarnya tidak enak jika harus berbohong dengan om." Cindi terlihat gugup dengan Dion, rasanya dia ingin memberi tau yang sebenarnya.
"Ada apa nak?" Pertanyaan Dion barusan menyiratkan sebuah kekhawatiran di wajahnya.
"Cindi... Sebenarnya Cindi sakit om." Perkataan Cindi terdengar terbata-bata tapi masih terdengar jelas di telinga Dion.
"Kamu sakit apa nak?"
"Aku sakit jantung om, dan penyakit jantung ku sudah sering kambuh." Cindi memberi penjelasan ke Dion, karena dia tau hanya Dion lah yang bisa menolongnya mencari donor jantung.
"Kamu kenapa baru bilang nak, sejak kapan terjadi?" Tanya Dion seakan ingin mengetahui banyak hal dengan kondisi keponakan nya.
"Sebenarnya dari masa remaja sudah lemah jantung om, tapi Cindi baru mengetahuinya sejak kerja di perusahaan itu karena banyaknya tekanan yang membuat kondisi jantung semakin kumat." kali ini Cindi hanya bisa menunduk lesu. Mendengar hal itu dari mulut keponakan nya Dion hanya bisa memberi nasehat ke pada Cindi.
"Apa bedanya dengan gadis itu, donor jantung nya bahkan mengeluarkan uang yang banyak, tapi demi bertahan hidup om harus berusaha sampai akhirnya Minggu depan dia akan di operasi. Pada tubuh anak itu ternyata ada kelainan, ada tumor ganas yang tumbuh dan di prediksi sejak dia umur tiga tahun." Dion hanya bisa menatap anaknya dari kejauhan berlari kesana kemari bersama Annisa.
__ADS_1
"Terkadang kita tidak tau om, ada apa dengan kondisi tersebut tubuh kita. Padahal sebenarnya kesehatan itu sangat penting sehingga butuh pemeriksaan ke dokter jika mengalami gejala aneh, tapi aku awalnya merasa kalau ini hanya karena faktor kelelahan." Cindi semakin terbuka dengan Dion.
"Yah memang seperti itu nak, ada penyakit dalam tubuh manusia akan tetapi dia sendiri tidak tau itu penyakit apa atau dia benar-benar meremehkan nya." Nasehat Dion kepada Cindi cukup menenangkan pikiran nya.
"Awalnya ku pikir hanya gejala biasa om, jadi aku tidak berfikiran untuk periksa ke dokter."
"Yah yang namanya penyakit dia tidak akan memandang umur mau kita usia mudah tua semua akan kena jika sudah takdirnya, tapi sebagai manusia kita terkadang hanya perluh bersyukur masih banyak orang di luar sana penyakitnya lebih dari kita nak." Dion memukul pundak Cindi dengan pelan.
"Yah, om benar bahkan aku sudah melihat begitu banyak pasien di rumah sakit yang lebih koma dari aku."
Matahari semakin panas Linda tidak bisa melanjutkan permainannya lagi namun Annisa masih mau bermain. Annisa mampu melihat kelelahan di wajah Linda, dia lalu mengajak Linda untuk menghampiri Cindi dan papanya di meja taman itu.
"Linda ayo kita ke kak Cindi, papanya juga di sana." Mendengar hal itu Linda hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah Annisa yang semakin cepat.
...🐼🐼🐼...
Melihat kedua anak itu menghampiri mereka, Cindi menghentikan obrolan nya dengan om Dion, dia khawatir jika anak itu bisa saja lebih pintar dari dirinya dan memberi tau kondisi nya sekarang dengan kedua orang tuanya. Cindi sebenarnya khawatir jika terjadi apa-apa dengan kedua orang tuanya jika memberi taunya dan dia sengaja hanya memberi tau Dion saja karena dia seorang dokter yang lebih tau tentang pantangan dan segala hal yang berkaitan dengan jantung karena dia spesialis bedah.
"Pulang yuk!" ajak Dion kepada mereka.
Cindi menelpon pihak perusahaan kalau hari ini dia minta di liburkan saja karena alasan keluarga.
Tuut... Tuut... Tuut...
"Halo selamat siang, ini dari siapa?" Tanya sang suara di sana.
"Maaf, aku telat memberi tau pihak kantor kalau hari ini saya Cindi Alta Funisa sedang ada urusan keluarga."
"Ohhh, jadi hari ini nona Cindi tidak bisa ke kantor?"
"Iya, bolehkah anda memberi tau pihak yang berwajib kalau hari ini saya cuti satu hari."
__ADS_1
"Siap, kami akan menyampaikan pesan anda nona Cindi. apakah masih ada hal lain lagi yang ingin anda bicarakan?"
"Tidak, itu saja."
"Okey kalau begitu saya akan menutup teleponnya."
Telpon terputus Cindi di dalam mobil merasa sedikit legah, karena setidaknya dia tidak Alfa di kantor. Annisa dan Linda malah tertidur di dalam mobil jadi mau tidak mau mereka harus di angkat keluar dari mobil. Mereka sudah sampai di rumah, Cindi teroaksa harus membangunkan kedua anak itu.
"Annisa... Linda... Bangun sudah sampai loh."
"Sudah sampai yah, kepala Annisa pusing." Annisa terbangun di susul oleh Linda. Mereka turun dari mobil, Annisa dan Linda terlihat berjalan seperti orang teler.
Di sofa Annisa melanjutkan tidurnya diikuti oleh Linda yang ikutan tertidur di sofa, Dion dan Cindi hanya bisa menggelangkan kepala. Di dapur Cindi mengambil air minum yang ada di meja, dan mengambil buah apel di meja makan.
"Nak, kamu makan dulu." Tegur Wina dari belakang mengejutkan Cindi.
"Iya Bu, Cindi juga baru mau makan kok." Ujar Cindi dengan sedikit cengir ke ibunya. Cindi lalu mengambil piring dan mengambil beberapa lauk pauk yang sudah di siapkan di meja. Berbeda dengan Omnya Dion dia malah langsung duduk di sofa membaca koran.
"Ma, Om Dion sudah makan yah?" Tanya Cindi.
"Iya, tadi Om Dion sebelum menyusul kalian makan dulu."
"Tante mana ma?"
"Dia lagi istirahat di kamar tamu, kayaknya dia sedikit kecapean beberapa hari menjaga Linda di rumah sakit."
"Ohhh, katanya Linda mau di operasi Minggu depan ma."
"Iya ibu juga sudah tau, kamu mau kan jengguk adikmu!"
"Iya dong ma, tapi di waktu libur lah."
__ADS_1
"Iya, lagian Annisa juga sekolah." Wina lalu berlalu dari hadapan Cindi dan kembali naik ke atas.
...🐼🐼🐼...