
Cindi mengambil salah satu koran di ruang tamu, dia duduk dengan bersilang kaki dengan santai nya membaca Koran yang ada di kedua tangan nya. Tanpa di sadari cindi sedari tadi ada yang memerhatikan dirinya dari kejauhan, Saat asik memerhatikan cindi orang itu di dikagetkan dengan seseorang yang juga baru-baru datang dari arah belakang dengan santai nya memukul pundaknya.
"Lagi ngapain toh nak, cumaa,"
"Haaah" belum selesai ibu itu ngomong eh dia langsung teriak kaget, hajra malah tersenyum melihat wajah anaknya yang tiba-tiba memerah karena ulah ibunya sendiri. Ternyata pria itu adalah Rendi yang dari tadi memperhatikan sosok cindi yang duduk manis di ruang tamu.
Tanpa di sadari mereka berdua cindi ternyata sempat mendengar teriakan histeris dari Rendi yang sempat membuat jantungnya copot seketika.
Cindi langsung melipat Koran yang belum sempat dia baca semua, dia kaget saat melihat anak dan ibu itu sedang saling tuduh menuduh sambil saling main dorong-dorongan.
"Ehmmmm," cindi berdehem seakan sedang menangkap basah pelakunya, sambil mendekati mereka. mereka berdua jadi malu sambil nyengir seakan tak terjadi apa-apa.
"Ada apa nak? tanya ibu hajra pura-pura menegur cindi yang mendekatinya.
"Ehhmmm, nggak papa Bu ini lagi menghitung jadi." kata cindi sambil menghitung jari tangan nya karena binggung mau ngapain. niat menegur ibu mertua nya duluan malah batal karena dia malah di tegur duluan. Dalam hati hajra sangat senang karena cindi tidak jadi menegur mereka padahal tadi mereka hampir aja di interogasi sama cindi akibat kedapatan ngintip barengan Rendi. Tak di sangka ternyata cindi balik menghampiri Rendi yang udha dari tadi pura-pura main hp sambil tertawa-tawa tidak jelas.
__ADS_1
Ada apa dengan nya kenapa dia tertawa terus, lagi menertawakan aku kali. pikir nya dalam hati sambil mendekati Rendi yang semakin tertawa seakan sangat lucu.
"Ehm ada apa kok tertawa terus?" kata cindi yang sudah berada di hadapan nya, Rendi yang masih bersembunyi di belakang ibunya langsung salah tingkah mendengar suara merduh yang sedang menegurnya. hp yang dia pakai hampir aja melompat dari tangan nya, melihat cindi yang melotot menatapnya dengan tatapan tajam seakan matanya saat itu ingin keluar dari cangkok nya, tanpa sadar Rendi malah menegur nya balik.
"Ehmmm kok mau keluar?" tanya Rendi spontan tanpa merasa berdosa sedikitpun mengatakan nya. Cindi kali ini lagi-lagi cuma bisa menahan sabar, kali ini dia benar-benar harus pura-pura baik di depan ibu mertuanya.
"Ehmm kayaknya ibu harus ke dapur dulu deh." ucap hajra, berlalu pergi meninggalkan mereka. cindi dan Rendi hanya terdiam lama menatap langkah ibu hajra yang semakin menjauh dari pandangan mereka berdua.
Cindi masih fokus menatap ibu hajra, Rendi mengambil kesempatan untuk menjauh dari cindi dengan diam-diam dia menaiki anak tangga sedangkan cindi di biarkan tetap berada di bawah.
"Sayang," ucap suara itu sambil memegang lengan tangan nya. Rendi sempat terkejut mendengar suara itu, dia melirik melihat ada tangan pucat yang sedang memegang erat tangan nya sontak saja membuat dia kaget dan berteriak ketakutan sambil menutup mata nya
"Akhhhh," Teriak Rendi saat itu dia masih menutup kedua matanya dengan kedua tangan nya. Berharap dia tidak di ikutin dengan sosok tangan yang memegang erat lengan nya tadi. Cindi yang mendengar nya sontak kaget, dia yang berada di pintu Hanya geleng-geleng saja.
Rendi masih saja menutup matanya dengan kedua tangan nya masih syok dengan apa yang baru saja dia alami, seketika semua terasa hening saat itu. Cindi lalu mendekati Rendi yang masih ketakutan lalu memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Ada apa sayangku, kok takut?" Tanya cindi kepada Rendi, Rendi langsung membuka matanya saat mendengar suara tak asing di telingan nya.
"Akhhhh," kali ini teriakan nya lebih besar dari sebelumnya, dia benar-benar kaget saat sadar kalau dia di peluk oleh cindi. Cindi mengusap-usap punggung Rendi sambil menenangkan nya.
"Nggak papa sayang tidak ada apa-apa loh, jangan takut hal seperti itu sudah hal biasa terjadi." Bisik cindi ke telinganya kali ini badan Rendi bergetar semua mendengar nasehat itu dia seperti mendengar nasehat seorang wanita yang lebih menakutkan lagi. Cindi sadar dengan apa yang barusan terjadi, halusinasi Rendi saat panik akan membuatnya mudah di ganggu oleh makhluk halus apalagi dengan wajahnya yang tampan rupawan.
Cindi menopang tubuh Rendi dan membantunya duduk di pinggir kasur, Rendi masih syok dengan apa yang barusan dia alami. entah kenapa dia sering mengalami ha yang aneh-aneh, padahal dia seorang laki-laki yang pemberani tapi dengan masalah seperti ini dia tidak bisa menyelesaikan nya sendirian. Malah harus di bantu lagi dengan orang lain, tapi dia sangat bersyukur karena cindi membantunya lagi kali ini.
Rendi menatap cindi dengan tatapan bersahabat kali ini, dia lalu berterima kasih kepadanya atas apa yang telah cindi lakukan padanya.
"Makasih yah kali ini kamu membantuku lagi." Ucap Rendi, napas nya masih ngos-ngosan kayak abis lari seratus putaran detak jantung nya terasa lebih cepat dari biasanya. Cindi tersenyum kepadanya sambil mengambil air minum yang berada di atas meja itu.
"Iya sama-sama ini minum dulu loh," ucap cindi sambil memberi segelas air Kepada nya. Kali ini dia udah tenang tapi masalah lain muncul lagi, keringat bercucuran di kening pria tampan itu. Cindi yang menggunakan baju lengan panjang saat itu lalu mengusap kening Rendi dengan lengan baju yang dia gunakan.
deg deg deg suara detak jantung yang tidak berirama berbunyi, dia kali ini hanya bisa menelan liur saja saat menatap wajah anggun itu semakin dekat ke wajah nya. Cindi tidak sadar kalau dia dari tadi di perhatikan oleh Rendi. Bulu mata yang panjang dan lentik, bola mata yang indah, pipi yang sedikit chubbi, hindung yang mancung dan tipis di tambah bibir yang berwarna pink manis dengan polesan lipslos. Cindi masih mengusap keringat yang masih aja bercucuran di kening nya bukan nya berhenti malah semakin deras.
__ADS_1
Kok keringat nya gak berhenti-henti yah padahal kan aku dari tadi mengusap nya, pikir cindi dalam hatinya. Rendi masih menatap nya, kali ini dia benar-benar harus menahan diri tapi dia malah kalah Rendi tiba-tiba ikutan mendekat tapi yang terjadi malah sebalik nya. cindi tersadar, saat hendak ngomong tiba-tiba bibir yang manis itu menyentuh kening Rendi yang barusan abis di lap.