
Rendi sontak saja duduk di dekat cindi seolah-olah tidak ada yang terjadi, dia lalu pura-pura menatap ke arah cindi lalu mengunyah beberapa roti panggang di meja makan itu. sarapan di atas meja itu begitu hening, kalau ada ibu hajra memang meja makan selalu hening. ibunya tidak suka jika makan sambil bercanda ria, katanya tidak bagus buat kesehatan tubuh.
Sarapan pagi membutuhkan waktu setengah jam, Rendi terlihat hanya memakan beberapa roti panggang lalu meminum susu yang sudah di siapkan di hadapan nya oleh ibunya. sedangkan cindi dan hajra lebih memilih sarapan dengan nasi, lauk pauk yang di beli semalam oleh cindi.
Setelah sarapan selesai Rendi terlihat pamit ke ibunya mencium tangan ibunya sedangkan cindi mencium tangan suami nya. Rendi berjalan keluar rumah dengan tas kantor di tangan nya, ibu dan cindi lalu membersihkan sisa-sisa makanan yang berserakan di atas meja lalu membantu ibu hajra mencuci piring. Terdengar mobil sedan hitam mahal itu melaju pergi dengan cepat, cindi kali ini teringat apa yang akan dia katakan tadi namun tidak sempat dia lanjutkan.
"Bu, cindi semalam ketiduran di mobil tapi siapa yang angkat cindi ke tempat tidur?" Tanya cindi.
"Yah suamimu lah nak, loh kok nanya gitu... emang nya kalian bertengkar lagi yah?" Tanya ibu hajra kepadanya.
"Nggak Bu, cuman agak sedikit aneh aja sama Rendi." tanpa sadar kata-kata yang keluar dari mulut cindi barusan membuat ibu hajra kaget.
"Maksud nak cindi aneh gimana?" Hajra bertanya lagi seolah-olah tidak tau apa-apa.
"Owhh nggak papa Bu, cuman kan biasanya dia jarang peduli kepada perempuan." ujarnya.
"Yah kan sekarang udah beda nak, cindi kan udah jadi istrinya jadi walau bagaimanapun itu sudah menjadi kewajiban nak Rendi juga kan." nasehat Bu hajra, kali ini cindi hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Setelah semua selesai cindi dan Bu hajra pergi ke ruang tamu, mereka berniat mau duduk-duduk di ruang tamu sehabis bersih-bersih tadi. terlihat wajah cindi begitu murung, ibu hajra lalu menepuk pundak nya.
__ADS_1
"Ada apa lagi nak?" Tanya Bu hajra
"Gak papa Bu," ucap cindi kepadanya dengan perkataan lembut.
"tidak usah di pikirkan lagi, nanti juga Rendi bakalan baik lagi loh." mendengar perkataan Bu hajra cindi agak begitu tenang sekarang.
Bu hajra mengambil remote tv dari atas meja lalu menyalakan tv, kali ini dia mencari siaran berita. Sedang cindi yang tidak begitu suka dengan siaran berita memutuskan untuk membaca majalah yang berada di atas meja itu.
Di dalam mobil Rendi masih terpikirkan atas kejadian semalam, dia benar-benar tidak menyangka kalau bakalan menggendong tubuh wanita itu. Saat melihat wajahnya dia seperti kenal lama dengan nya tapi dia bingung pertama kali ketemu di mana atau cuma karena dia setiap hari ketemu jadi wajahnya sekarang begitu familiar baginya.
Dia teringat lagi dengan gadis perawat yang dia jumpai di kampus nya waktu itu, dia tersadar kalau wajah itu hampir mirip dengan nya. Hanya saja dia tidak berani untuk bertanya, seandainya dia pasti dia tidak lupa dengan nya juga.
Rendi lalu memarkir mobilnya di pojok paling ujung, saat hendak keluar dari mobil semua karyawan menyapa nya. seakan dia baru ketemu kawan lama nya setelah sekian lama tidak jumpa.
"Selamat pagi pak," sahut beberapa karyawan sambil tersenyum ke arah nya.
"Iya selamat pagi." ucap nya dengan suara berat dan terdengar tegas, sambil tersenyum ke arah mereka.
Sebagian dari mereka ingin cari perhatian tapi di urungkan niatnya setelah mendengar suara parau berat itu menyapa mereka balik. seperti ada perasaan segan terhadap atasan mereka, atau takut dekat dengan bos karena takut salah ngomong atau terlihat tidak sopan.
__ADS_1
...🐼🐼🐼...
Rendi berjalan dengan tegap dengan jas yang serta dasi yang begitu rapi. Di tambah lagi dengan wajah nya yang tampan rupawan yang bisa membuat siapa pun akan terpikat oleh sosoknya. terdengar beberapa karyawan yang berjalan di belakang nya sedang berbisik-bisik memujinya namun itu sudah hal yang biasa. ini bahkan bukan pertama kalinya dia di puji oleh banyak wanita, ini sudah sekian kalinya.
Di dalam lift hanya ada dia, Pikiran nya dari tadi begitu campur aduk. Kejadian semalam membuat nya sakit kepala di tambah lagi kejadian tadi pagi. Lift yang ditempati Rendi memang khusus buat Atasan aja yang bisa pakai, karyawan biasa tidak di perbolehkan. Biasanya sih tetap rame tumben aja kali ini tidak begitu rame, apa karena masih pagi banget nyampe nya atau emang karyawan udah pada di atas semua.
Keluar dari lift langsung berhadapan dengan kantor nya, Rendi berjalan menuju kantor namun kali ini dia makin heran ternyata pintu kantor masih kekunci. Rendi memeriksa seisi tas laptop yang dia genggam itu, setelah mengotak-atik semua Kasper tas akhirnya dia menemukan kunci kantor itu.
Cekrek, suara pintu terbuka, Rendi masuk ke dalam ruangan itu lalu melihat jam tangan nya. dia masih heran kenapa petugas kebersihan belum ada yang datang bahkan beberapa atasan belum ada yang datang. Kali ini Rendi hanya menggaruk-garuk kepala nya yang tidak begitu gatal.
Setengah jam kemudian tepatnya pukul 08:00 Beberapa karyawan berdesak-desakan masuk ke ruangan. Rendi lalu keluar dari dalam ruangan dan menanyakan beberapa hal kepada para pembersih yang baru baru datang.
"Hemmm, ini kok baru pada datang, ada apa yah?" ucap Rendi tegas.
"Maaf pak tadi di jalan Sutomo ada demo jadi beberapa dari kami banyak yang telat, jalan sempat dijaga oleh beberapa petugas kepolisian." ujar bapak sambo.
"Owhh," Rendi hanya mengangguk-angguk tanda paham, dia teringat waktu masa-masa kuliah dia sering ikut demo bareng temen nya. Yah maklum tidak ada yang kenal dia di luar kampus jadi dia begitu aman. Seandainya saja ada satu orang saja yang mengenal dia dari luar kampus pasti nya perusahaan bapaknya tercemar, kampus juga begitu tertutup dengan Rendi karena di kampus nya bapaknya juga termaksud pemegang saham dan sukarelawan membantu beberapa anak-anak masuk kerja di perusahaan nya.
Rendi tersenyum- senyum sendiri mengingat masa-masa dia sebelum menikah dulu, ternyata dia begitu sudah di atur oleh keadaan organisasi kampus yang membuatnya ikutan berbuat onar di jalan. Jadi jangan heran kalau Reno sering datang ke kampus mewakili papanya jika ada laporan dari peninggi kampus tentang tingkah laku Rendi.
__ADS_1