
Rendi terbaring di sofa kali ini dia binggung harus bagaimana lagi menjelaskan nya kalau tidak ada Cindi, tapi cindi malah datang sebagai penyelamat baginya. masa lalu nya yang kelam membuatnya merasa bosan dan lelah dengan kehidupan dan ujian yang dia lalui.
Tidak akan ada yang tau selain Cindi dan tuhan kalau selama ini pria yang terlihat tampan, dan kadang bersikap dingin, dan angkuh itu akan mengalami hal yang serumit ini. tapi sekarang orang tua dan kakanya sudah tau penyebab Rendi sampai mengalami halusinasi.
Bahkan pendidikan cindi yang di tutupi dari orang lain, sekarang malah terbongkar. Ternyata dia lulusan sarjana keperawatan dan ilmu psikologis pantas cerdas.
Lina begitu kagum melihat hal ini, ini pertama kalinya dalam hidup bertemu orang yang bahkan bisa membaca pikiran orang lain hanya dengan melihatnya. jadi selama ini cindi juga tau kalau ada orang yang sedih di sekitarnya, ilmu jiwa Cindi memang terbilang cukup tinggi. waktu kuliah dia bukan cuma kuliah saja tapi cindi mempraktekkan ke orang-orang yang ada di sekitarnya.
Semua yang ada di ruangan itu hanya bisa mengucapkan kata kagum dan keren dari mulut mereka.
"Wah aku bahkan tidak tau kalau kamu bisa membaca pikiran orang lain, pantas saja kamu sangat gampang mempelajari situasi ternyata ESQ mu sangat tinggi." Puji pak direktur.
"Tidak tinggi juga kok pak, Cindi bahkan masih tahap belajar sampai sekarang." Ucap Cindi.
"Belajar, jadi kamu masih tahap belajar? Ajari dong." Rengek Lina sambil memeluk Cindi. Rendi masih tertidur pulas di kasur, Cindi teringat kalau dia dan kak lina akan makan siang tadinya tapi karena kejadian ini mereka malah lupa.
"Kak lina bukanya kita tadi mau turun sarapan!."
Cindi mengingatkan Lina yang masih berbincang-bincang.
"Astaga kakak sampai lupa, kita naik kan mau tanya papa makan apa yang mau dia pesan." Lina hanya bisa memukul jidat.
__ADS_1
"Kalian mau turun sarapan?" Tanya Reno.
"Iya kak," Ucap lina.
"Ya udah aku dan papa titip, pak mau makan apa?" Tanya Reno kepada papanya.
"Aku mau makan gado-gado, rendi belikan nasi Padang saja." Ucap Pak direktur.
"Aku juga nasi Padang satu, jadi nasi Padang dua satu gado-gado." pesan Reno, lina hanya mengangguk saja. Mereka lalu keluar dari ruang kantor itu menuju kantin bawah, di kantin Cindi dan lina memesan makanan.
Beberapa menit kemudian pesanan mereka sudah sampai, dia juga sudah memesan kan saudara dan papanya. Cindi dan lina menyantap makanan itu, sepertinya mereka berdua benar-benar lapar sekarang.
Dari kejauhan bayu dan temannya menatap mereka, Cindi dan lina tidak menghiraukan yang lain lagi mereka lebih fokus untuk mengisi perut nya.
"Dia yah istri direktur baru?" Tanya lela.
"Sepertinya dia, di samping nya kan anaknya pak direktur." Ucap Lidya. Lina yang mendengar hal itu sontak saja kaget. Lina melihat dari kejauhan bayu terus menatap mereka yang jadi bahan perbincangan hangat di kantor.
"Ehmm, iya dia orang nya calon tunangan adikku. Kalian mau tau itu kan, dia bukan cuma calon tunangan dan akan jadi ipar, tapi dia juga adalah adik sepupu ku." Lina menyampaikan berita itu ke semua orang yang ada di kantin. semua yang mendengarnya hanya bisa menutup mulut kaget dan heran,
"Pantas saja mba lina selalu bersama Cindi ternyata mereka sepupu." Ucap Salah satu pengunjung. Cindi sepertinya senang mendengar hal itu, dia bahkan sempat melihat bayu di kursi paling pojok sedang menatap mereka. Saat Cindi menatapnya balik bayu langsung tertunduk malu saat mengingat kejadian kemarin di restauran depan kantor. Sekarang dia merasa kehilangan sosok gadis idaman pria seperti Cindi, baik, cerdas, cantik, dan lembut hatinya. Cindi bahkan masih bisa tersenyum ke arah teman bayu.
__ADS_1
...🐼🐼🐼...
Setelah menjelaskan semua itu Lina dan Cindi balik naik ke lantai atas di ruang kantor pak direktur, pintu lift terbuka Cindi dan lina keluar dari lift itu menuju ruang kantor papanya.
Tok tok tok, Reno membuka pintu kantor dan mempersilahkan cindi dan lina masuk ke dalam.
"Masuk dong," Ucap Reno. Lina dan Cindi masuk ke dalam kantor itu, Cindi mengambil piring yang ada di lemari kecil rak piring dan tiga gelas. Dia membawah nya ke meja, mba lina memindahkan makanan itu ke piring yang sudah di ambil cindi dari lemari. Cindi lalu mengambil tekok dan mengisinya di dispenser yang terletak di samping meja kerja rendi. Rendi masih tertidur, sepertinya dia kelelahan dan bisa jadi dia begadang semalam.
Melihat wajah pria itu, bisa di bilang dia pria yang sangat tampan. jika tertidur dia akan terlihat sangat imut dan kalem, tapi kalau sama cindi sikap nya berubah-ubah. Cindi hanya tersenyum kecil, dia berfikir bagaimana mungkin dia akan menikah sama pria yamg sikapnya bisa berubah dalam waktu sesaat. Cindi hanya tersenyum kecil, setidaknya dia sudah memberi bayu pelajaran.
"Pak aku mau ke perpus baca yah," Ucap Cindi kepada pak direktur.
"Iya silahkan," Cindi masuk ke perpus yang ada si ruangan itu entah ini sudah ke berapa kalinya dia ke sini. Cindi memilih-milih buku yang ada di perpus, Cindi suka perpus itu karena buku-bukunya lengkap seperti perpus kampus nya dulu. Mata Cindi tertuju ke salah satu buku yang menarik dia liat, judulnya "Cara mudah mengatasi masalah sulit dalam kehidupan.
"Cara mudah mengatasi masalah sulit di kehidupan, sepertinya ini buku psikolog." Cindi berjalan ke ruang meja baca yang ada di depan dekat jendela kaca. Jadi jika orang membaca maka dia bisa melihat pemandangan yang indah di bawah sana. Gedung lantai lima saja sudah terlihat menawan, ini gedung bahkan sampai 30 lantai pemandangan di atas pasti tidak kalah indah nya.
"Waw it's so amazing, Ya ampun alih-alih mau baca buku malah sempetin lihat pemandangan kota jakarta." Cindi mengambil hp nya, Dia Selfi dengan pemandangan jakarta di bawahnya. Cindi lalu duduk di kursi itu dan mulai membaca buku, beberapa menit kemudian dia mengantuk Cindi terpaksa harus mengistirahatkan matanya, dia menutup buku itu dan tertidur di atas meja.
Sudah hampir setengah jam Cindi tertidur di dalam perpus itu, Lina berjalan menuju perpus dan di dapat nya Cindi sedang tertidur pulas melipat tangan nya.
"Cindi bangun, sudah hampir setengah jam loh kita di sini." Ucap lina sambil membangunkan Cindi. Cindi terbangun dan mengucek matanya, dia tidak sadar kalau dia tadi benar-benar akan tertidur.
__ADS_1
...🐼🐼🐼...