CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Tempat les Annisa


__ADS_3

Setelah Lina bercakap ke papanya perihal keluarganya akhirnya Lina tau banyak hal tentang papa, dia lalu masuk ke dalam kantor dan menceritakan semuanya ke Cindi apa yang papa nya katakan.


"Cindi, berkat dirimu aku lebih tau tentang banyak keluarga aku." ucap kak Lina dengan memeluk Cindi senang.


"Pak direktur bilang apa kak?" tanya Cindi, Lina menceritakan semuanya yang papa nya bilang mulai dari A sampai Z.


"Kata papa dia punya kakek saudara kakek masih hidup katanya tinggal di kampung kebayoran, dia tinggal dengan di rawat anaknya, tapi kakak lupa namanya siapa.


"Terus pak direktur bilang apa lagi?"


"Kata papa dia masih ingat wajah neneknya, papa bahkan menyimpan foto nenek."


"Terus fotonya mana kak?" tanya Cindi


"Uuupppss aku lupa membawanya." kata Lina menutup mulut tanda bersalah.


"Oooh iya tidak masalah,"


Jam kantor sudah habis semua, semua kariawan sudah pulang. Cindi menelpon papa jika papa nya bisa jemput, tapi kak Lina tiba-tiba mengajaknya ikut dengannya.


"Gak usah kak, papa udah di jalan loh," ucap Cindi meyakinkan Lina.


"Ohhh, aku duluan yah, Hati-hati anak cewek sendirian di parkiran." Kak Lina sengaja menakut-nakuti Cindi, tapu Cindi hanya bisa tersenyum saja.


Setelah kepergian kak Lina CEO angkuh datang dari belakang bersama papanya.


"Nak Cindi, lagi nungguin siapa nak?" Tanya pak direktur dari belakang dan membuat Cindi terkaget.


"Lagi nungguin papa," Ucap Cindi sopan.


"Ohh, kalau begitu kami duluan yah?" Pak direktur dan CEO angkuh itu lalu masuk ke dalam mobil. Tinggal lah Cindi seorang diri di parkiran itu, tak selang beberapa menit papa nya datang.


"Hai sayang, papa tadi ada meeting loh makanya telat jemput nya." Ucap papanya kepada Cindi, Cindi hanya bisa memaklumi nya karena di juga sering mengalami hal yang sama seperti papanya.


Mobil itu melaju pergi meninggalkan kantor perusahaan ternama itu, di perjalanan Cindi hanya terdiam saja tanpa berbicara sepatah kata pun.

__ADS_1


"Nak, kamu ada masalah lagi di kantor?" Tanya papanya.


"Nggak kok pa, Santa sedikit kecapean saja." Cindi sengaja menyembunyikan nya dari papanya, lagian ini juga tidak ada hubungannya dengan urusan papanya.


"Kita jemput adekku yah," Ucap papanya.


"Emang si Annisa masih di sekolah pa?" Tanya Nya heran, biasanya kan Anak itu pulangnya cepat dari sekolah.


"Iya dia sudah pulang, tapi papa ikutin adikmu less di rumah salah satu guru mengajarnya bersama teman-teman yang lain.


"Emang anak sekecil itu tidak kecapean yah pa?" Tanya Tania lagi, dia saja waktu sekolah dulu jam 12 sudah pulang.


"Tidak lah, di sana kan bukan cuman belajar saja tapi juga bermain bersama temannya." Papanya berusaha menenangkan Anaknya.


"Ohhhh, kayak sekolah di negeri sakura saja pa." perkataan Tania membuat papanya binggung negeri sakura itu di mana.


"Negeri sakura itu di mana nak?" Papanya Memang sering dengar di kantor nya tapi dia tidak ada waktu untuk bertanya ke orang-orang di sekitar kantor.


"Yaelah papa, negeri sakura itu sebutan dari negara Jepang, karena banyaknya pohon bunga sakura di sana jika musimnya tiba." Penjelasan Cindi cukup membantu papanya untuk mengetahui bahasa anak milenial jaman sekarang.


"Hahahaha, yah namanya juga anak jaman now pa, pasti bahasanya kekinian."


"Iya, anak jaman sekarang bahasa nya terlalu singkat dan padat yah."


"Iya dong pa, Annisa aja tau apa itu negeri sakura." Papanya semakin heran aja di buatnya.


"Nisa tau, wah berarti papa harus ikut jaman nih," ujar papanya dengan kaget.


...🐼🐼🐼...


Tak lama mereka berbicara tempat les privat Annisa sudah sampai, rumah itu terlihat cukup besar yah setidaknya hampir sama besar lah dengan rumah Cindi. Cuman nuansa rumah itu terlihat lebih memukau kalau di lihat dari luar nya.


Mobil itu di parkirnya di pinggir jalan depan rumah itu, agar tidak susah lagi jika mau keluar. Cindi begitu terpesona dengan nuansa gaya rumah itu meski tidak terlalu besar tapi terlihat elegan dan terkesan mewah.


Pak Tono masuk ke dalam rumah tersebut diikuti Cindi di belakangnya. Pintu rumah itu bahkan terbuka hanya pagar nya saja sengaja di tutup rapat agar tidak ada anak-anak yang main di pinggir jalan.

__ADS_1


Di dalam terlihat seorang guru dan asisten mengajarnya, sedang mengajari anak-anak membaca, menulis, menghitung, bahkan bermain.


"Selamat siang Sore Bu?" Sapa pak Tono. Wanita itu langsung berbalik dan menyapa kembali pak Tono.


"Eh,, Siang pak, anaknya sudah boleh pulang loh." Ucap Bu Dhini.


"Kalau begitu terimah kasih yah Bu sudah mau mengajar Annisa." Ucap Pak Tono. Annisa yang menyadari papanya datang langsung memeluknya.


"Iya pa sama-sama, Annisa besok lagi yah belajarnya." Ucap ibu Dhini itu dengan perkataan yang lemah lembut.


"Iya Bu," Annisa tersenyum kepada Gurunya itu.


"Annisa kamu harus izin dulu sebelum pulang." Nasehat papanya menasehati Annisa agar belajar sopan kepada orang yang lebih tua. Tanpa pikir panjang, anak itu langsung pergi memeluk guru cantik itu dan mencium pipinya.


"Dada Bu," Teriak Annisa. gurunya hanya tersenyum saja melihat anak itu melambaikan tangannya dan keluar dari rumah tersebut.


Di luar Annisa, Pak Tono dan Cindi masuk ke dalam mobil dan mobil itu melaju pergi meninggalkan rumah yang terlihat indah itu.


"Pa, papa kenal di mana sama guru Annisa?" Tanya Cindi.


"Papa kenalnya karena Annisa yang kenalin sama gurunya, katanya gurunya selalu memberi Annisa hadiah." Ucap pak Tono.


"Jadi Annisa yang minta mau di ajar sama guru itu pa?" Tanya Cindi heran dengan sikap wanita itu tadi.


"Iya, katanya Annisa mau belajar di rumah Bu Cindi," Ucap papanya lagi.


"Terus papa langsung percaya gitu," Cindi mulai khawatir dengan kedekatan Annisa dengan wanita itu.


"Ish kakak kok ngomong nya kayak gitu sih, jangan hina guru Annisa." Annisa yang melihat Cindi mengintrogasi gurunya langsung marah.


Guru itu kasih makan apa Annisa sampai dekat banget, khawatir Cindi dalam hatinya akibat melihat senyum gadis itu seperti ancaman saja bagi keluarga nya.


"Kakak kan cuman nanya dek," Ucap kakanya kepada Annisa berharap adiknya tidak tersinggung dengan sikapnya. Mendengar perkataan kakanya Annisa hanya bisa terdiam di mobil sampai dia tertidur pulas, Cindi dari tadi hanya bisa terdiam seketika saat Annisa mulai menegur dirinya. Rasanya dia malas lagi untuk mengeluarkan suara nya dan berusaha untuk menghilangkan ke khawatiran pada dirinya.


Semoga saja tidak terjadi apa-apa nantinya dan kekhawatiran nya akan redah.

__ADS_1


...🐼🐼🐼...


__ADS_2