
Mereka berjalan masuk ke dalam kantin, terlihat semua mata menatap mereka ada yang memandang nya sinis, ada yang memuji dan ada juga yang sibuk menghujat Cindi.
"Aku kok tidak suka melihat gadis itu dekat-dekat dengan Pak direktur." Ucap salah satu kariawan.
"Aku sih suka sama muka imut cantik dan alami kakak senior itu." puji mika.
"Apaan sih kamu, harusnya kamu dukung aku dong aku kan teman kamu." ucap wanita itu marah kepada teman nya.
"Ehhm belum jadi artis sudah di hujat, sepertinya kamu cocok jadi penyiar dek bukan kariawan, kariawan itu kerja nya di komputer bukan membicarakan keburukan orang." Ucap lina pas di depan gadis itu.
Semua menatap ke arah mereka langsung terdiam, ada juga yang bertepuk tangan mendukung keberanian lina. Gadis itu menunduk tampak malu, rendi yang melihat kejadian itu cuek-cuek saja bahkan dengan santai nya dia melewati semua orang dan duduk di kursi paling pojok diikuti reno.
Lina dan Cindi masih berdiri di hadapan perempuan itu, Cindi menarik tangan Lina.
"Maaf yah dek sudah menganggu, lain kali kalau mau bicara di pikir dulu supaya tidak menyinggung perasaan orang lain." Nasehat Cindi sambil memukul pelan pundak wanita yang menghina nya dengan tersenyum manis.
dengan kata-kata terdengar lembut membuat semua orang kagum dengan sikap murah hati cindi.
Apalagi sikap pemberani yang dimiliki Lina membuat bukan hanya mengagumi wajah cantik nya tapi juga kecerdasan dan keadilan nya membela yang di tindas.
Ini bukan pertama kali Lina menegur orang lain jika merasa tidak sesuai dengan kebaikan, meski kata-katanya pedas tapi lina mampu mengimbangi diri nya agar tidak terbawah emosi terlalu tinggi.
Mereka bahkan masih bisa tertawa setelah barusan lina marah karena merasa orang lain di hina. Bahkan sepengetahuan mereka ada yang merekam kejadian itu dan meng upload nya di youtube tapi wajahnya disengaja di sensor agar tidak merusak nama bahkan perusahaan.
"Cindi kamu mau pesan apa sayang?" Tanya lina.
"Aku pesan nasi padang aja deh kak," Ucap Cindi.
"Aku juga nasi Padang, Rendi, kak Reno mau pesan apa kak?" Tanya Lina.
"Aku ayam geprek pedas satu, kalau rendi kamu mau pesan apa?" Tanya reno.
"Aku pesan yang di pesan kak reno deh kak, kalau kak lina tadi pesan apa?" Tanya Rendi balik.
__ADS_1
"Seharusnya yang di tanya Cindi rendi bukan kakak," Ledek Lina, Rendi hanya tersenyum di paksa.
"Oh malu yah bang," Ledek Reno.
"Ih dia malu-malu kucing," Lina menggombal adiknya. Tapi lagi-lagi Rendi hanya nyengir saja, dia malas berbicara akhir-akhir ini.
"Ehh minumnya apa?" Tanya Cindi.
"Aku jus alpukat satu." Ucap lina.
"Aku juga satu, rendi kayaknya es alpukat deh." Ucap reno.
"Heeh," Jawab rendi singkat dan kembali fokus ke handphone nya. Beberapa menit kemudian kasir datang dan mengambil catatan pesanan mereka.
"Air putih dingin juga empat yah mba." Pesan lina sebelum kasir pergi dari hadapan mereka.
"Iya mba," Ucap sang kasir dan tersenyum ramah lalu pergi dari hadapan mereka. Mereka mengobrol-ngobrol lagi sebelum pesanan mereka sampai.
"Cindi liat deh foto waktu abi masih bayi," Ucap Lina memperlihatkan ke cindi foto waktu abi berumur satu bulan bahkan sampai besar semua ada di handphone Lina.
"Iya, dia sangat pintar bergaya." Ucap lina.
"Ini abi sudah umur berapa tahun Si mba?" Tanya Cindi.
"Dia sudah berumur delapan tahun masuk sembilan." Ucap Lina.
"Abi waktu kecil suka nangis, sampai-sampai lina harus cuti dan terpaksa harus merawat abi. Setelah dia sudah sekolah lina kembali meminta papa untuk mempekerjakan dirinya." Reno mulai menceritakan kesusahan Lina merawat abi.
"Yah walau bagaimana pun kita sebagai ibu memang perluh merawat anak apa lagi usia abi kan masih balita, rencana memang aku off selama lima tahun untuk merawat abi biar dia tidak merasa kesepian." Jelas lina.
"Wah, wah, memang yah nasib seorang ibu itu perjuangan nya bisa di acungin jempol. Sinta saja yang harus merawat dua anak kecil merasa tidak terbebani padahal dia sebenarnya sering bangun di tengah malam kalau dedek nya lagi bangun." Jelas Reno.
Terlihat Rendi tertarik sama cerita mereka, dia menghentikan aktivitas nya yang berpura-pura dari tadi. Dan ikutan serius mendengar penjelasan Lina.
__ADS_1
"Eh katanya rio jago bela diri loh." Tiba-tiba cindi membuka suara setelah lama terdiam, rasanya rendi ingin mengatakan sesuatu tapi mulutnya seperti terkunci sekarang.
Flasback on
Waktu itu Rio di kepung sama teman nya dan dipukul, mungkin dia merasa kalau rio terlalu polos.
Rio pulang sekolah bajunya penuh tanah dan mukanya merah-merah habis di tonjok, rendi bertanya ke padanya apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi kenapa muka mu bengkak-bengkak." Tanya rendi yang waktu itu masih sma.
"Uhuuhuhu.... om aku mau pindah sekolah teman-teman ku selalu memukuliku." Ucap rio masih menangis di hadapan kakanya.
"Rio kamu harusnya melawan, bukan malah mau di tindas." nasehat rio yang paling berkenang di telinga rio sampai sekarang.
Keesokan harinya Rendi datang ke sekolah bersama Rio dan langsung menghadap kepada sekolah membawah adiknya.
Tok tok tok, pintu ruang kepala sekolah terbuka, betapa kagetnya dia anak donatur sekolah ini datang dengan membawah anak kecil penuh wajahnya penuh tonjokan.
"Pa saya mau bertanya, ada apa ini kenapa sekolah di sini tidak becus mengurus siswanya masa keponakan saya mukanya benjol-benjol begini padahal belum cukup berapa bulan sekolah di sini?". bentak-bentak rendi marah.
"Ini keponakan kamu, maafkan kami karena kurang memperhatikan anak-anak sekolah ini yang bertingkah semaunya." pak kepala sekolah meminta maaf.
"Pokoknya saya tidak mau tau pak, kalau bapak tidak menghukum semua anak-anak itu maka saya akan melaporkan kasus ini ke polisi." Rendi marah-marah dan mulai mengambil handphone di tangan nya.
"Jangan nak, kami akan melakukan yang terbaik." Ucap bapak itu memohon-mohon.
"Pak saya bukan tuhan saya juga manusia biasa, akan marah kalau melihat keponakan saya di perlakukan tidak adil. saya mau bertemu dengan anak-anak itu atau bapak akan saya lapor ke polisi." Rendi tidak bisa lagi menahan amarahnya, terlihat Rio hanya menunduk wajahnya masih terasa sakit bekas tonjokan teman nya.
Akhirnya pak kepala sekolah membawah rendi masuk ke kelas Rio dan menyuruh mengaku siapa yang sudah berani melakukan nya.
Dengan takit-takut satu persatu anak itu maju, mereka lalu dihukum sama pak kepala sekolah berdiri di depan kelas sampai bel berbunyi di lakukan selama sebulan. Akhirnya mereka berhenti menggangu Rio tapi dendam dengan nya, akhirnya rio diajari ilmu bela diri di usia 07 tahun.
Tak terasa pesanan mereka sudah datang, reno menjelaskan perjalanan hidup malam sang rio kecil.
__ADS_1
...🐼🐼🐼...