
Tak terasa minuman yang mereka seduh sudah habis, Seila dan dokter ridho lalu berdiri dari kursi menuju kasir. Setelah membayar semua pesanan itu mereka keluar dari restoran itu.
"Ya ampun pak kok dibayarin tadi?" Tanya Pak dokter.
"Loh kan aku yang mengajak mu pergi jadi aku dong yang traktir." Ucap pak dokter dengan tersenyum ramah.
"Ohh gitu, jadi kalau nanti aku yang mengajak dokter ridho aku yang traktir yah." Mendengar perkataan Cindi dokter ridho hanya mengangguk saja. Di perjalan menuju tempat terapi mereka mulai bercakap-cakap di dalam mobil.
Kakakmu datang yah waktu pernikahan mu?" Tanya dokter ridho.
"Kakak, kakak siapa dok?" Tanya Cindi heran.
"Kamu kan punya kakak yang kuliah S2 Di luar negeri." Ujar Dokter ridho.
"Ohhh kak Alif, Datang kok tapi kayak nya dia udah balik soalnya dia masih ada acara di sana juga bareng istrinya." Ujar Cindi.
Cindi punya seorang kakak laki-laki yang sudah kerja dan menikah di luar negeri, makanya dia jarang membahas kakak nya itu karena kakanya sudah jauh.
Di perjalanan mereka terus berbincang-bincang sampai akhirnya mereka berhenti di salah satu rumah. Rumah itu terlihat bagus dari luar, di dalamnya terlihat ada taman-taman yang sangat besar.
Pak dokter lalu menelpon sang pemilik rumah, karena sepertinya rumah itu tidak sembarangan orang yang bisa masuk. Cindi hanya memilih untuk melihat-lihat seisi rumah dari dalam mobil.
Tut, tuut, Tuut.... Suara telpon untuk menyambungkan ke pemilik nya. setelah menunggu beberapa menit akhirnya ada yang angkat telepon nya. Terdengar suara itu parau, karena memang yang akan menerapi Cindi adalah orang yang sudah berpengalaman dan sudah berusia hampir 50 Tahunan ke atas.
"Halo ada yang bisa saya bantu?" Tanya seseorang di seberang.
"Iya, saya dokter ridho sudah sampai di depan rumah ibu." Ujar dokter ridho.
"Ohhh dokter ridho, tunggu yah saya suruh bukakan pintu untuk anda." Ucap wanita paru baya itu.
"Iya-iya siap bu," Ucap pak dokter lalu menutup telpon nya.
Beberapa saat kemudian terlihat seorang pria mudah yang bisa di bilang umur 20 tahunan membuka pagar rumah itu.
"Silahkan masuk pak," ucap pria itu ramah kepada nya.
__ADS_1
"Okey-okey," Dokter ridho tersenyum kepada pria itu, pria mudah tampan itu membalas senyum nya. Mobil itu melaju masuk ke dalam halaman rumah yang terlihat besar dan pekarangan taman yang sangat luas.
"Pak rumahnya sangat unik, aku suka dekorasi rumahnya." Ujar Cindi.
"Bagus dong, bapak juga suka bisa menenangkan mata dan suasana hati. ujar pak dokter.
"Benar pak," Mobil itu lalu di parkir ke tempat parkiran yang sudah di siapkan. Mereka lalu keluar dari mobil, pria mudah seumuran daniel, sepupu cindi lalu mengajak mereka masuk ke dalam rumah itu.
"Silahkan masuk dok," Ucap pria itu dengan sopan dan ramah.
"Iya, iya, makasih yah." Ujar pak dokter.
"Makasih yah dek, sudah di sambut dengan baik." Ujar Cindi sambil tersenyum ramah.
"Iya kak, sebagai tuan rumah memang sepantas nya harus bersikap ramah dan sopan kepada tamunya, biar tamunya bisa merasa nyaman." Ujar pria muda itu.
"Iya kamu benar saja, kamu kuliah?" Tanya Cindi.
"Iya kak baru mau selesai S1 kok." Ujar pria mudah tampan itu.
"Ohhh, semangat yah belajar nya jangan banyak main-main." Nasehat Cindi kepada pria itu.
Dengan perawakan yang masih terlihat begitu memukau dia lalu menyimpan napan itu di meja di depan mereka dan membukakan kue-kue yang ada di depan mereka.
"Aduuh makasih yah bu sudah mau repot-repot." Ujar Cindi ramah.
"Tidak papa kok nak, kalian pasti haus perjalanan jakarta ke sini bukan waktu yang singkat loh. Silahkan dinikmati yah siapa tau nagih." Canda ibu susi dengan ramah.
"Sekali lagi terima kasih banyak yah bu susi," Ucap Pak dokter ridho dengan sopan.
"Iya sama-sama, apa kamu yah nak yang mau terapi?" Tanya bu susi ramah.
"Iya bu," Jawab Cindi singkat dan terdengar ramah.
"Ohh, nanti kamu bisa masuk liat-liat tempat terapinya. Di dalam bukan kamu sendiri kok banyak orang yang akan kamu temani nanti." Nasehat ibu Susi.
__ADS_1
"Ohhh, iya bu aku pasti akan sangat menyukai mereka semua." Ujar Cindi menjadi tidak sabaran.
"Kamu dan pak dokter boleh cicipin dulu kuenya, aku siapin dulu alat nya yah." Ujar bu susi.
"Iya bu," Mendengar hal itu bu susi cuma tersenyum saja, dia lalu masuk ke dalam rumah yang begitu terlihat sangat menarik. Beberapa menit kemudian ibu susi keluar lagi dengan tersenyum ramah.
"Ayo nak silahkan masuk, apa pak dokter juga mau masuk?" Tanya ibu susi.
"Aku di sini saja bu, atau aku jalan-jalan aja dulu bentar aku datang lagi menjemputnya." Ujar pak ridho.
"Dia istri bapak atau adik?" Tanya Bu susi.
"Dia klien ku, dia baru saja kemarin sudah nikah." jelas Dokter ridho agar tidak membuat bu susi berprasangka yang tidak di inginkan olehnya.
"Ohh, kirain adiknya toh." Ujar bu susi ramah,
"Kalau begitu saya pergi jalan-jalan dulu di sekitar sini yah bu!," Dokter ridho berpamitan, terlihat dari luar pintu pria yang menyapa mereka langsung menawarkan diri.
"Boleh saya temani dok, biar nanti ada teman berbincang nya." ucap nya menawarkan diri. Bu susi dan Cindi sudah masuk duluan ke dalam, Sedangkan dokter ridho dan dan anak mudah itu malah memutuskan untuk keluar jalan-jalan.
Di jalan mereka saling berbincang satu sama lain untuk mencairkan suasana agar lebih terlihat baik.
"Nama kamu siapa nak?" Tanya dokter itu.
"Namaku Aldo pak," Ujar Aldo sambil tersenyum ramah.
"Sudah semester berapa?" Tanya Pak dokter lagi.
"Ini udah semester Akhir pak, sudah mau wisuda." Ujar aldo.
"Ohhh bagus dong, kamu kuliah jurusan apa sih nak?" Tanya pak dokter lagi.
"Manajemen pak, aku kuliah manajemen dan sudah turun kkn minggu depan." Ujar Aldo dengan tersenyum ramah.
"Bagus dong, Kamu di tempat kan di mana nak?" Tanya pak dokter ramah itu. Mereka lalu duduk di salah satu taman yang sangat luas dan bersih itu.
__ADS_1
"Kalau aku sih di tempat kan di jakarta utara samping pantai ancol." Mendengar hal itu dokter ridho hanya mengangguk.
"Pasti seru nih, nantinya apalagi kan dekat pantai ancol." Ujar dokter ridho. Mereka saling berbincang sampai tidak terasa kalau waktu sore telah tiba.