
'Di dalam kamar cuma tinggal mereka berdua saja, mereka saling keheranan menatap satu sama lain. Karena kesal akhirnya cindi memutuskan untuk meninggalkan rendi yang sedang menatap nya dengan penuh kekesalan padahal hatinya sedang tertawa melihat tingkah cindi yang tiba-tiba salah tingkah.
Di dapur cindi hanya terdiam tanpa berkutik sedikitpun, bibi inem malah keheranan saat melihat muka cindi yang semakin gak karuan dan semakin banyak diam. Karena tidak tahan lagi melihat muka majikan nya yang begitu pucat dari sebelumnya dan sikapnya yang dingin tak seperti biasanya, akhirnya dia memutuskan untuk bertanya.
"Ehmmm, bibi boleh tanya nggak?" Tanya bi inem kepada cindi.
"I iya bi tanya saja, siapa tau ada yang bisa saya bantu." ucap cindi kepada bi inem.
"Gini loh sayang kalau misalnya kamu mau cerita sama bibi tidak papa cerita aja."
"Iya bi makasih yah, tapi kayaknya hal ini tidak perluh di cerita... yah mungkin karena hal yang lebih pribadi." ucap cindi kepada bibi, bibi langsung paham aja dengan apa yang barusan cindi katakan. Tanda buatnya kalau itu hal yabg baik jadi bi inem hanya bisa tersenyum saja dan memukul pundak cindi dengan pelan.
"Ya udah kalau tidak mau cerita bibi tidak paksa kok sayang, tapi kalau memang ada masalah cerita ke bibi aja siapa tau kan bibi bisa bantu." Ucap bi inem kepadanya.
"Iya bi makasih banget yah," Ucap Cindi seraya memeluk nya mesra.
"Iya sama-sama, ya udah kita makan yuk bibi udah lapar banget." ucap Bi inem.
"Iya bi ayo," Cindi dan bibi menuju meja makan begitu banyak jenis makanan di meja makan. meski tidak terlalu banyak tapi yah setidaknya jenis nya banyak jadi makan nya tidak itu-itu aja. Selama ada bibi seakan makanan di atas meja lengkap, dan hal itu membuat cindi sangat menyukainya selain cepat masak rasanya juga super sedap banget.
__ADS_1
"Woahhh, mantap banget bi kayaknya habis ini aku bakalan kasih makan suamiku." ucap cindi tanpa sengaja mengatakan nya. Bi inem hanya tersenyum saja mendengar nya.
...🐼🐼🐼...
Sarapan pagi sudah siap semua di meja makan, Cindi dan bibi makan di meja makan dengan sangat lahap nya tanpa ada suara, Selesai makan cindi membantu bi inem bersih-bersih dapur, padahal bi inem sudah melarang nya tapi cindi tetap tidak mau dengar.
"Sudah loh neng, nanti bibi aja yang lanjutin kamu istirahat aja." ucap bi inem padanya, tapi cindi malah membalasnya dengan kata-kata yang lembut.
"Nggak papa loh bi, apa salah nya aku kerja juga kan bibi yang membantu aku jadi aku tidak mungkin cuma duduk-duduk saja melihat bi inem malah membersihkan satu rumah setiap hari sendirian." Ucap Cindi sambil mengusap-usap punggung bi inem dengan lembut.
"Iya tidak papa kamu baik sekali, terimah kasih yah." Ucap bi inem membalas menyapu-nyapu punggung Cindi penuh kasih sayang layaknya seorang ibu dan anak.
"Iya bi, ya udah aku naik dulu yah mau liat keadaan suamiku." izin Cindi sambil berlari naik ke atas kamar.
Cindi masuk ke dalam kamar dan membuka gorden yang masih setengah terbuka.
Srekk sreek, Suara gorden berbunyi tapi pria itu belum sadar. silauan dari luar kamar membuat rendi tersadar, matahari di pagi hari langsung menusuk masuk ke matanya dan membuatnya perih. Cindi malah asik menyusun baju dan memmasukkan ke dalam lemari tanpa melihat lagi ke arah rendi.
Rendi terpaksa harus bersusah payah berdiri padahal kepalanya sangat pusing waktu itu. dia berjalan gontai menuju jendela kamar dan menutupnya sedikit agar tidak mengenai matanya.
__ADS_1
Dia lalu berbalik kembali ke tempat tidur nya, tapi silauan itu masih saja mengenai wajahnya. Rendi terpaksa harus terbangun dari tidurnya dan langsung menutup jendela itu dengan gorden.
Sreeek, Suara gorden langsung membuat cindi berbalik menatap ke arah gorden itu. Terlihat rendi yang masih lemas berusaha berjalan kembali ke tempat tidur sambil memegang kepalanya.
Cindi menghampiri pria itu dan langsung memegang kening nya, betapa terkejutnya dia suhu tubuh rendi semakin panas dan keringatan. Cindi langsung mengusap keringat pria itu menggunakan lengan bajunya tanpa memikirkan rendi yang terkejut melihat kedatangan cindi yang tiba-tiba itu.
"Sayang kamu panas banget, kok kmu tidak bilang sih?" Ucap cindi marah, rendi malah seakan baik-baik saja dia cuma diam saja. Cindi membimbing nya ke tempat tidur kali ini rendi cuma bisa nurut rasanya sekarang kepalanya mau pecah padahal tadi pagi dia baik-baik saja tapi suhu panas nya malah bertambah sekarang.
Cindi langsung berlari ke luar kamar, dan berlari menuruni anak tangga tanpa takut terjatuh. Di dapur bi inem yang uring-uringan melihat tingkah cindi yang lari ke sana kemari.
"Haaaaa, Ada apa nak Cindi?" Tanya Bi inem kepadanya.
"Rendi bi, ren di.. bi." Ucap cindi berkata terbata-bata karena kehabisan napas berlari ke sana kemari. Teringat lagi saat dia praktek di rumah sakit beberapa tahun lalu harus benar-benar teliti dan cepat demi nyawa pasien.
"Iya rendi kenapa?" Tanya bi inem heran.
"Entar bi aku jelasin, cindi memasak air panas dan mengambil baskom lalu di simpan air dingin di campur air panas tadi biar menjadi hangat.
"Rendi demam tinggi bi," Ucap cindi sambil berlari-lari menaiki anak tangga sesampainya nya di depan kamar dadanya tiba-tiba terasa sakit. Cindi berdiri di depan pintu untuk mengatur napas nya sambil mengusap-usap dadanya yang ngos-ngosan kayak orang asma.
__ADS_1
Setelah beberapa menit terasa mendingan dia lalu membuka pintu kamar, terlihat rendi pura-pura kuat saat menyadari kedatangan cindi dengan membawah sebaskom air, Air itu lalu di letakkan di atas meja.
Cindi mengambil handuk kecil yang berada di dalam lemari, handuk kecil itu lalu di masukkan ke dalam air hangat dalam baskom. kali ini rendi baru sadar kalau dia akan di kompres oleh cindi. Mau tidak mau dia harus pura-pura diam saja, cindi mendekatinya sambil tersenyum ramah seakan tak terjadi apa-apa padahal dia barusan hampir jantungan akibat lari ke sana kemari.