CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Curhatan mereka


__ADS_3

Dari kejauhan pak direktur dan Reno berjalan kembali ke rumah nek Salimah, Rio menghampiri papanya dengan raut wajah kesal.


"Papa dan kakek pergi kok tidak ajak-ajak Rio!" Kesal Rio saat itu.


"Tadi bapak dan kakek ada urusan bisnis nak." Ucap Reno dan memukul-mukul pundak Rio pelan.


"Urusan kantor yah pa?" Tanya Rio seperti tau saja kalau bapaknya memang sangat sibuk dengan urusan kantor.


"Yah, bisa di bilang itu. Dari pada kamu banyak bertanya lebih baik kita kembali naik ke rumah saja." Reno merangkul Anaknya di ikuti pak direktur dari belakang nya.


Di sofa dari tadi Rendi begitu pendiam dan cuek, dia seperti nya tidak terlalu banyak bicara di bandingkan dengan yang lainnya Rendi rupanya sedikit pendiam dan cuek.


Annisa dan Linda rupanya sudah dari tadi masuk di kamar membawah kucing anggora ikut bersama nya. Cindi dan Siska sibuk mencuci piring di dapur dan yang lainnya ada yang istirahat di kamar dan di ruang tamu. Rumah itu sekarang benar-benar full dan terlihat lebih bernyawa dari pada sebelumnya. mereka semua terlihat sibuk dengan diri mereka masing-masing.


...🐼🐼🐼...


Tak terasa malam pun tiba, rumah itu mulai rameh dengan bercandaan mereka.


"Ehmmm, Apa kalian semua terkejut dengan hal yang tidak di sangka ini?" Tanya Pak direktur membuka pembicaraan.


"Yah seperti itulah, aku juga sempat terkejut dengan kejadian ini." Lina menimpali perkataan papanya.


"Aku paling terkejut selain di kerumuni gadis-gadis tadi siang, Rupanya aku juga di kerumuni keluarga-keluarga baruku." Rio berbicara tanpa sadar kalau suara dia bisa saja di dengar oleh tetangga.


"Seperti nya semua terkejut melihat situasi yang rumit dan tiba-tiba ini." Ucap Reno.


"Seperti nya yang Paling terkejut Rendi." Lina sengaja menyebut Rendi, entah kenapa dia begitu pendiam. Rendi langsung menoleh dan hanya tersenyum saja tanpa berbicara sepatah kata pun.


Sekarang sudah hampir larut malam mereka semua sudah tertidur, ada yang tidur di kamar ada juga yang tidur di ruang tamu.


.........


kukkuruyu...... Kukkuruyu...... kukkuruyu.........

__ADS_1


Suara ayam berbunyi menandakan kalau pagi telah tiba, Cindi, Lina, Wina dan nenek sudah terbangun. Di dapur terdengar suara mereka bercanda sambil bekerja, hari ini mereka harus masak banyak.


"Ehmm, Nenek sudah berapa lama tinggal di kampung ini?" Tanya Lina.


"Setelah menikah kami tinggal di kampung, dan itu sudah hampir masuk 50 tahun nenek tinggal di kampung.


"Apa... Jadi umur nenek sekarang sudah berapa tahun?" Tanya Lina


"Usia nenek sekarang sudah masuk 70 tahun, aku dan bapakmu beda 15 tahun."


"Kok bisa nek?" Tanya Lina.


"Kakekmu anak pertama dan paling duluan menikah, waktu usia nenek masuk 15 tahun Bapakmu lahir, nenek saudara terakhir mereka." Penjelasan nenek rupanya baru bisa di cerna oleh otak Lina dan Cindi.


Sudah hampir satu jam mereka masak dan semua nya selesai di masak, pukul 06 pagi Nenek membangunkan mereka semua untuk sarapan. Di ruang tamu terlihat wajah kedua anak itu lesu dan masih ngantuk.


"Masih ngantuk yah sayang?" Ledek Cindi kepada Annisa dan Linda. Kedua gadis itu hanya mengangguk dan mengucek mata dengan wajah yang murung.


"Nek di kampung sangat dingin, aku saja tadi malam sudah pake sarung masih dingin, jadi aku mengambil selimut Om Rendi." Ucap Rio, perkataan Rio tiba-tiba membuat Rendi kesal.


"Yah mau bagaiamana lagi om, Aku kan tidak tahan dingin!. Dengan polosnya Rio mengatakan hal itu di depan Rendi.


"Kamu pikir om mu ini tahan dengan dingin." Kesal Rendi kepada Rio tambah menjadi-jadi, Ini pertama kalinya dia mengeluarkan suara. Semua orang yang makan di ruang tamu hanya bisa menoleh dengan mereka berdua bertengkar.


"Adek kakak yang ganteng harus mengalah dong sama Anaknya." Nasehat Lina kepada Rendi.


"Ayo makan sebentar berkelahinya, tidak bagus loh makan sambil berbicara. Pak direktur menegur Mereka, Mereka semua terdiam dan melanjutkan makan nya.


Selesai makan, bersih-bersih mereka baru siap-siap akan ke sawah untuk membantu nenek salima panen jagung di sawah. Seperti nya Rendi dan Rio bersemangat karena mereka berdua akan bakar-bakar jagung di sawah.


"Nenek apa kita akan ke sawah." Tanya Annisa kepada nek Salima.


"Iya sayang, kita akan ke sawah panen." Ucap nek Salimah.

__ADS_1


"Hore kita panen lagi," Annisa terlihat bahagia dan berlari ke sana kemari.


"Annisa pernah yah bantu nenek panen?" Lina tiba-tiba menarik tangan Annisa dan menggendongnya.


"Iya, setelah itu kami akan bakar-bakar jagung, rasanya enak." Annisa memperlihatkan jempolnya ke Lina, bahwa jagung bakar itu benar-benar enak.


"Enak dong sayang, tapi karena kita berada di sawah pasti rasanya akan lebih enak lagi." Ucap Lina menggendong Annisa keluar rumah.


Mereka semua berjalan ke luar rumah untuk pergi ke sawah bakar-bakar jagung. Terlihat parah warga lainnya juga bersiap-siap untuk pergi ke sawah mereka untuk panen.


"Nek, apakah di kampung ini semua panen jagung yah?" Tanya Rio heran melihat orang-orang sudah keluar dari rumah mereka untuk panen juga.


"Yah tidak semua, tapi sebagian dari warga akan membantu mereka panen setelah itu bagi hasil." Ucap Nek Salimah.


"Seperti nya nenek tidak perluh cari orang kampung lagi untuk membantu nenek karena kami semua sudah ada." Rio menimpali perkataan nek Salimah.


"Iya, tapi kita akan tetap berbagi sama tetangga." Nasehat Nek Salimah. Kali itu Rio hanya mengangguk dan tersenyum saja.


Para warga bahkan menoleh kepada mereka dengan tersenyum ramah, ada beberapa warga mendekati mereka untuk bertegur sapa.


"Selamat siang nek Salima, ini keluarga nya?" Tanya warga itu.


"Iya, baru saja sampai kemarin." Ucap nek Salimah sopan.


"Ohhh, dari kota yah?" Tanya warga itu lagi.


"Iya Bu," Ucap beberapa rombongan nek Salimah itu dan yang lainnya hanya tersenyum saja.


"Nenek Salimah itu orangnya baik, setelah dia panen dia paling suka memanggil para warga untuk bakar-bakar jagung dan jumlahnya bahkan cukup untuk kira-kira semua nikmati bersama." Warga itu memberi tau mereka kebaikan nek Salimah.


"Kamu ada-ada saja, kan yang bantu kalian juga." Ucap Nek Salimah memukul pundak warga itu pelan.


"Kalau begitu kami duluan yah, kami juga akan panen di sawah orang." Ucap warga itu.

__ADS_1


"Nanti kalau panennya sudah selesai nenek panggil lagi yah." Teriak nek Salima, mendengar hal itu rupanya para warga mengerti dengan apa yang barusan di katakan nek Salimah. Semua yang masuk rombongan nek Salimah hanya terbengong, tidak menyangkah nek Salimah akan memanggil semua warga desa ini untuk pesta lagi.


...🐼🐼🐼...


__ADS_2