CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Curhat Pak Direktur


__ADS_3

Mendapatkan pujian dari orang lain itu sudah hal yang biasa menurut Cindi tapi mendapatkan pujian dari orang yang terpenting pasti kita akan merasa senang, dan bahagia itulah yang di rasakan cindi. dia merasa begitu di hargai, tapi yang Cindi takutkan jika kepercayaan itu hilang dia khawatir orang yang memujinya akan balik jadi orang yang akan menyerang nya.


"Bapak mau cerita tentang pertama di dirikan nya kantor ini sampai dia bisa sebesar ini."


"Wah seru dong pak, mendengar sejarah perusahaan ini langsung dengan yang punya.


"Jadi awal mulanya berdiri perusahaan ini itu di mulai dari nol, kakek saya dapat bagian harta warisan tanah yang sudah di bagi rata. tapi tanah ini selalu di ganggu sama kakaknya, karena kakek kesal jadi dia mau menjadikan perusahaan. awalnya perusahaan nya cuma satu lantai itu waktu aku masih kecil. kakek menjual perabotan rumah, yah karena di Jakarta waktu itu susah di dapat perabotan rumahnya, jadi kakek ku punya pelanggan dari berbagai daerah.


"Jadi sebagian perabotan rumah ada yang di bikin sama kakek? tanya Cindi.


"Yah ada sebagian seperti gelas yang terbuat dari keramik dan yang lainnya kakek bisa buat, selain itu kakek pintar mengukir jadi keramiknya itu di ukir kaya seperti itu. kakek menunjukkan keramik yang ada di dalam lemari. Cindi menoleh melihat nya, terkagum-kagum akan keindahan lukisan keramik itu.


"Pak, itu peninggalan kakek?"


"Yah bisa di bilang begitu." jawab Pak Direktur.


"Masih utuh yah pak, atau tidak pernah di pakai?"


"Pernah tapi karena sekarang jaman sudah modern jadi kakek simpan buat kenangan.


"Oooh, terus bangun lantai duanya hasil dari penjualan perabotan rumah yah?" tanya Cindi lagi.


"Iya, kakek membangunnya sampe lantai tiga, bapak sempat belajar cara buat keramiknya dan mengukir jadi saat kakek meninggal aku yang melanjutkan usahanya. saat aku ya.g melanjutkan usaha kakek itu semakin berkembang pesat. jadi saya mengumpulkan uang hasil penjualan keramik, setelah semua cukup untuk buat perusahaan aku tambah menjadi lima lantai tapi pada saat itu kami masih tetap menjual keramik.


"Wooooahh hebat yah pak, memulai dari awal ternyata tidak mudah."


"Yah itulah, tapi jika kita memulai dari nol ketika kita jatuh maka kita tidak perluh takut akan jatuh lagi."


"Jadi bapak pernah jatuh atau bangkrut."


"Kalau jatuh pernah tapi tidak sampai bangrut, karena kami punya tabungan. Saat bapak jatuh perusahaan bapak kehabisan stok, tapi bapak masih punya simpanan modal yang ternyata bisa membuat perusahaan yang lebih besar lagi. jadi bapak mulai konsisten yah hasilnya sampe sekarang bapak masih perluh belajar."

__ADS_1


"Oooh aku merasa bapak cocok di masukkan ke buku sejarah," ucap Cindi dengan tertawa, pak direktur ikut tertawa.


"Yah boleh juga, jatuh bangun bukanlah hal yang perluh kita sesali tapi perluh kita pelajari dan yakin kan bahwa jika kita bisa bangun perusahaan kecil pasti perusahaan besar juga bisa kita bangun.


"Aku semakin kagum loh sama bapak, tidak ku sangkah bapak tidak pernah menyerah padahal bapak pernah kehabisan stok tapi uang bapak masih banyak di tabungan."


"Jadi bapak itu sudah belajar menabung dari kecil, bapak tidak suka menghamburkan uang tapi ketika bapak remaja bapak sempat nakal dan suka bergaul sama anak-anak nakal, bahkan sampai menghamburkan uang, tapi bapak banyak ambil pelajaran, anak nakal itu lalu ku panggil kerja di tempat kakek dan alhasil sekarang anak-anak nakal itu sudah sukses semua.


"Berarti itu semua bantuan dari kakek dong." Ucap Cindi.


"Iya, itu juga karena walaupun mereka nakal mereka di didik kakek belajar di sekolah tinggal di rumah kakek, bantu kakak menjual lah itu semua juga karena kebaikan hati kakek membantu anak-anak yang tidak mampu sekolah."


"Tapi bapak pernah ketemu sama mereka semua?"


"Yah kami dulu sering ketemu tapi sebagian dari mereka sudah ada yang meninggal."


"Oooh, tapi memang berapa teman bapak yang di rawat dan dipekerjakan sama kakek?"


"Oooooh, saudara kakek sangat mirip dengan mu, dia punya anak empat tapi bapak sudah tidak pernah ketemu."


"Wah bapak bercanda yah?"


"Yah bapak serius pertama kali melihat kamu bapak selalu teringat sama adik kakek adik kakek sekarang tinggal di kampung karena suaminya sudah meninggal."


"Oooh, kalau Cindi boleh tau di kampung adik kakek tinggal sama siapa?"


"Bapak dengar berita kalau dia di rawat sama anaknya." Ucap bapak sedih, Cindi juga ikut merasa sedih mendengar perkataan pak direktur.


"Maaf yah nak kalau bapak banyak cerita, entah kenapa bapak suka jika kamu yang tau masa lalu bapak."


"Yah karena mungkin bapak sudah akrab sama aku jadi bapak lebih terbuka."

__ADS_1


"Iya, lain kali bapak boleh cerita lagi?" tanya bapak kepada Cindi.


"Boleh dong pak." Cindi memegang pundak bapak seperti ada aliran darah yang masuk ke tubuhnya.


Rendi yang melihat hal itu sebenarnya ikut terharu dia tidak pernah tau kalau ayahnya punya duka seperti itu. tapi Rendi pura-pura sibuk kerja kan tugas, harusnya sebagai anak Rendi lah teman curhat bapaknya bukan orang lain.


"Lah kalau begitu kayaknya Cindi balik kerja dulu pak, karena banyak pekerjaan nanti Cindi di cari."


"Iya nak, lain kali kita cerita lagi."


"Siap komandan," kata Cindi mengajukan hormat layaknya hormat kepada komandan. hal itu membuat pak direktur dan Rendi tertawa tapi Rendi pura-pura kerja lagi saat bapaknya meliriknya.


...🐼🐼🐼...


Cindi keluar dan mengingat kejadian yang di katakan pak direktur, bukannya neneknya juga di rawat sama anaknya di kampung. aku harus tau deh seluk beluk keluargaku siapa tau ada hubungannya dengan pak direktur. setidaknya aku bisa mempertemukan pak direktur dengan neneknya.


Cindi semakin penasaran dengan perkataan pak direktur dia terus kepikiran sampai tidak fokus kerja.


"Ehhhhmmm, apa kamu memikirkan direktur baru itu? tanya Lina.


"Ih kak Lina, kak aku boleh tanya?"


"Yah tanya saja sayang, ada apa?"


"Tadi pak direktur, cerita sama aku kalau kakeknya itu punya saudara perempuan tinggal di kampung."


"Terus?"


"Yah terus yang pasti kakak tidak percaya kalau mendengar semua ini. kak Lina bisa bantu aku cari tau asal usul pak direktur, kakak kan Anaknya.


"Siap deh, nanti aku bantu." Lina lalu berbalik ke layar komputer untuk melanjutkan pekerjaan nya.

__ADS_1


...🐼🐼🐼...


__ADS_2