CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Baikan lagi


__ADS_3

Mereka sama-sama termenung di kamar yang besar itu tanpa sepatah kata pun. Cindi mah menolong nya di samping itu dia masih kesal oleh Rendi. di satu sisi Rendi masih bingung sebenarnya ada apa kenapa istri nya yang biasanya perhatian mendadak berubah drastis.


Cindi lalu mengambil tempat makanan bubur yang sudah di habis kan rendi lalu bergegas turun ke dapur. Di dapur dia memegang Keningnya yang agak sedikit pusing, Tiba-tiba air matanya jatuh membasahi pipinya.


Dia benar-benar tidak menyangkan akan mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya di lakukan oleh sang suami. Cindi kembali naik ke atas namun kali ini dia tidak masuk ke kamar nya melainkan ke kamar tamu.


Cindi membaringkan tubuhnya di kamar tamu, kali ini dia hanya ingin istirahat tanpa memikirkan apapun namun foto itu terus terngiang-ngiang di pikiran nya mana mungkin dia hanya bisa diam saja. Saking lelahnya dia akhirnya tertidur lelap di kamar tamu itu tanpa di sadari Rendi.


Rendi kehausan tenggorokan rasanya kering jadi dia memutuskan untuk mengambil air minum dari atas meja sekuat tenaga.


Tak..... suara gelas pecah terdengar oleh telinga cindi, dia langsung masuk ke dalam kamar di liat nya Rendi yang masih terbengong-bengong langsung panik saat melihat cindi di pintu dengan muka yang masam.


"Lagi ngapain sih, ya ampun." kesal cindi


"Aku minta maaf, tadi aku mau ambil gelasnya tapi...." Belum selesai Rendi ngomong cindi langsung memotong pembicaraan nya.


"Gelas nya pecah kan," kesal nya dia lalu membersihkan pecah beling yang berserakan di lantai. Saat selesai membersihkan pecah beling ada darah yang mengalir mengenai lantai. Rendi sengaja menyembunyikan tangan nya dia khawatir kalau cindi semakin marah karena ulahnya.


"Darah, Coba aku liat tangan mu." ucapnya tegas sama Rendi.


"Nggak papa cuma tergores sedikit" ucapnya dengan wajah yang lesu dan pucat. Tanpa berkata-kata lagi cindi lalu mengambil kotak obat yang ada di atas meja.


"Kenapa nggak manggil sih, luka kan tangan nya." ucapnya dengan merasa bersalah.


"Aku minta maaf, aku pikir aku bisa tadi." Cindi lalu membersihkan darah itu dengan kapas lalu membalutnya dengan kasa dan sedikit alkohol agar darahnya berhenti.


Setelah semuanya selesai dia lalu mengembalikan kotak obat itu di atas meja. lalu mengambil gelas baru lalu di isi air minum.


"Minum dulu haus kan." cindi lalu membantu Rendi meminum air putih itu.


"Kalau masih marah sama aku kamu boleh tinggalin aku." ujarnya dengan kata-kata yang sangat pelan. Terlihat wajahnya yang dulu segar dan tampan sekarang malah terlihat pucat tanpa ada gairah.

__ADS_1


"Aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Rendi padanya.


"Boleh mau tanya apa emang?" ucapnya dengan nada sinis.


"Kamu kenapa masih baik sama aku, masih mau merawat ku. padahal kamu bisa saja pergi ninggalin aku kalau kamu mau." tanya Rendi kepadanya.


"Kalau aku pergi siapa yang merawat kamu." tanya cindi balik.


"Nanti aku urus diri sendiri." mendengar hal itu ingin rasanya cindi memakinya karena tidak bersyukur namun dia sadar kalau Rendi lagi sakit jadi dia berusaha untuk tetap tenang.


"Ya udah terserah kamu, aku mau balik." Cindi lalu membaringkan tubuh Rendi ke kasur saat ingin pergi tangan cindi di tarik oleh Rendi hingga tubuhnya jatuh pas di atas tubuh Rendi.


"Apa yang kamu lakukan Rendi lepasin." teriak cindi kesal.


"Aku ingin mendengar detak jantungmu, aku tidak pernah mendengar detak jantung seorang yang aku cintai sebelum nya." ucap Rendi air matanya jatuh.


"Kamu kenapa sih, lepasin." cindi berusaha memberontak namun Rendi masih memiliki tenaga untuk menahan nya.


"Kamu sakit jantung?" Tanya cindi dengan polosnya.


"Aku sakit hati, Sakitnya di dalam sini karena cintaku di tolak gadis secantik kamu." ujarnya sambil memaksa senyum.


"Boong, bukan nya kamu jadian sama teman kantor mu." ucapnya kesal, akhirnya apa yang ingin di tanyakan bisa dia kasih keluar. Mendengar hal itu Rendi langsung kaget.


"Siapa? aku tidak jadian sama siapa pun, aku kan sudah punya istri." ujarnya.


"Boong, kamu selalu berbohong mas Rendi." kesalnya.


"Kalau aku benar-benar selingkuh tunjukan aku buktinya." Cindi lalu melepaskan tangan Rendi lalu mengambil amplop dari dalam laci. Rendi lalu membuka amplop itu betapa terkejut nya dia bagaimana mungkin dia dan Nayla bisa terekam kamera.


"Ini tidak mungkin, dia Nayla mantan ku dulu. setelah tau aku nikah dia tidak terima lalu melamar di perusahaan itu tanpa sepengetahuan ku. Dia memang sering masuk ke dalam ruangan ku tapi dia yang menggoda ku." terlihat tatapan Rendi kalau dia mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Serius lalu kenapa kamu menerima ciuman nya." ujar cindi


"Dia yang menciumku aku tidak membalasnya bahkan setelah kejadian itu aku tidak pernah mengizinkan dia lagi masuk ke ruangan ku." wajah Rendi berubah menjadi geram.


"maafin aku aku benar-benar tidak tau kalau itu dia, tapi aku Berani bersumpah aku tidak selingkuh. bagaimana mungkin aku mau selingkuh di dalam perusahaan papa aku sendiri kalau aku mau pasti di luar perusahaan." Rendi berusaha menyakinkan cindi.


"Aku maafin tapi aku mau kamu jauhin wanita itu dan jangan pernah sedikitpun merespon nya." ucap cindi tegas.


"Kamu cemburu?" ledek Rendi, cindi lalu tertidur di atas dada Rendi.


"Karena aku mencintaimu," ucapnya sambil menatap wajah pucat itu.


"Sungguh?" Tanya Rendi.


"Iya, aku sayang suami aku takut dia di ambil orang." ujar nya sambil mencium dada Rendi. Rendi lalu mengelus rambut itu lalu berbisik.


"Aku tidak pernah mengkhianati istri yang di pilih orang tua ku untuk ku, aku tau itulah yang terbaik yang Tuhan kasih." ujar rendi. tatapan mata nya sayup menatap cindi dia benar-benar sayang sama wanita itu. wajah cantik itu tersenyum ke arahnya.


"Hari ini kutemani seharian," bisik cindi. Dia lalu berbaring di samping Rendi.


"Ayo buat Bebi?" bisiknya, mendengar hal itu tubuh cindi merinding semua.


"Ahhh, telingaku gatal." cindi pura-pura tidak dengar.


"Mau Bebi," bisik Rendi manja.


"Ishhh masih sakit, nanti kalau udah sembuh aku janji kita buat yah." ujarnya. Rendi lalu tersenyum manis, Rencana perceraian itu kini hanya tinggal nama saja. mereka Tidak akan bercerai hanya karena wanita yang ingin merusak hubungan mereka.


Cindi sekarang sangat puas dia bisa memeluk suaminya sepuasnya tanpa di larang lagi oleh rendi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2