CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Cindi berusaha tabah


__ADS_3

Rendi yang di buat heran barusan hanya bisa terdiam saja, Cindi mulai menangis ketakutan rendi yang tidak paham dengan situasi seperti itu malah balik mengira kalau itu akibat dia terlalu kasar dengan nya.


"Kamu lebay sekali deh, di marahi saja langsung nangis." Tiba-tiba rendi langsung marah, Cindi melepas pelukan itu dan langsung salah tingkah. Dia baru sadar kalau dia tadi malah memeluk rendi, Rendi langsung bangkit dari kursinya.


"Nona ini sudah sore, lebih baik kamu pergi mandi lalu masak di dapur." Ujar Rendi kesal dan pergi dari tempat itu naik menuju kamar tanpa pamit atau mengucapkan salam. Cindi hanya bisa mengerutkan keningnya, dia berulang kali mengusap-usap dada nya.


Setelah bermeditasi beberapa menit Cindi merasa agak sedikit tenang, dia langsung beranjak dari kursinya dan naik ke kamar yang berada di lantai dua.


Cekrek, suara pintu terbuka Cindi masuk ke kamar dengan perasaan yang masih kacau. kalau bukan halusinasi dia malah sering mimpi buruk di malam hari. dia berfikir kalau itu efek dari obat, dia selalu berhalusinasi akan di sukai banyak orang dan seolah-olah orang peduli kepadanya, padahal faktanya itu tidak benar sama sekali.


Cindi terduduk di samping kamar, dia menarik laci itu dan mengambil obat dalam laci lalu di minum nya. Dia tidak takut jika dia akan over dosis karena dokter ridho sudah memberinya resep yang benar.


Setelah meminum obat beberapa menit kemudian perasaan cindi merasa sedikit baikan, dia langsung mengambil handuk yang berada di tali jemuran luar kamar itu. Cindi sempat melihat ke luar jemuran itu, terlihat ada taman kecil yang indah di dekat tempat tinggal nya.


Cindi hanya tersenyum dan berharap dia juga akan ke sana kalau lagi bosan atau jenuh di rumah. Cindi membalikkan badan nya, tiba-tiba dia merasa seperti menabrak tubuh seseorang, Cindi mengangkat kepalanya naik betapa kaget nya dia saat melihat yang di tabrak nya ternyata rendi sendiri.


"Arggghhhh," Sontak saja Cindi terkejut saat melihat Rendi hanya menggunakan handuk dan dada nya yang putih dan atletis itu tidak tertutupi apapun. Mendengar Cindi teriak Sontak saja Rendi mengangkat satu alisnya perasaan heran, dia langsung menutup mulut nya agar para tetangga tidak kaget.


"Kamu apa-apaan sih, kayak baru liat hantu saja." Kesal Rendi kepadanya.


"Itu itu itu itu, Cindi menunjuk-nunjuk sesuatu rendi hanya mengira kalau cindi mungkin kecapean.

__ADS_1


"Kayaknya kamu kecapean deh, apa kamu tadi keluar?" tanya Rendi saat baru sadar kalau baju yang di gunakan cindi itu baju yang biasa di gunakan untuk berpergian keluar rumah.


"Iya aku habis dari rumah sakit, aku mau mandi malas bahas nya mending kamu geser aku mau mandi." Cindi kesal saat mengingat tadi tingkah rendi. Rendi hanya bisa mengangkat satu alisnya tanda kaget.


"Ada apa dengan nya, apa dia marah."Rendi hanya menggelengkan kepalanya saja.


Selesai mandi Cindi memakai baju tidur lengan panjang, karena waktu malam akan tiba jadi dia memilih untuk menggunakan baju itu. Cindi lalu turun ke dapur untuk menyiapkan makan malam, malam ini dia lebih memilih menggoreng ikan emas yang ada di dalam kulkas.


"Ikan emas, sayur kangkung, dan nasi putih, kayak nya cocok juga di tambah sambal. Aku masak nasi dulu," Cindi lalu membuka reskuker terlihat masih banyak isinya, cindi baru sadar kalau mereka cuma tinggal berdua saja cindi hanya selalu merasa kalau dia dan keluarganya masih sering berkumpul.


...🐼🐼🐼...


Ikan itu lalu dikerja nya setelah di kerja dia langsung menggoreng nya. setelah semua selesai di kerja, dia langsung menyiapkan nya di meja makan.


"Ya ampun aku kan baru mau," Belum selesai cindi berbicara rendi sudah menghilang dari hadapan nya.


"Ya Tuhan kok gini amat sih hidupku, dasar suami gak ada akhlak." Kesal Cindi, saat membalikkan badan ternyata Rendi masih ada di belakang nya. Cindi kaget saat membalikkan badan nya tau-taunya Rendi masih di belakang nya.


"Ehmmm, kamu bilang apa tadi?" Tanya Rendi kesal mukan nya sudah terlihat memerah akibat kekesalan nya.


"Upppsss, enggak ada kok beb turun makan yuk." Cindi lalu menarik tangan nya untuk turun tapi Rendi malah melepaskan tangan nya dari genggaman Cindi.

__ADS_1


"Gak usah pura-pura baik, aku bisa jalan sendiri kok." Ucap Rendi kasar lalu meninggalkan Cindi yang hanya berdiri termenung di tempat itu.


"Gak papa kok cindi, kamu sudah biasa di perlakukan buruk. ayo bangkit jangan nangis yah." Ucap Cindi pada dirinya, Rendi sempat mendengar nya tapi dia lebih memilih untuk tetap menuruni anak tangga tanpa berkutip lagi.


Cindi mengikuti nya dari belakang, di meja makan Cindi dan rendi makan malam dengan saling berhadapan. Kadang rendi sedikit malu-malu dan merasa asing makan dengan nya.


"Ehmmm, ada apa beb? mau nambah?" Tanya Cindi, lagi-lagi rendi hanya terdiam saja.


"Aku tambahin yah," Cindi lalu mengambil piring Rendi dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Kali ini Rendi malas berkelahi jadi di biarkan saja Cindi menambah nasi nya.


"Ini beb, makan yang banyak gak papa kok ini kan cuma kita berdua kan." tiba-tiba saja rendi berdehem.


"Ehmmm," Mendengar hal itu Cindi merasa sadar kalau dia tidak pernah bisa di harapkan olehnya jadi dia hanya tersenyum.


"Okey lah seperti kamu belum bisa menerima kenyataan kalau kita di takdir kan bersama." lagi-lagi kalimat Cindi terhenti karena Rendi berdehem lagi.


Selesai makan Rendi tetap membantunya untuk membersihkan meja, lalu dia naik ke kamar duluan, Cindi hanya tersenyum melihat punggung itu menjauh darinya.


Kamu sabar cindi, percayalah hari esok dia akan menyesal jika tau yang sebenar nya. Bisik hatinya. Di keheningan malam rasanya hidup seperti sendiri padahal dia tak sendiri, tapi takdir telah berkata lain dan dia harus menerima kenyataan hidupnya.


Cindi berbaring di samping rendi yang sudah tertidur duluan, dia sengaja menyisihkan di tengah-tengah bantal agar itu tidak akan menganggu tidur nya.

__ADS_1


Rendi sebenarnya belum tidur, dia seperti sedang terjebak di tempat yang sangat gelap tanpa ada yang meneranginya. entah kapan kegelapan akan berganti menjadi terang-menerang. Dia memang selalu menjadi keras apalagi yang dia hadapi sekarang adalah Cindi, gadis yang cantik tapi dia seperti belum bisa menerima kenyataan yang sebenarnya.


...🐼🐼🐼...


__ADS_2