CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Joging di taman


__ADS_3

Cindi masuk ke ruang olahraga, di liatnya memang berantakan. Cindi memang tadi lupa membersihkan nya karena akibat haus habis olahraga makanya dia langsung turun ke dapur.


"Ya ampun benar-benar kotor, aku memang gak ada akhlak bukan nya di bersihin malah aku biarin kalau rendi liat bisa habis aku." Cindi langsung masuk dan menyimpan ke tempat nya semula. Selesai membersihkan semuanya Cindi langsung mengunci kamar itu lalu beranjak pergi dari tempat latihan menuju kamar.


Pukul 04:00 sore Cindi bersiap-siap untuk pergi


olahraga, dia lalu menggunakan baju dan celana panjang untuk pergi lari pagi di sekitaran kompleks. Rasanya dia sangat menikmati olahraga itu, berlari-lari di sekitaran kompleks dan bertegur sapa dengan para penghuni kompleks itu.


"Hai, kakak orang baru yah." ujar siska.


"Iya, aku orang baru di sini." Ujar Cindi sambil tersenyum ramah kepada mereka.


"Kakak kita lari bareng-bareng aja, ini juga mau joging pagi." Ujar salah satu anak itu.


"Boleh dong, kalian kan lebih tau tentang kompleks ini kakak mah gak tau takutnya nanti kesasar gak tau pulang." Ujar Cindi menimpali perkataan mereka.


"Kirana ayo kita temenin kakak cantik ini." Ujar dinan.


"Kalian umur berapa?" Tanya Cindi penasaran sama umur mereka semua.


"Kami udah SMA loh kak," Ujar mereka serempak.


"Hahahahha, oh SMA badan kalian kayak anak kuliahan loh." Tegur Cindi, mereka hanya tertawa saja.


"Bagus dong kak, Kan nantinya juga akan kuliah." Ujar salah satu dari mereka.


"iya bener loh kak," Mereka tetap bercerita sambil berlari-lari kecil. Tak terasa sudah jam lima sore mereka sudah sampai di salah satu taman di luar kompleks itu.


"kakak istirahat dulu yah." Ujar Cindi nafasnya sekarang ngos-ngosan gak jelas sama seperti yang lain.


"iya boleh," Ujar kirana.


"Kakak kok mukanya pucat, lagi sakit yah kak." tegur siska kepada mereka.


"Pucat, hahahaha kakak baik-baik saja kok." Ujar Cindi sambil tersenyum ramah.


"Ohhh," ujar mereka serempak.


"Eh aku haus nih kalian gak haus?" Tanya siska kepada mereka.


"Haus dong, kakak pesan air botol gak dari kulkas yah." Ujar Cindi.

__ADS_1


"Gak dari kompor juga kak?" Tanya siska dengan polosnya.


"Hahahahha, kumat lagi dia." kirana begitu tertawa terbahak-bahak.


"Nggak dong sayang." ucap Cindi, dia tau tadi siska cuma bercanda saja.


"Kalau dia kayak gitu tadi kak, itu tanda-tanda dia akan melawak lagi." ujar kirana sambil tertawa terbahak-bahak.


"Hahahahha," Cindi ikutan tertawa, Kirana sudah pergi bersama dinan sekarang tinggal cindi dan kirana yang sedang mengobrol bersama.


"Kakak tinggal dengan siapa di sini?" Tanya kirana.


"Sama suami dek," Ujar Cindi.


"Suami...." Teriak kirana dengan kaget, Cindi langsung melirik ke kanan dan ke kiri berharap tidak ada yang dengar sambil menutup mulut Kirana dengan kedua tangan nya.


"Woah.... kak, kak, huhuhu.... hiks hiks hiks." Karena gak bisa napas dia malah nangis, cindi malah tidak sadar kalau dari tadi dia membungkam mulut nya kirana. Saat sadar Cindi kaget dia baru sadar kalau dari tadi dia itu membungkam mulut kirana sampai membuatnya tidak bisa bernafas.


"Aduuh maaf gak sengaja," ujar cindi lalu tersenyum seakan semua baik-baik saja, Dia langsung sesak napas habis di cekik sama cindi.


"Kakak sih, aku hampir mati loh." kesal nya.


...🐼🐼🐼...


Setelah lama berbincang-bincang, Beberapa menit kemudian kedua anak yang beli air minum dinan dan siska sudah datang dengan membawah minuman di plastik hitam besar.


"Kak dedek tadi pake uang dedek, uang kak Cindi kebesaran sih." Ujar Siska.


"Oh gak papa, nanti kakak ganti uang nya yah," ujar cindi.


"Gak usah kakak, lagian kan dedek ikhlas." Ujar Siska.


"Ohhh iya terima kasih yah, nanti kalian kalau ada waktu bisa jalan-jalan ke rumah kakak kita bikin pesta kecil-kecilan." ujar Cindi.


"Pesta apaan kakak?" Tanya Siska.


"Pesta masak-masak dong, kita bikin acara di rumah kakak mau kan?" Tanya Cindi sambil menatap mereka satu persatu.


"Mau dong, berarti semua bahan-bahan nya kita yang beli dong?" Tanya mereka.


"Gak kok, pake uang kakak nanti kita belanja di pasar ada yang ke minimarket biar kita shering." Ucap Cindi.

__ADS_1


"Berarti seru dong, aku mau tapi harus pulang sekolah dong kak, atau hari libur." ucap kirana.


"Siap deh, waktunya biar kalian yang tentuin asal kakak gak ada kesibukan di luar." Kirana hanya tersenyum. Cindi membuka kantong plastik kresek itu ternyata mereka juga beli roti salah satu roti malah juga di indomaret sari roti.


"Ya ampun dedek kenapa gak pake uang kakak juga kirain tadi isinya cuma air minum." ujar Cindi.


"Gak papa lah sekali-sekali traktir kakak Cindi besok-besok kan kak Cindi yang traktir, Iya gak sih." Ujar kirana sambil menyenggol tubuh Siska.


"Gak ada akhlak, pahalamu hilang." Ujar Siska, Dinan dari tadi hanya diam saja dia memang sedikit kalem kalau sama orang baru, Cindi saja sudah tau saat pertama kali melihat nya.


"Dinan mau ikut kan sama kita ke rumah kakak Cindi?" Tanya kirana.


"Iya mau," Ucap kinan sambil mengangguk.


"Syukurlah Dinan mau ikut." Dinan hanya tersenyum saja.


"Kak, Dinan memang kayak gitu sama orang baru tapi kalau sudah kenal pasti dia baik sekali." ujar Kirana.


"Iya kakak tau lah, kakak juga dulu orang nya pendiam kok." Mendengar hal itu dinan merasa punya teman.


"Ayo semua di makan kuenya, habisin aja." tawar Siska kepada mereka.


"Beneran nih gak mau di kasih buat si dedek." Ujar kirana.


"Oh iya aku punya dedek lupa, sini kasih buat dua juga." Ujar Siska sambil mengambil Dua bungkus roti untuk di berikan kepada adeknya.


"Aduh sekarang aku kenyang, kalian masih mau di sini atau kita pulang yuk." Ajak Siska


"Iya, nanti kakak di cari sama suami nya loh." ujar kirana.


"Iya kak, kasian loh suaminya nungguin." Ucap Siska lagi. Mereka beranjak dari kursi taman dan berjalan meninggalkan teman itu. Dijalan mereka masih bersenda gurau.


"Kakak kan tinggal sama suami, aku mau nanya dong." Kata Siska.


"Nanya apa loh," ujar Cindi.


"Kak biasanya kan jaman sekarang masih ada tuh yang kayak perjodohan gitu, gimana yah rasanya kalau kita di jodohin." tanya siska, pertanyaan itu membuat cindi sempat kaget dan terdiam.


"Kak Cindi," Siska memukul pundak Cindi.


"Iya-iya, menurut kakak sih bagus." Ujar Cindi lalu tersenyum ramah seakan tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2