CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Konsultasi ke dokter


__ADS_3

Sepertinya hari ini Cindi izin setelah selesai waktu siang untuk pergi konsultasi ke rumah sakit. Terlihat dia berjalan terburu-buru sampai menabrak Rendi Yang sibuk menelpon dengan klien.


Handphone di tangan Rendi melayang ke udara saat Cindi menabrak punggungnya tapi berhasil di tangkap oleh Rendi dengan tangan kanan nya. Melihat hal itu Cindi kagum dengan situasi itu tapi berbeda dengan Rendi yang kelihatannya tidak menyukai kejadian ini. dia langsung saja menatap Cindi dengan tatapan tajam menusuk, Melihat hal itu Cindi hanya bisa menunduk dan meminta maaf.


"Maaf saya tidak..." Belum selesai Cindi melanjutkan perkataanya terlihat pria itu melanjutkan berbicara di telpon dengan klien dan meninggalkan Cindi mematung di tempatnya.


Hari ini Cindi sangat terburu-buru saat hendak ingin naik taksi dia melihat Bayu sedang tertawa di salah satu restoran di depan kantor. Cindi berusaha untuk memastikannya dan berpura-pura untuk melihatnya lebih jelas, dan benar saja itu bayu.


"Bayu, perempuan itu siapa?" Tanya Cindi curiga, saat hendak melangkah kan kakinya lebih dekat lagi sopir tiba-tiba memanggilnya.


"Mba mau naik nggak?" Tanya si supir.


"Eh iya pak tunggu sebentar lagi yah." Cindi mulai mendekat tapi langkahnya terhenti saat melihat Bayu membelai rambut pirang wanita itu bahkan sempat mencium tangannya sambil tertawa bersama.


"Apa-apaan ini," Cindi dengan sigapnya masuk ke dalam kafe lagi-lagi sang sopir memanggilnya tapi Cindi tidak menghiraukannya.


...🐼🐼🐼...


Bayu tidak menyadari kehadiran Cindi dia bahkan tak henti-hentinya mencium tangan wanita itu.


"Ehmm, Halo sayang sedang apa kamu di sini? bukannya ada kantin kantor yah." Ucap Cindi dengan berpura-pura membuat gadis di samping Bayu marah.


"Eh siapa kamu?" Tanya Wanita itu, muka bayu semakin pucat pasih.


"Eh kayaknya aku kenal sama kamu, bukannya kamu mantan nya Bayu yah." Ucap Cindi sengaja membuat wanita itu kepanasan.


"Mantan?" Gadis itu semakin marah mukanya sekarang merah seperti kepiting rebus akibat menahan malu.

__ADS_1


"Perkenalkan nama saya Cindi, sayang kok kamu di sini sih sudah mau jam kantor loh." Ucap Cindi kepada Bayu.


"Eh Bayu dia siapa?" tanya wanita itu marah.


"Ehhhm mau juga dia jadi selingkuhan, sayang sekarang kamu dapat mangsa baru yah." Ucap Cindi dengan menyentuh wajah Bayu untuk memanas- manasi gadis itu.


"Hei kamu siapa sih datang-datang langsung seenaknya memanggil sayang pacar orang." Bentak Wanita itu, semua yang ada di kafe ikutan kaget dan menoleh ke arah mereka bahkan ada yang sengaja merekam nya.


"Aku pacarnya Bayu tapi sepertinya sekarang sudah tidak lagi karena sekarang dia sudah dapat mangsa baru, pria seperti dia tidak akan bisa setia." Cindi menunjuk-nunjuk wajah Bayu penuh kemarahan bahkan sampai menamparnya.


Pakk, suara tamparan melayang ke pipi kanan Bayu dan ini kesekian kalinya dia dapat tamparan dari wanita.


"Lain kali jangan suka mempermainkan hati perempuan." Bentak Cindi lalu pergi dari tempat itu, dia kali ini tidak menangis karena dia buka lagi anak kecil, cukup dia menangis karena penyakitnya bukan untuk pria seperti Bayu.


Saat Cindi berlalu pergi dari hadapan Bayu dan selingkuhannya, terdengar wanita itu juga memarahi Bayu dia pergi dengan menahan malu atas kejadian tadi. Tinggal lah Bayu sendirian di tempat itu terdiam dan mematung beberapa kamera bahkan masih merekam dirinya.


Telpon berdering untuk ke sekian kalinya tapi Cindi tidak lagi menghiraukannya dia mau menangis tapi malu sama supir taksi jadi dia memilih hanya terdiam dan melamun saja.


Taksi itu akhirnya sampai di depan rumah sakit yang sangat besar, Pak Supir terlihat tersenyum ramah padanya.


"Makasih yah pa sudah mau menunggunya saya bayar yah sama uang menunggu nya, sisahnya untuk bapak saja dan anggap saja ini sedekah dari saya pak. Ucap Cindi dengan menyodorkan tiga lembar uang seratus. mendengar hal itu bapak di dalam taksi tersenyum dan berterimah kasih.


"Terima kasih banyak non semoga yang maha kuasa akan membalas kebaikan non." Ucap supir itu. Saat Cindi hendak melangkahkan kakinya Sopir itu sempat memberi tau cindi hal yang mengejutkan dirinya.


"Non banyak-banyak tersenyum, jangan stress dan jaga kesehatan non jangan sampai penyakit non kumat." Nasehat bapak di dalam taksi itu lalu tersenyum dan berlalu pergi. Cindi sempat mematung mendengar hal itu, ini baru pertama kalinya dia di nasehati dengan orang yang baru dia kenal dengan kesehatan dirinya.


"Hufft, Mungkin bapak itu seorang psikologis." Ucap Cindi lalu masuk ke dalam rumah sakit besar itu, Hari ini dia memang sudah janji jam 01:00 akan bertemu dengan dokter ridho.

__ADS_1


Tok tok tok


Terdengar suara dari dalam mempersilahkan Cindi untuk masuk, Cindi lalu masuk ke dalam ruangan itu terlihat pak ridho sedang memberi obat kepada pasien yang bisa di bilang masih lebih mudah dari dirinya.


Menyadari kedatangan Cindi gadis itu tersenyum padannya dan izin ke dokter untuk pulang. Cindi lalu duduk menggantikan posisi gadis itu, Pak ridho menceritakan kondisi gadis itu.


"Gadis itu mengalami hal yang sama denganmu untungnya dia mendapatkan penanganan yang cepat sehingga jantungnya masih bisa tertolong." Ucap dokter ridho.


"Syukurlah dok kalau dia masih bisa di selamatkan." Ucap Cindi.


"Obat mu apa sudah mau habis lagi?" Tanya pak Ridho.


"Iya dok, Tapi akhir-akhir ini kondisi jantungku sepertinya cukup membaik dok." Ucap Cindi.


"Alhamdulillah jika ada perubahan, kalau begitu sekarang pergilah di ruang periksa." Ucap Dokter ridho mempersilahkan Cindi untuk ke ruang pemeriksaan. Cindi mengikuti dokter ridho dari belakang dan berbaring di ruang itu untuk di periksa.


"Sepertinya detak jantungnya sedikit membaik, pokonya kamu tidak boleh terlalu stress dan banyak pikiran setidaknya gunakan waktumu untuk bermeditasi agar oksigen bisa lebih masuk ke dalam paru-paru dan jantungmu, kamu juga harus ingat pesan dokter waktu itu." Nasehat pak ridho dan berharap kondisi Cindi akan cepat pulih tanpa harus mencari pendonor jantung lain yang belum tentu jantungnya sehat.


"Iya dok, obatku sepertinya sudah mau habis." Ucap Cindi dengan tertawa kecil.


"Baiklah ayo bangun dan kembali ke kursi pasien, saya akan mengambilkan obat untukmu." Ucap Pak ridho dan berjalan ke kursi kerjanya kembali.


"Ingat kamu butuh meditasi yang baik setidak setelah bekerja kamu bisa melakukan meditasi sebentar dan melanjutkan kerja lagi." Nasehat dokter ridho. Cindi hanya mengangguk dan setelah mengambil obat dia izin pamit ke dokter untuk kembali ke kantor.


"Kalau begitu terimah kasih atas bantuan dokter karena sudah mau setia untuk menjadi dokter saya." Ucap Cindi dengan menjabat tangan dokter ridho.


"Iya sama-sama ini juga sudah kewajiban saya sebagai dokter." Kata-kata pak ridho cukup membuat Cindi takjub.

__ADS_1


...🐼🐼🐼...


__ADS_2