
Cindi berjalan memasuki kantor itu, Semakin Cindi mendekat semakin ragu cindi dengan pria yang di ajak Lina ngobrol. Cindi berdiri tepat di belakang pria itu, dia terus-terusan ingin mengintip pria itu karena dia sekarang yakin kalau sekarang yang di temani Lina bukan suaminya.
Cindi memiringkan kepalanya ke samping pria itu, merasa ada yang memperhatikannya pria itu menoleh. Wajah Cindi yang berada tepat di hadapan pria itu langsung terkejut seperti melihat hantu saat mengetahui siapa sebenarnya pria itu.
"Woahhh, Oh my God sepertinya calonku." Ucap Cindi sengaja membuat Rendi marah. Mendengar hal itu Rendi langsung menyipitkan mata tanda kesal.
"Ngaco," Ucap Rendi sambil berlalu pergi meninggalkan Cindi.
"Beb," Cindi sengaja memanggil Rendi dengan sebutan beb. Mendengar hal itu Rendi langsung menghentikan langkahnya dan berbalik, tapi terlihat Cindi malah berbincang dengan kak lina.
"Sayang laporannya sudah?" Tanya lina.
"Sudah beb," Ucap Cindi sambil memberi kode ke kak lina. Sepertinya lina tau apa maksud Cindi.
"Ohh sudah yah sayang, tadi rendi datang ke sini karena dia kurang..." Kata-kata lina terhenti saat Rendi mendekatinya dan langsung menutup mulut kakanya.
"Rendi kurang tampan, iya kurang tampan bahkan sampai kurang tampannya para orang-orang memujinya." Ucap Rendi kesal tangannya masih memegang tangan lina. Hari ini Rendi terpaksa harus kehilangan harga dirinya di depan wanita itu hanya saja karena perbuatan kakanya.
"Sepertinya kamu salah beb, kamu malah sangat tanpa, tampan sekali malah tapi sayang nya... kamu sedikit ang...." Lagi-lagi kata-kata cindi yang terhenti saat rendi langsung melototinya.
"Apa yang ingin kamu katakan." Bentak Rendi.
" Maksudku Calon ku sangat anggun, iya anggun dia bukan rupawan tapi dia anggun, Ya ampun calon suamiku rupanya marah yah, Beb jangan marah terus maksudku calon suamiku jangan marah terus." Orang-orang mulai berdatangan dan menyaksikan pertengkaran itu, mereka semua tidak menyangkah kalau Cindi lah tunangan Rendi. Kali ini Rendi semakin naik pitam di buatnya, bahkan mukanya sekarang memerah karena harus menahan malu di hadapan semua orang. Cindi mendekati Rendi dan membisikkan sesuatu di telinga nya.
__ADS_1
"Pak semua orang menatap kita, kamu mau ikuti alur ceritanya atau..." Cindi sengaja mengancam rendi supaya Rendi mau berpura-pura dihadapan semua orang.
"Ehmm, iya kamu benar beb... Kalau begitu aku keluar dulu nanti kita ketemu lagi." Ucap rendi dengan mengusap-usap rambut Cindi dengan kasar. Giginya menggertak, seperti benar-benar ingin mengigit wanita itu karena marah dan kesal.
Saat Rendi keluar Lina yang ada di kursi itu tidak henti-henti nya menertawakan lelucon kedua anak itu.
"Hahahaha, Kamu hebat juga." Ucap Lina.
Sepertinya aku berhasil membuat perkara baru dengannya, selama ini dia selalu mengerjain ku. Cindi tersenyum penuh kemenangan.
"Kak gimana tadi seru kan?" Tanya Cindi kepada lina.
"Woahhh, sumpah seru kayak Drakor aja." Ucap lina, sepertinya dia tadi sangat menikmati semua Acting Cindi. Cindi tersenyum-senyum membayangkan wajah rendi sekarang seperti apa bentuknya.
...🐼🐼🐼...
"Selamat pagi pak," Seorang kariawan lagi-lagi menyapanya tapi rendi hanya berfokus lurus tak menghiraukan yang lain. dia terus-terusan kepikiran dengan apa yang barusan Cindi lakukan kepadanya.
Cindi benar-benar telah membuatku malu di depan semua orang, kesal rendi dalam hati.
Di dalam kantor pun dia masih memikirkan hal yang sama, Tak henti-henti nya dia penuh dengan kekesalan. Pak direktur heran melihat sikap rendi hari ini berbeda dari biasanya.
Sikapnya sedikit cuek bahkan tidak peduli dengan sekitarnya.
__ADS_1
"Rendi ada apa denganmu?" Tegur pak direktur.
"Tidak papa kok pak," Ucap Rendi dengan melanjutkan menatap layar komputer di depannya. Mendengar ucapan Rendi pak direktur hanya mengangguk saja dan berlalu dari hadapan nya menuju ke sofa. Rendi mengambil gelas yang ada di meja dan meneguk airnya.
"Sepertinya hari esok akan ada lagi pesta pernikahan," Ucap pak direktur.
"Ohok, ohok, ohok, ohok," Rendi terbatuk saat mendengar apa yang papanya katakan. Bagaimana mungkin papanya sebahagia itu sedangkan anaknya sekarang mati kutu di hadapan calon nya sendiri. Mendengar rendi terbatuk pak direktur langsung berbalik ke arah nya.
"Loh kamu kenapa nak, ya ampun hati-hati kalau lagi minum." Ucap pak direktur, Seolah-olah dia tidak tau penyebab Rendi terbatuk.
"Iya pak," Rendi begitu kesal melihat tingkah bapaknya yang seakan tidak terjadi apa-apa, padahal dia terbatuk karena papanya menyebut kata pesta pernikahan. Rendi melanjutkan meneguk air minum di gelas itu.
"Aku berharap hari pesta pernikahan besok," belum selesai Pak direktur melanjutkan kata-katanya lagi-lagi dia dikejutkan.
"Ohok, ohok, ohok, ohok, ohok," Rendi terbatuk lagi untuk kedua kalinya, entah kenapa saat papa nya menyebutkan kata pesta pernikahan seakan dia syok dan langsung terbatuk. Lagi-lagi pak direktur menegurnya. Rendi langsung berhenti minum dan meletakkan air yang masih setengah gelas di atas nampan.
"Rendi kamu sakit yah kok dari tadi terbatuk-batuk terus, kalau kamu sakit kamu bisa pulang istirahat. Besok kan kita akan mempersiapkan hari pestanya." Ucap pak direktur mengkhawatirkan keadaan Rendi, Rendi masih terbatuk, sepertinya lehernya tersedak kelereng besar padahal sama sekali tidak.
"Ya ampun pak ayolah hentikan semua ini aku tidak bisa mendengarnya lagi papa dari tadi menyebutnya, aku rasanya seperti kena bom atom dari atas langit. pa berhentilah menyebut kata-kata itu lagi, jika papa masih mengulang kata-kata itu lagi tenggorokan ku bisa ikutan meledak. Belum lagi gadis itu membuatku malu di depan semua orang, dan membuat hatiku menjadi marah dan penuh emosi." rendi tak henti-henti nya memarahi papanya lewat hayalan nya, pak direktur lalu mendekatinya karena rendi dari tadi hanya terdiam.
"Rendi kamu tidak menjawab pertanyaan papa, besok kan hari nya persiapan..."
"Okey stop, Stop, stop, papa kembali lah ke sofa dan berimajinasi saja tanpa suara." Ucap Rendi dengan menatap papanya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Okey," Pak direktur kembali ke kursinya. Rendi tersadar dia lalu melihat layar komputer itu kembali betapa terkejutnya dia melihat ada bayangan Cindi di dalam laptop itu.
"Apa-apaan ini, kenapa dia ada di dalam bayangan laptopku." Kesal rendi, itu penyebab dari pikiran rendi yang tak lepas dari kekesalan nya dengan Cindi. Rendi berusaha menutup bayangan itu berharap hanya dia yang melihatnya.