
Saat Dalam masa sulit begini akan sulit untuk menyesuaikan diri, dan hari ini Cindi harus menerima kenyataan harus belajar lebih banyak lagi untuk menghadapi orang seperti Rendi.
Saat Pak Direktur sibuk membahas hal pribadi dengan Lina Cindi malah jadi obat nyamuk nya mereka. Semakin lama di ruangan ini membuatnya semakin merasa pengap juga, di saat kebosanan seperti ini lagi-lagi Rendi mengejutkan dirinya.
"Cindi sini," Panggil Rendi dengan nada yang lantang.
"Iya pak," Cindi mendekati Rendi yang masih terlihat kaku dan kaget.
"Laporan ini masih butuh perbaikan," Rendi membuka laporan yang sudah di print itu dengan beberapa coretan yang masih harus di perbaiki.
"Tapi pak kok di cor...." belum selesai Cindi melanjutkan kata-katanya Rendi langsung mengangkat tangan nya.
"Saya bilang masih kurang bagus," Ucapnya lagi tanpa melihat wajah Cindi yang mulai kesal melihat keangkuhan pria itu.
Cindi berjalan kembali ke sofa dan duduk di dekat Lina dan pak direktur yang kali ini masih terbengong ke arah Rendi.
"Ehmmm, ada apa kak, kok kalian dari tadi benggong menatap Pria Ang." Cindi langsung menutup mulutnya, Tiba-tiba spidol melayang mengenai kepalanya.
Bruukkk... Arrrgggg.....
"Kenapa mba Cindi, lanjut perkataan nya pria Ang apa?" Tanya Rendi yang sekarang benar-benar naik tensi nya.
"Enggak kok pa, maksud aku bapak pria yang anggun iya anggun." Ucap Cindi dengan menutup mulut lagi-lagi dia salah ucap masa ada laki-laki yang anggun...
"Ehmmm, jadi kamu pikir pria seperti ku ini anggun begitu?" Rendi mulai marah-marah tak jelas pak Direktur dan Lina berusaha menahan tawa.
"Hahahaha," Suara tawa pak direktur dan Lina menggema di ruangan itu karena tidak sanggup lagi menahan tawa.
Kali ini Cindi lah yang harus menahan tawa atas kejadian tadi.
"Ehmm, kak Lina kayaknya kita harus balik ke ruang kerja deh." Ucap Cindi takutnya dia kebablasan ketawa di dalam ruangan itu dan membuat Rendi tambah kesal padanya.
"Pa, kalau begitu kayaknya aku dan Cindi harus turun ke bawah dulu deh." Izin Lina kepada papanya.
__ADS_1
Lina sempat menggombal adeknya yang lagi kerja tugas, "Ehmmm Adek Lina yang tersayang kakak turun dulu yah, ingat jangan marah-marah terus nanti gantengnya hilang loh." Lina menasehati adeknya dengan tersenyum-senyum kecil. Rendi malah tidak peduli sama sekali dia hanya bisa diam dan sibuk dengan tugasnya di meja.
Cindi yang ada di samping Lina hanya tersenyum melihat tingkah Rendi yang dingin dan galaknya minta ampun.
...🐼🐼🐼...
"Ada apa denganmu tadi nak, tiba-tiba tensi Rendi naik lagi." Tanya Lina di perjalanan turun ke ruang kerjanya.
"Tadi aku mau bilang kalau dia itu pria yang anggun, tapi ternyata dia malah marah."
"Hahaha Serius kamu mau bilang kalau dia anggun," Tanya Lina. Cindi hanya membenarkan apa yang terjadi itu jika dia memberi tau Lina yang sebenarnya maka habislah dia sekarang di jadikan pisang epek sama Lina. Entah sudah berapa lama mereka di atas sampai tak terasa jam pulang kantor telah tiba.
Tuuut... Tuuut.... Tuut...
"Halo pa," Sapa Cindi di telpon
"Iya nak, ini papa lagi di jalan." Suara papanya terdengar tergesa-gesa.
"Ada apa pak, kok suara papa seperti terjadi sesuatu?" Cindi makin khawatir mendengar suara papanya.
Tanpa pikir panjang Cindi langsung turun ke parkiran untuk menunggu papanya, dia kok semakin gelisah saja. beberapa menit kemudian papanya datang dan langsung menyuruh Cindi masuk ke dalam mobil.
Di mobil Cindi semakin gelisah entah apa yang papanya sembunyikan itu, akhirnya di putuskan ya untuk Bertanya.
"Pak ada apa? kok dari tadi aku liat papa buru-buru. Cindi yang ada ikutan gelisah di buatnya.
"Annisa, Annisa tidak ada di sekolahnya, kata guru lesnya Annisa tidak bisa di temukan di area sekolah itu." Ucap papanya.
"Apa pak, Annisa hilang?" Cindi langsung syok sekaligus panik mendengar adeknya hilang.
"Iya, guru lesnya bilang katanya dia sempat ketemu Annisa di di taman tapi setelah dia kembali untuk menjemput Annisa, Annisa nya sudah tidak ada." wajah pak Tono semakin gelisah dan tidak tau harus bagaimana lagi.
"Papa sudah menelpon pihak kepolisian?"
__ADS_1
"Sudah, polisi juga sementara mencari jejak si pelaku nya."
"Pa, apa ini ada hubungannya dengan guru les itu?" Cindi mulai curiga kalau kasus ini benar-benar ada hubungannya dengan guru les Annisa.
"Kamu kok mengkaitkannya dengan guru les itu." Tiba-tiba saja papanya marah saat Cindi menyebut guru les itu.
"Loh kok papa marah, aku gak maksud nuduh aku cuma mikir nya ke situ aja." Kesal Cindi melihat tingkah bapaknya barusan.
"Gak mungkin dia yang melakukan nya," Kata papanya lagi.
Cindi semakin curiga sama papanya entah apa yang telah papanya sembunyikan kepadanya hingga membela-bela guru les itu. Tapi saat ini dia tidak punya banyak waktu lagi untuk bertanya kepada papa.
Cindi dan papanya akhirnya memutuskan untuk ke kantor polisi lagi, untuk mencari tau perkembangannya. Di parkirnya mobil itu di halaman kantor polisi lalu bergegas turun dan masuk ke dalam kantor polisi diikuti oleh Cindi.
"Pa apakah ada perkembangan atas Kasus hilangnya anakku pak?" Tanya Tono kepada polisi itu.
"Kami sudah menyelidiki beberapa guru dan orang-orang di sekita sekolah itu pak, terutama guru yang bersangkutan tapu kami belum menemukan jejak." ucap pak polisi itu sedikit kecewa juga karena belum bisa menangkap pelakunya.
Tono hanya bisa berharap semoga anaknya tidak apa-apa di sana, Cindi juga semakin cas melihat kondisi papanya yang pusing.
"Pa mama sudah tau?" Tanya Cindi kepada papanya.
"Belum, jangan kasih tau mama mu dulu." nasehat papanya, dia paling tau sifat ibunya jika tau pasti kondisi bisa drop dan bisa membahayakan kesehatan nya. Cindi hanya bisa mengangguk untuk mengikuti saran papanya agar ibunya tidak kenapa-napa.
Entah sudah berapa lama mereka duduk di kantor polisi, Cindi merasa gerah dengan baju yang di gunakan nya.
"Pa antar cindi balik dulu untuk ganti pakaian." ucap Cindi kepada papanya.
"Iya, papa juga mau pulang ganti pakaian, batu balik ke sini lagi." Cindi dan Tono lalu balik ke rumah.
Di rumah ibunya sudah duduk di meja kursi luar menunggu kedatangan mereka, Terlihat dia seperti menyembunyikan sesuatu. Cindi dan papanya turun dari mobil seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Hai ma, kok mama di sini." Tegur Cindi kepada mamanya.
__ADS_1
"Oh mama hanya malas di dalam," Jawab mamanya seadanya.
...🐼🐼🐼...