CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Mimpi buruk


__ADS_3

Setelah membentak nya Rendi langsung pergi meninggalkan Cindi yang mematung di samping tempat tidur itu, Mendengar bentakan Rendi jantungnya sempat kaget tapi dia berusaha menahan kekagetan itu. jantungnya tiba-tiba kesakitan, Cindi berlari mengambil obat di laci itu dan memasukannya di mulut.


Dia turun ke bawah dan mengambil air putih, obat itu mengalir ke tubuhnya. entah sudah berapa banyak obat yang masuk ke dalam tubuh nya tapi jantungnya juga benar-benar belum pulih. cindi bersandar di tembok dengan mengelus-elus dadanya yang mulai membaik.


Cindi memikirkan perkataan Rendi tadi, "jahat sekali dia sama perempuan," baru satu hari tinggal di rumah ini saja sudah membuatnya ingin lari.


Huufttt, Cindi menghela napas panjang, lalu masuk ke dapur memasak nasi, sayur, dan beberapa ikan goreng. setelah selesai dia mencari Rendi, sepertinya dia ada di ruang olahraga, batin cindi.


Cindi lalu menuju ke ruang olahraga, betul saja pria itu sedang olahraga dengan berlari-lari dia atas alat olahraga.


"Ehhhhmmm, tuan mudah makanannya sudah siap." Kata Cindi dengan suara layaknya pelayan. Rendi yang mendengarnya kali ini hanya pura-pura tidak mendengar. cindi semakin kesal, akhirnya dia berniat untuk memancing kemarahan Rendi.


"Suami ku sayang makanannya sudah siap." kata-kata itu hampir saja membuat Rendi Rendi mengamuk di ruang olahraga itu. tapi dia tetap berusaha tenang. dan tetap melanjutkan latihan itu, tidak lama terasa perutnya berbunyi.


Okey kali ini tidak berhasil akan aku coba lagi sekali.


"Ehhhhmmm sayang, makanya sudah siap nanti keburu dingin." Cindi semakin kesal dibuatnya, karena Rendi tidak mau mendengarnya akhirnya dia menghentikan latihannya. Cindi menarik lengan Rendi entah kenapa Rendi hanya menuruti nya, Cindi membawanya ke ruang makan dan mendudukkannya di meja makan. perut Rendi semakin kelaparan tapi dia dari tadi hanya diam saja di meja makan, Cindi mengambil piring, tiba-tiba ada tangan nya mengambil piring itu dari tangannya.


"Berikan saja padaku," kata Rendi, dia hanya belum terbiasa hidup berdua dengan Cindi. emosinya masih labil dan lebih memilih diam.


"Besok aku akan ke kantor, kami tinggal lah di rumah jangan ke mana-mana." Rendi mulai mengeluarkan suara dengan nada yang lembut, dia juga harus berusaha untuk belajar menjadi lembut.


"Tapii, besok aku mau." Rendi memotong pembicaraan Cindi seakan tau apa yang akan di katakan.


"Besok kamu tidak boleh kantor jadi istirahatlah di rumah, jika ingin pergi ke suatu tempat hubungi saja sopir di rumah." kata Rendi mulai kesal lagi.

__ADS_1


Cindi hanya bisa diam dia tidak ingin jika singa itu akan terbangun dari tidurnya.


Setelah makan Rendi mengangkat sendiri piringnya dan mencucinya di wastafel. dia berlalu pergi meninggalkan cindi yang sibuk membersihkan sisa makan dan membawanya ke wastafel untuk di cuci.


Ya ampun aku juga ikutan emosi karena sikapnya itu, semoga saja aku bisa sabar dengan keadaan seperti ini.


Setelah selesai membersihkan Cindi juga ikut naik ke kamar, di kamar di liat ya Rendi dengan santainya membaca majalah di tangannya sambil terbaring sok keren.


Lagi-lagi Cindi hanya bisa menghela nafas lalu beranjak pergi dari hadapan pria itu. setelah Cindi pergi Rendi berhenti membaca majalah, di simpannya majalah itu di meja. lalu beranjak untuk pergi jalan-jalan keluar rumah.


Rendi kembali ke rumah itu, dia sengaja mengecilkan suara kakinya supaya tidak terdengar oleh wanita itu tapi rencananya tetap gagal.


Menyadari kedatang Rendi Cindi berniat menggombal Rendi, dia lalu mendekati nya.


Rendi hanya terdiam dan berlalu menjauh dari Cindi, dia seperti menganggap Cindi Monster penghalang kebahagiaan dirinya.


Cindi begitu senang mengerjain Rendi, rasanya dia seperti punya kesan tersendiri dalam dirinya. dia senang saja menganggu anak itu, dari pada cindi membuat penyakitnya kambuh maka dia harus terpaksa sok romantis di depan Rendi, padahal melihat semua itu Rendi seperti sangat kesal di buatnya.


Di kamar Rendi benar-benar pusing harus berbuat apa lagi, dia benar-benar tidak tahan dengan tingkah gila Cindi. akhirnya di putuskan untuk berbaring untuk menenangkan diri.


Wanita itu membuatku semakin menjadi tidak waras, oh tuhan aku benar-benar lelah dengan sikap anak itu. kesal Rendi dalam hati.


Entah kenapa ingin rasanya dia teriak-teriak memaki Cindi kalau dia tidak sadar Cindi itu sepupu nya. dia hanya tidak mau jika Cindi nanti melapor ke orang tua nya sikap nya sangat buruk ke pada cindi.


Rendi tidak tau kalau Cindi suka menyimpan duka nya sendiri di bandingkan harus cerita dengan orang lain, apalagi penyakit yang di deritanya. Cindi hanya berusaha untuk bisa mencintai Rendi meski tak di balas, karena ujung-ujungnya dia juga akan mati. mungkin lebih baik kalau Rendi tidak membalas cintanya supaya dia tidak menangis jika cindi kehabisan napas nantinya.

__ADS_1


Cindi naik ke kamar di liat nya Rendi tertidur pulas, karena tidak mau mengganggu akhirnya dia memutuskan untuk istirahat di kamar sebelah saja.


Cindi berjalan masuk ke kamar yang bisa di bilang sama luas sama kamar mereka, di sini Cindi merasa lebih legah untuk berbaring tidak ada yang mengganggu nya kecuali Rendi akan datang lagi mengejutkan jantungnya itu.


Dia berbaring di tempat tidur itu, dengan menggulingkan tubuhnya kesana kemari. perasaan semakin legah karena tidak perluh bertemu Rendi lagi dalam satu kamar.


matanya ikut terpejam dan tertidur pulas di tempat tidur itu, besok dia akan pergi periksa lagi untuk mengecek kondisi jantungnya.


...🐼🐼🐼...


"Cindi bangunlah jangan tidur terus."


"Cindi bangun, bangun, bangun," Cindi langsung terbangun dari tidurnya, Betapa kagetnya dia masih berada di tempat tidurnya. Entah kenapa dia selalu mimpi aneh-aneh, apa karena tidurnya selalu terganggu.


"Ya ampun sampai kapan aku harus mimpi buruk terus, lelah juga menghadapi situasi seperti ini. Jika mimpinya jadi kenyataan aduh entah apa lagi yang terjadi dengan diriku ini.


Cindi mengambil Handuk di lemari maju dan langsung masuk ke dalam kamar mandi, beberapa menit kemudian dia keluar dan menggunakan seragam kantor dan turun sarapan bersama keluarga nya


Di meja makan semuanya sudah siap, Cindi mengambil salah satu roti dan mengunyahnya tanpa banyak bersuara, Semua orang di meja makan menatapnya dengan tatapan heran.


"Apa pagi ini kamu ada masalah nak?" Tanya Wina.


"Tidak kok Bu, Cindi hanya sedikit bersemangat saja pagi ini." Semua di meja makan hanya mengangguk dan tidak membahas nya lagi.


...🐼🐼🐼...

__ADS_1


__ADS_2