CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Polisi ikut senang sekaligus kesal


__ADS_3

Tono lalu memberi tau kebenaranya kepada polisi, Tono merasa legah sekaligus marah sama tingkah kekonyolan Dion yang tidak memberi info padanya.


"Pak polisi aku sudah tau pelakunya," Ucap Tono.


"Siapa pelakunya?" tanya pak polisi itu.


"Dia Dion seorang dokter yang berusaha menolong anaknya di rumah sakit akibat kanker yang dialami anaknya, anaknya butuh teman untuk menyemangati nya untuk operasi bulan depan." Ucap Tono menjelaskan maksud penculikan Annisa.


Pak polisi yang mendengarnya terharu dia bahkan tidak menyangka kalau akan ada kasus yang seperti ini terjadi. ini kasus pertama yang membuat para polisi di tempat itu ikut terharu.


"Dion itu siapa?" Tanya seorang Wanita.


"Dion adik saya Bu, dia sengaja mengambil Annisa dari sekolahnya karena jika dia izin takutnya tidak di izinkan.


Pihak kepolisian akhirnya menutup kasus ini, dan memberi semangat kepada Tono atas apa yang menimpa keluarga nya.


"Kamu harus menjengguk anaknya, kami juga akan datang menjengguk anaknya." Nasehat salah satu polisi yang menangani kasusnya.


"Iya aku ikut, aku mau menjitak kepala dokter Dion itu siapa suruh sudah berani bermain-main dengan penculikan." Kesal salah satu polisi senior di kantor itu.


"Aku juga mau ikut, dan akan ku kasih bunga atas acting dokter itu." Salah satu polwan yang sangat cantik ingin memberi bunga kepada dokter itu.


"Kalau istrinya cemburu?" Tanya Lani polwan yang bersamanya duduk.


"Gak aku bercanda bunganya untuk anaknya kok." Seila menangapi perkataan Lani.


"Kalau begitu saya pulang dulu ya pak, pagi-pagi mau ke kantor, maaf sudah menyusahkan kalian." Izin Tono kepada para karyawan kantor itu.


"Tidak papa nak ini sudah tugas kami," Salah satu polisi yang paling tua di kantor itu malah menghilangkan rasa bersalah pada Tono. Seorang polisi mudah menghampiri Tono,


"Kak jangan lupa beri tau kami kapan bapak akan pergi menjengguk anak dokter itu." pesan pria itu.


"kamu terlalu bersemangat, sana lanjut kan kerjamu." Ucap salah satu atasan itu.

__ADS_1


"iya nanti akan aku berikan info," Tono lalu pergi dari kantor itu dengan mengendarai mobil menuju ke jalan raya besar. di jalan dia benar-benar ngebut akibat dari kekonyolan adiknya itu telah membuatnya kesusahan.


Ternyata anak itu masih juga menyusahkan aku, dari kecil sampai sekarang dia suka cari gara-gara sama kakak nya ini.


Tono memarkir mobilnya di halaman rumah, terlihat Cindi dan istrinya sudah menunggu di depan rumah.


"Pa bagaimana kabar Annisa?" Tanya Wina khawatir.


"Annisa ada sama Dion ma, dia katanya mau mengajak Annisa ke rumah sakit karena anaknya di fonis kanker." Ucap Tono sedih.


"Syukurlah Alhamdulillah," Wina sangat bersyukur di pikirnya kalau anaknya hilang betulan.


"Pa Cindi ikutan yah ke kantor," Ucap Cindi kepada papanya.


"Iya, kamu cepatlah siap-siap papa juga mau mandi dulu." Nasehat Tono, Tanpa pikir panjang Cindi langsung berlari naik ke kamarnya dan siap-siap untuk ke kantor.


"Kalau begitu kita harus menjengguk anaknya, lalu akan ku jitak kepala Dion karena sudah berani menakut-nakuti ku." kesal Wina.


"Iya, tapi kayaknya kita harus meminta izin ke guru Annisa untuk beberapa hari ini,"


...🐼🐼🐼...


Di rumah sakit yang besar itu Dion dan Annisa masuk ke dalam di gendong oleh omnya, terlihat dia begitu menikmati pemandangan di depannya. Sampai tiba di tempat tujuan lantai lima, Terlihat para tenaga medis membungkuk untuk memberi hormat kepada Dion.


"Selamat pagi dok," sapa salah satu perawat.


"Pagi," Dokter Dion dan Annisa lalu masuk ke dalam kamar pasien. Terlihat Linda terbaring lemas dengan infus di tangannya. Annisa langsung turun dari gendongan omnya lalu duduk di samping Linda.


"Om kenapa banyak selang di tangannya om." Tanya Annisa dengan polosnya.


"Itu cairan nak, supaya Linda bisa cepat sembuh." Nasehat Dion. Terlihat annisa meski masih kurang paham tapi hanya bisa mengangguk mendengar nya.


"Linda kamu tidur yah," Ucap annisa tapi Linda tidak mendengar kan apa yang di katakan oleh nya, sepertinya dia masih tertidur pulas.

__ADS_1


"Kamu bisa bermain dengannya jika dia sudah terbangun, bagaimana kalau pergi sarapan." Ajak Dion.


"Om ajak Linda juga yah," Ucap Annisa dengan polosnya memohon kepada omnya.


"Tidak bisa sayang, nanti Linda kita belikan saja setelah kita sarapan pagi." Nasehat Dion kepada annisa dengan berjongkok di depannya.


Kroook..... Kroook... Bunyi suara perut Annisa terdengar sangat besar, Dion bahkan bisa mendengar nya. Annisa hanya bisa tersenyum tersipu malu lalu mengikuti omnya keluar dari ruangan rumah sakit menuju lift.


"Sepertinya perutmu sudah minta jatah makan nak." Tegur Dion dengan tersenyum ke arah annisa, Annisa hanya tersenyum saja mendengar perkataan omnya.


"Apakah kaki mu sudah baikan karena ulah pria yang kemarin?" Tanya Dion kepada annisa.


"Iya om, sudah baikan kok." Ucap Annisa.


Di Restoran depan rumah sakit Dion lalu memesan sarapan pagi dengan Roti dan susu untuk annisa. Sedangkan Dion sendiri malah memesan nasi dan ayam goreng.


Tak terasa begitu lama pesanan mereka sudah datang, annisa lalu memakan mengambil roti coklat satu porsi besar itu lalu memakannya dengan lahap. Dion hanya tersenyum-senyum kecil melihat tingkah Annisa makan, dia sempat teringat Linda yang terbaring di rumah sakit.


Selesai makan Annisa dan Dion kembali ke rumah sakit itu, di lift annisa sepertinya sudah sangat kekenyangan. Terlihat di tangan Dion bungkusan pesanan untuk Linda dan susu di tangan satunya.


"Om biar aku saja yang bawah susunya." Ucap annisa lalu mengambil susu di tangan kanan omnya. Dion hanya bisa pasrah saja, karena sepertinya dia kewalahan memencet tombol lift.


Di koridor rumah sakit lantai lima Orang-orang semakin banyak yang berdatangan, Di depan kamar di tempati Linda terlihat sudah ada sang ibu yang menjaga nya dan menyuapinya bubur.


"Sayang kapan kamu datang?" Tanya Dion.


"Dari tadi aku sudah hampir 15 menit di sini, Eh ada Annisa. Sayang kamu harusnya balik ke rumah sakit tempat kamu kerja, siapa tau ada pasien yang mau konsultasi." Nasehat Dian mama Linda.


"Kalau begitu aku berangkat dulu yah, Sayang aku berangkat dulu." izin Dion sebelum pergi, lalu mencium pipi kiri dan kanan putrinya. Annisa hanya tersenyum saat Linda menyapanya dengan senyuman.


"Sayang aku pergi dulu, kamu temani Linda yah." Ucap Dion kepada annisa, Annisa hanya menganggukan kepala.


Sesampainya Dion di lantai bawah dia langsung menuju ke tempat parkiran dan masuk ke dalam mobil dengan terburu-buru. Mobil itu melaju cepat ke jalan raya menuju rumah sakit terbesar di kota itu.

__ADS_1


...🐼🐼🐼...


__ADS_2