CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Curhatan Cindi


__ADS_3

Cindi berangkat ke kantor bareng papanya hari ini dia merasa sangat lelah tapi dia tetap memaksakan dirinya ke kantor, rencana pulang kantor dia harus periksa ke dokter perkembangan penyakitnya apa sudah membaik atau belum.


Cindi selalu berlari pagi jika sudah sampai di kantor, selain memburu waktu dia juga takut telat. Saat berlari-lari kecil tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nya dari belakang.


"Cindi," Teriak seseorang, Mendengar namanya di panggil Cindi berhenti berlari dan membalik kan badan nya. Terlihat di belakang nya Pak direktur dan reno berjalan mendekati nya.


"Kenapa kamu berlari?" Tanya reno, Muka cindi pucat pasih akibat kecapean berlari.


"Takut, Takut telat pak," Ucap Cindi yang masih ngos-ngosan.


"Ohhh, Oh iya sebentar kamu sibuk?" Tanya pak direktur.


"Enggak kok, cuman aku mau ke rumah sakit sebentar." Ucap Cindi jujur.


"Loh kenapa ke rumah sakit, memang kamu sakit apa?" Tanya Pak direktur kaget, terlihat reno juga ikutan kaget mendengar nya


"Cuma mau periksa kesehatan saja kok om, akhir-akhir ini aku sering pusing-pusing." Mendengar hal itu pak direktur dan reno hanya mengangguk, Cindi berhasil mengelabui mereka berdua.


"Ya udah kamu masuk ke kantor," Ucap pak direktur dengan tersenyum ramah. Cindi menjabat tangan om nya lalu masuk ke ruangan yang sudah tidak jauh dari hadapan nya.


Di dalam di kantor Cindi menusap-usap dadanya, dia benar-benar capek habis olahraga pagi tadi. Lina yang selalu duluan ke kantor hanya menatap Cindi heran.


"Kamu habis lari-lari lagi?" Tanya lina sambil menatap layar monitor.


"Iya mba," Ucap Cindi masih ngos-ngosan.


"Ya ampun Nak, padahal kan jam begini para kariawan juga baru berapa." Ucap Lina.


"Malu telat sih mba," Ucap cindi sambil tersenyum.


"Nih kakak tadi beli dua botol air Aqua, di minum yah." Lina memberi Cindi botol Aqua mineral yang dia beli tadi di pinggir jalan saat menuju ke sini. Cindi mengambil botol itu dari tangan lina.

__ADS_1


"Makasih yah mba, oh iya gimana kabarnya abi?" Tanya Cindi saat melihat semalam abi kecapean.


"Dia sehat-sehat saja, dia hanya kecapean habis pulang sekolah langsung di ajak jalan-jalan kemarin." Cindi hanya mengangguk.


"Syukurlah, mba di titip di bu Hajra lagi?" Tanya Cindi.


"Abi kan sama sekolah sama adik rio, cuman abi kelas dua adik rio masih kelas satu SD jadi kalau pulang sekolah dia ikutan pulang ke rumah ibu, kalau di rumah kan tidak ada orang sayang.


"Ohh gitu yah mba!" Cindi mulai mengerjakan laporan yang baru di berikan oleh atasan mereka.


"Eh kamu kok nanya tentang abi sih, apa kamu punya kendala tentang hal yang ganjil?" Lina merasa dari pertanyaan Cindi ada yang dia sembunyikan.


"Kendala? Tidak ada kok mba, aku hanya sedikit memikirkan hari pernikahan ku saja jadi aku banyak bertanya seputar abi, karena kan dia masih anak-anak mba." Mendengar hak itu sepertinya Lina bisa tebak kalau Cindi memikirkan masa depan nya dengan Rendi, apakah dia bisa akur bahkan jika dia sudah punya anak.


"Tidak usah terlalu di pikir, Rendi tidak sejahat yang kamu bayangkan dia hanya suka berubah-rubah sikap saja." Nasehat lina kepada Cindi agar hal itu tidak membebani mereka berdua. Lagian wajar kalau mereka tegang apalagi mereka berdua kan sama-sama canggung dan suka berantem.


"Menurut mba, Rendi itu bisa di hadapin dengan cara apa sih." Bisik Cindi di telinga Lina.


"Menurut aku sih dia hanya adikku yang selalu merasa kurang peduli dengan orang-orang di sekitarnya, dia hanya butuh orang yang bisa mencintainya apa adanya agar dia merasa benar-benar berharga dan merasa di cintai nya. Kalau kamu bisa mengambil hati nya aku yakin dia akan luluh, dan satu lagi dia paling tidak suka di bentak atau di lawan karena dia cepat emosi jika di bentak." Itu saja sih menurut mba.


...🐼🐼🐼...


Jam istirahat telah tiba, Lina mengajak Cindi untuk naik ke kantor pak direktur.


"Naik yuk," Ajak lina kepada nya.


"Tunggu bentar lagi kak," Cindi melanjutkan menyimpan semua file yang sudah dia perbaiki.


"Ayo kak, aku sudah selesai nih," Ucap Cindi, Lina dan Cindi lalu berjalan keluar pintu menuju ruang lift.


Tok tok tok Suara ketukan pintu membuat pak direktur, Reno dan Rendi langsung kaget saat mereka lagi asik bercerita tentang perusahaan kedepan nya seperti apa.

__ADS_1


Pintu terbuka Cindi dan lina masuk ke dalam dan langsung duduk di kursi sofa, mereka lalu mengajak nya untuk sarapan.


"Kak reno, rendi pa, sarapan yuk." Ajak Lina.


"Bapak tidak bisa nak, lagi membicarakan hal penting sama mereka." Tunjuk Pak direktur ke Arah Reno dan Rendi.


"Pa, kalau begitu papa istirahat dulu nanti kita lanjut ceritanya, Rendi ayo turun makan." Ajak Reno kepada Rendi. Dia merasa pembicaraan mereka juga sudah cukup panjang tadi. Mendengar ajakan Reno Rendi hanya mengangguk dan melanjutkan mengerjakan dokumen nya.


"Tunggu sebentar yah, sepertinya Rendi masih mengerjakan data-data." Cindi dan Lina hanya mengangguk.


Pak direktur sudah terbaring di tempat tidur, dia sudah sangat tua jadi butuh banyak istirahat. lina menghampiri papanya.


"Pa mau pesan apa?" Tanya Lina.


"Papa sepertinya mau makan nasi Padang bilang kasih kerupuk banyak-banyak." Ucap pak direktur. Selesai menyimpan file Rendi mematikan komputer itu, dia memang merasa lapar karena tadi pagi cuma makan sedikit karena buru-buru.


Mereka berjalan keluar dari ruangan itu terlihat Rendi dari tadi hanya terdiam saja, padahal Cindi lina dan Reno sudah mengobrol banyak.


"Mba kalau pulang rumah langsung tidur yah?" Tanya Cindi.


"Nggak lah, mba mandi dulu baru bobok, Abi suka tidur di dekat papanya jadi kami tiga orang dalam satu tempat tidur." Jelas Lina.


"Ohh, kalau aku biasanya di tengah itu baby nya terus aku dan sinta di samping kiri kanan nya kalau sudah mau tidur harus di balikin dedek nya di tempat tidur kecil biar tidak gepeng nantinya.


"Hahahaha," Rendi yang tadinya terdiam langsung tertawa.


"Sepertinya Rendi tidak sabar pengen punya baby," Ledek Reno, tiba-tiba saja Rendi berhenti tertawa dan fokus dengan ponselnya.


"Kalau cindi nanti punya baby jangan di tidurin di samping rendi, nanti bisa gepeng loh." lagi-lagi rendi tertawa besar.


"Hahahaha," Saat mata menuju ke arahnya dia lagi-lagi terdiam dan pura-pura memainkan handphone nya padahal dia dari tadi sama sekali tidak mengetik atau main game.

__ADS_1


...🐼🐼🐼...


__ADS_2