CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Hari bahagia


__ADS_3

Malam pun tiba waktu yang di tunggu-tunggu akhirnya telah tiba, begitu banyak tamu yang berdatangan. ibu begitu sibuk berbincang-bincang dengan beberapa keluarga besar bahkan tetangga yang di undang oleh Bu hajra mulai saling memperkenal diri. Cindi kali ini merasa lebih dekat dengan tetangga dan keluarga besar nya, bahkan para karyawan kantor banyak juga yang datang dan sebagian juga tidak bisa datang.


Terdengar rumah begitu ramai, cindi sangat menikmati semua nya. tapi ada hal yang mem buatnya sedih. Tiba-tiba dia teringat dengan Denis adiknya yang masih kuliah di luar negeri, dia begitu kangen dengan adik semata wayang nya. Tanpa disadari cindi dari kejauhan seorang gadis kecil yang sudah beranjak remaja berlari kecil menghampiri nya.


"Kaka cindi..." Teriaknya dari kejauhan, mendengar ada suara yang tak begitu asing dan telinga nya dia langsung menoleh dan benar saja itu adik sepupunya. Cindi lalu memeluknya sangat erat sambil celingukan mencari seseorang.


"Ayahmu mana?" Tanya cindi kepadanya.


"Ayah lagi di ruang tamu sama pakde." ucap nya.


"Owalah, adikku mana?" Tanya cindi.


"Dede tadi lagi main sama anak om Reno di halaman rumah." ujar nya.


"Owalah dede, kukira bakalan kangen gitu, yah malah main sama anak om Reno." cetus nya dengan menyungging bibir nya ke kiri seolah lagi ngambek.


"Yah namanya juga anak-anak," ujar gadis tersebut.


"Gimana sekarang udah baikan?" Tanya cindi kepada gadis itu setelah tahun lalu dia mengalami kanker tumor. sekarang usianya menginjak 13 tahun dan dia sudah terlihat lebih sehat dari biasanya.


"Yah Alhamdulillah udah baikan kak ini udah sehat banget." ujar nya ramah.


"Makan malam yok dah lapar, dede nanti biar ibu yang kasih makan." Cindi menarik tangan adik sepupunya itu dari kerumunan orang untuk ke dapur mengambil makanan yang sudah lengkap di atas meja.

__ADS_1


Cindi tadinya bingung sekaligus khawatir jika rumahnya rame tidak bakalan muat buat tamu tapi nyatanya ibu hajra begitu cerdas dia malah mendesain taman sebagai tempat utama, bahkan taman di dalam rumahnya yang begitu luas di hias lalu di kasih kursi dan meja makan agar terlihat luas.


...🐼🐼🐼...


Dari kejauhan ternyata ada yang memperhatikan dirinya dari tadi, siapa lagi kalau bukan Rendi. diam-diam dia memperhatikan cindi yang begitu tampil berbeda dan sangat anggun malam ini.


Sesekali dia mencari keberadaan cindi namun kali ini dia tidak ada lagi di tempat, Rendi tidak mau terlalu pusing jadi dia memilih untuk tetap mengobrol dengan teman-teman kantor yang sedang membahas hal penting.


"Jadi keputusan pak Rendi bagaimana?" Tanya salah satu karyawan di kantor tersebut.


"Kalau masalah itu saya masih kurang paham jadi mohon beri saran yang terbaik menurut bapak," Rendi malah membiarkan karyawan lain mengambil keputusan mereka untuk mengalihkan pembicaraan tadi yang tidak semua dia dengar.


"Iya kami setuju dengan tanggapan bapak barusan, saya mewakili direktur utama untuk menyetujui semua nya." Tiba-tiba Reno angkat bicara, dari tadi memang dia memperhatikan Rendi yang tidak begitu fokus. Terlihat pak direktur juga ikutan setuju, melihat Rendi yang dari tadi gelisah pak direktur utama hanya bisa senyum-senyum dan memberi kode ke Reno.


"Silahkan di makan kuenya, nanti jamuan makan malam berada di taman samping." Ucap Rendi ramah. Terlihat mereka menikmati jamuan yang ada di meja ruang tamu itu. Bahkan orang yang di pekerjakan cindi juga berada di antara salah satu dari mereka, jabatan nya bahkan bukan cuma karyawan biasa akan tetapi udah menjadi salah satu kepercayaan perusahaan.


"Ibu kapan mas Denis pulang toh," tanya cindi kepada ibunya.


"Katanya dia mau pulang di dua bulan kedepan nak, kalau lancar doakan saja." jawab ibunya.


"Owalah, aamiin toh Bu." ujar cindi. Annisa terlihat sibuk memilih-milih kue di atas meja ruang tamu. Dari kejauhan ada seorang gadis yang cantik selalu memperhatikan gerak-gerik mereka, sepertinya tidak begitu suka dengan cindi dan kehidupan nya.


"Dasar gadis licik, liat aja aku gak akan biarin kalian bahagia" ujar nya kesal.

__ADS_1


"Nay udah lah biarin aja jangan di hiraukan lagi, lagian dia udah jadi nyonya rumah juga." nasehat salah satu teman nya.


"Gak tau ah aku kok murka yah liat nya." ucap nya kesal kali ini.


"Yaudah sabar ih, kita pulang yuk besok kan ngantor lagi." Tika menarik tangan Nayla menjauh dari kerumunan. Kali ini Nayla berjalan mengikuti langkah Tika keluar dari kerumunan itu, dia lalu masuk ke dalam mobil sport mewah itu.


Di dalam mobil Nayla masih teringat-ingat dengan wajah cindi yang membuatnya kesal itu. Dia benar-benar kesal kali ini, gadis itu telah banyak mengambil haknya.


Mobil itu melaju pergi meninggalkan tempat itu, dia tidak menyangka kalau ini akan terjadi kepadanya. hatinya benar-benar hancur hanya karena satu wanita itu,


"Masa lalu biarin aja, masih banyak cowok yang lebih ganteng dari dia." nasehat Tika dari dalam mobil.


"Tik kamu gak rasain jadi aku, kesal aku di gituin." ucap Nayla masih menyimpan dendam pada cindi.


"Yah mau gimana lagi udah terlanjur juga kan," ucap tika.


"Aku tidak mau tau apa yang aku rasakan harus di rasakan oleh dia juga, berani nya dia bermain-main dengan Nayla." kesal Nayla dia masih begitu emosi.


"Ya udah terserah Nayla, kalau gini susah dah diam in kamu Nayla." Tika memilih diam kali ini sahabat nya yang satu ini memang agak susah dan keras kepala, dia sendiri binggung menghadapi nya.


"Aku gak terima aja semua ini Tika," ujar nya kesal terasa ada perasaan sedih di hatinya.


Mobil itu lalu memasuki perumahan elit nan mahal, kali ini Tika sudah janji bakalan bermalam di rumah Nayla. Dia benar-benar harus bersama sahabatnya kali ini, dia takut sahabat nya ceroboh malah ngelakuin hal yang tidak dia inginkan. Nayla sendiri gadis yang cerdas sahabat nya aja yang panikan padahal dia tidak mungkin ngelakuin itu semua.

__ADS_1


Sopir dari tadi hanya diam saja melihat tuan nya, dia tahu semuanya tapi milih diam saja dia hafal banget dengan tuan nya, dari kecil dia mengenal Nayla sampai tumbuh menjadi gadis yang cantik. Namun sekarang dia tidak menyangka kalau Nayla sudah berubah bukan gadis yang lembut dan baik hati lagi seperti Nayla yang dulu dia kenal.


Nayla dulu nya gadis yang baik, cerdas, dan bijaksana, semakin dewasa dia semakin keras kepala. lebih sering di club' malam clubing sama teman-teman nya, sampai dia sendiri bingung harus bagaimana lagi menasehatinya.


__ADS_2