CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Di malam hari


__ADS_3

Terlihat kota jakarta yang begitu memukau di malam hari itu, suasana lampu di jalan cukup membuat nya terlihat indah meski itu cuma lampu perumahan.


Rendi terdiam dan termenung di teras rumah sambil menyeduh secangkir kopi hangat yang sudah di siapkan oleh bi inem untuknya. Saat tersadar dari lamunan nya dia baru teringat kalau besok ada meeting di kantor.


"Aduh aku hampir lupa besok kan ada meeting di kantor." ucapnya panik sambil memukul jidat nya tanda menyesal.


Tanpa pikir panjang lagi dia langsung berlari masuk ke kamar mengambil leptop yang berada di atas meja dan menyiapkan salah satu flashdisk untuk menyalin data. rendi kembali ke luar teras untuk menikmati angin malam yang cukup sejuk itu.


"Yah udara malam itu cukup dingin, tapi gak papa lah." ucapnya sambil mendudukkan tubuhnya di kursi beserta leptop dan flashdisk yang di simpan di atas meja.


Sekali-sekali kopi yang sudah hampir dingin itu di seduh untuk mencegah mata nya ngantuk, dia begitu menikmati udara malam di balkon rumah. tidak biasanya dia begitu rileks dan berkawan dengan alam, biasanya dia akan lebih memilih menyendiri di dalam suatu ruangan yang tertutup. Tapi kali ini dia malah memilih untuk menikmati udara malam yang segar dan sejuk sambil mengerjakan data meeting untuk besok.


Sekali-sekali rendi menghirup udara segar itu agar masuk ke paru-parunya, suasana di tempat itu terasa bersahabat dengan nya sampai dia tak menyadari jam sudah menunjukkan pukul 09:00 malam. Karena begitu menikmati malam itu dia bahkan tidak kepikiran dengan cindi, entah kenapa dia merasa masih belum bisa sepenuhnya suka dengan gadis itu. Hanya karena perasaan kasian rendi malah harus pura-pura baik di hadapan nya.


Dia merasa begitu berdosa karena telah mempermainkan perasaan istrinya sendiri, tapi itulah kebenaran nya kalau dia belum bisa mencintainya sepenuhnya. dia masih syok aja dengan pernikahan yang tiba-tiba itu tanpa sepengetahuan nya.


Rendi sekarang tidak mau banyak pikiran lagi, biar tuhan yang atur, dia meski gelisah tapi tetap terlihat begitu tenang dan santai.


...🐼🐼🐼...

__ADS_1


Cindi begitu asik bercerita di kamar bibi inem sampai lupa waktu kalau sekarang sudah mau jam 10:00 malam. Cindi tetap menikmati malam itu bersama bi inem, sampai tiba waktunya bi inem teringat waktu.


"Ehmm, nak cindi kamu tidak mau balik ke kamar?" Tanya bi inem khawatir kalau nanti dia di cari sama suaminya.


"Tenang aja bi, dia udah terbiasa sendiri. Jadi tidak mungkin kalau di cariin." ucap cindi tanpa sadar waktu itu.


"Maksudnya, kamu bertengkar lagi nak sama dia?" Bi inem tiba-tiba kepo dengan rumah tangga mereka.


"Tidak kok bi, kami malah baik-baik saja loh." ucap nya sambil tersenyum ramah, padahal sebenarnya kalau di tanya seperti itu hatinya seperti terluka. ada hal yang di ketahui nya yang tidak mesti di tau orang lain dan cukup dia saja yang tau. Mendengar hal itu bibi inem malah tersenyum saja seolah tak terjadi apa-apa.


"Syukurlah kalau begitu, ya udah apa kamu masih mau cerita atau sudah mau balik ke kamar?" Tanya bi inem ramah.


"Kayaknya aku lebih memilih di sini aja bi, lanjut ceritanya lagian dia juga pasti sibuk di kamar kalau tidak sibuk paling tidur." ucap cindi menebak-nebak kebiasaan rendi sehari-hari.


Entah sudah berapa abad dia mendengar bi inem bercerita tapi tidak merasa bosan sedikit pun. sampai akhirnya cindi mulai mengantuk dan memilih untuk balik ke kamar.


"Woahhh, aduh bi maaf banget kayaknya aku mulai mengantuk." ucap cindi sambil menutup mulutnya karena menguap di depan orang tua.


"Ohhh iya nak cindi, terimah kasih banget sudah mau mendengarkan cerita bibi ini." ucap bi inem sambil tersenyum ramah kepada cindi.

__ADS_1


"Iya sama-sama loh bi, ya udah aku naik duluan yah bi makasih juga sudah mau berbagi cerita." ucap cindi ramah sambil berjalan keluar dari kamar bi inem, terlihat bi inem hanya tersenyum saja melihat punggung cindi yang mulai menjauh dari hadapan nya. Bi inem menghela napas lalu bangkit dari tempat tidur untuk menguncinya.


suara langkah kaki memasuki kamar itu, terlihat rendi masih sibuk aja dengan laptop di depan nya. Cindi menatap semua ruangan untuk mencari tau keberadaan rendi, sampai akhirnya dia tampak sengaja mendengar ada suara di balkon kamar itu. Cindi ingin mengintipnya tapi tiba-tiba dia merasa takut kalau itu pencuri.


sreeek..... sreeekkkk.... suara gorden membuat cindi malah merinding dan berpikiran aneh-aneh saat itu.


"Aduh sebenarnya ada apa sih di luar?" Tanya cindi semakin khawatir dan mulai merinding.


Sreek.... Sreeekkk.... lagi-lagi suara gorden tertiup angin bunyi lagi. Tapi kali ini cindi benar-benar semakin ketakutan dan memilih untuk tidur. Tanpa pikir panjang dia melompat ke tempat tidur sambil menyelimuti badannya dengan selimut.


Saat memejamkan mata, tiba-tiba ada yang mendekati tempat tidur cindi langsung was-was dan bersiap-siap untuk memukul nya.


"Aduhhh.... benar kan kataku ada orang lain tadi di luar," ucap cindi sambil berusaha untuk menenangkan diri. Tanpa pikir panjang bantal yang di pake nya langsung di arahkan ke sumber suara itu tanpa melihat siap dia.


Bruuk, bruuk, dua lemparan bantal melayang ke muka rendi, Rendi yang berjalan ke tempat tidur langsung kaget.


"Apa-apaan ini, aku baru masuk sudah di lempari bantal." kesal rendi, Mendengar suara itu mata cindi langsung terbelalak kaget. dia langsung buru-buru melepas selimut yang membungkus tubuhnya. kali ini cindi langsung keringat dingin saat melihat wajah orang yang di lemparin.


"Aduh matilah aku, kirain tadi maling atau makhluk astral." ucap cindi tanpa sengaja, muka rendi mulai bertambah merah menatap ke arah cindi, gimana tidak merah itu muka. lagi santai-santainya jalan masuk kamar eh tau-taunya dapat bantal melayang.

__ADS_1


"Apa-apaan ini?" bentar rendi marah saat itu, dia benar-benar marah. Padahal baru saja dia selesai mengerjakan data kantor malah di lempari lagi bantal sama cindi bertambah lah emosinya. Niatnya istirahat malah ilang, Cindi lalu meminta maaf tapi rendi malah meninggalkan nya sendiri di kamar itu.


"Aduuuh mana aku tau kalau itu dia," ucap cindi dengan wajahnya yang pucat, dia lalu balik ke kasur dan melanjutkan tidurnya.


__ADS_2