CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Kembali ke kantor


__ADS_3

Hari ini Cindi kembali bekerja di kantor, walau sebenarnya dia masih belum sembuh sepenuhnya tapi izin nya untuk satu hari saja.


hari ini dia pergi pergi ke kantor pagi-pagi lagi karena ayahnya ada meeting akhir-akhir ini jadi harus berangkat pagi-pagi sekali.


Cindi berjalan di koridor kantor dengan santainya, Seorang pria dari belakang memanggilnya.


"Ehmm, rupanya kemarin enak di taman bersantai." Singgung pria itu, mendengar nada suara yang tak asing lagi di telinganya Cindi langsung membalikkan badannya.


"Kamu, maksudku pak Rendi." Cindi terkejut dan langsung menutup mulutnya karena kelancangan nya hari ini.


Prok prok prok prok prok


"Oooh... jadi karyawan kebanggaan papa sudah tidak sopan lagi sama bos. Rendi dengan santainya memberi sambutan Cindi dengan tepukan tangan. Kali ini Cindi hanya bisa terdiam di tempat, Rendi sudah mendekatinya dengan suara tepukan tangan yang sengaja di besarkan itu.


"Maaf pak, aku tidak ada niat untuk tidak sopan." Cindi menutup matanya melihat pria itu semakin mendekat dengan nya.


"Fine, bagus tingkatkan yah." Rendi dengan santai membisikkan kata-kata menakutkan di telinga Cindi dan berlalu pergi meninggalkan Cindi dengan penuh kekesalan.


"Dasar wanita aneh, tidak sopan sekali dia sama aku." Perkataan Rendi masih sempat di dengar Cindi, Cindi hanya bisa bernapas legah.


Lagi-lagi hanya dia dan Rendi yang datang sepagi ini ke kantor, entah sampai berapa hati dia datang sepagi ini ke kantor. Di dalam ruangan itu Cindi merasa sangat legah, dia lalu menenangkan dirinya dengan menghirup napas dalam-dalam dan membuangnya hal itu di lakukan secara berulang kali.


Sampai seorang pria masuk tanpa di sadari nya dari pintu ruangan itu, dia lagi-lagi mengagetkan Cindi.


Buuk.... Bunyi tumpukan dokumen seperti di sengaja di letakkan di meja dengan suara yang keras. Cindi langsung terkaget dan membuka matanya, di liatnya tumpukan dokumen di meja yang begitu banyak.


"What... Apa ini pak?" Tanya Cindi dengan nada suara yang kencang. kali ini dia benar-benar syok dengan apa yang barusan di liatnya setumpukan dokumen di meja nya.


"Hari ini kamu harus mengerjakannya sendirian tanpa bantuan karyawan lainnya, karena kemarin kamu tidak ke kantor malah enakan duduk manis di taman."


Deg... deg... deg...

__ADS_1


Suara cetakan jantungnya mulai berdetak kencang karena syok akibat tingkah Rendi yang sewenang-wenang denganya. Rendi malah tersenyum penuh kemenangan melihat kekesalan pada wajah Cindi, entah kenapa dia sangat suka mengerjainya.


"Tapi pak aku...." Belum selesai Cindi melanjutkan perkataannya Rendi sudah menaikkan satu tangannya. Dengan santainya Rendi keluar dari ruangan itulah, dengan tersenyum-senyum kecil.


"Yes... Aku berhasil membalas kekesalan ku." Ucap Rendi dengan mengangkat tangannya membentuk tinju dan berlalu dari ruangan itu.


"Ya ampun, apa dosa ku sama pak Rendi." Cindi benar-benar kesal baru kali ini dia sangat kesal dengan orang lain sebelumnya tidak begitu besar kekesalannya.


...🐼🐼🐼...


Sebenarnya Rendi hanya pusing melihat banyak laporan di mejanya yang belum terselesaikan lagi-lagi dia ingin berbagi tugas dengan Cindi agar laporan lain tidak terbengkalai. Reno membuka pintu ruangan itu, terlihat dia tergopoh-gopoh menghampiri Rendi.


"Rendi, Rendi apa kamu bisa membantuku?" Tanya Reno dengan nada suara yang masih terdengar ngos-ngosan.


"Kak, bantu apa aku lagi sih..." Belum selesai Rendi menyelesaikan kalimatnya tangannya sudah di tari sama Reno.


"Ayo ikut saja."


Mau tidak mau Rendi hanya bisa mengikuti kemauan Reno tanpa mau banyak bertanya-tanya lagi. Sesampainya di lantai bawah Rendi terkaget rupanya Reno hanya ingin di bantu untuk mengangkat beberapa barang untuk di bawah ke atas, Rendi hanya bisa memukul jidatnya seakan kekesalan Rendi di tampung dalam-dalam.


Hari ini kekesalan Rendi berkali-kali lipat tidak gadis itu, kakaknya sungguh membuat mood nya pagi ini hilang. Rendi orangnya suka emosi jika pekerjaan nya terganggu hanya karena hal yang sepele seperti ini, jika bukan kakanya mungkin karyawan lain sudah kena semprotan mulut Rendi.


Di dalam ruangan itu Rendi baru bisa bernapas dengan legah, entah Reno sengaja atau memang dia tidak bisa melakukan pekerjaan sepele seperti ini. Terlihat Reno pergi lagi entah urusan apa lagi yang akan dia lakukan Rendi juga tidak mau terlalu kepo dengan urusan kakanya.


"Rasanya semua orang semakin hari semakin aneh saja." Kesal Rendi lalu kembali mengerjakan tugas laporan di komputer itu.


Tak selang beberapa jam kemudian papanya datang bersama Reno rupanya Reno dari menjemput papanya. Entah kenapa Rendi sangat jarang untuk mengantar jemput papanya, hanya Reno lah yang selalu mengantar jemput papanya sepenuh hati berbeda dengan Rendi yang kakunya minta ampun jika menjemput papanya.


"Rendi... apa laporannya masih banyak?" Tanya Pak direktur.


"Sedikit lagi kok pa, apa ada rapat pak?" Tanya Rendi balik.

__ADS_1


"Tidak... mungkin besok baru ada rapat lagi, hari ini kantor akan sibuk." Ucap papanya dengan menyandarkan tubuhnya di sofa itu.


Pukul 08.00 para karyawan mulai berdatangan terutama Lina, melihat tumpukan di meja Cindi Lina langsung menghampirinya.


"Apa-apaan ini, kok banyak sekali laporan?" Tanya Lina dengan sedikit kaget.


"Ini tadi dapat tugas kak dari pak Rendi katanya harus di selesaikan hari ini." Ucap Cindi dengan tersenyum.


Dasar anak itu rupanya dia sengaja lagi mengerjai Cindi karena kemarin tidak masuk kantor. Bisik Lina dalam hatinya.


"Mau kakak bantu?" Tanya Lina lagi.


"Jangan kak, lagian ini tugas untuk saya." Cindi tiba-tiba langsung pangling ketika Lina menawarkan jasa bantuan untuknya.


"Pasti ini ulah Rendi."


"Pak Rendi tadi tidak boleh dapat bantuan dari orang lain kak."


"Ohhh, kamu tidak apa kan?" Lina mulai kesal dengan sikap adeknya yang sudah keterlaluan menghukum Cindi.


"Tidak apa kok kak, Cindi sudah terbiasa." Cindi tersenyum kepada Lina, Lina hanya bisa membalas senyumnya.


Pukul 09.00 semua laporan sudah selesai di kerjakan Cindi tinggal di serahkan kembali ke ruang direktur. Cindi lalu ke luar ruangan itu dengan membawah laporan yang banyak di tangannya.


"Cindi, kakak ikut yah!"


"Cindi sendiri saja kak." Lina hanya bisa menghela napas, dan melanjutkan kembali mengerjakan tugas nya dari kantor.


Tok tok tok


Seorang pria paru baya membuka pintu dan mempersilahkan Cindi masuk

__ADS_1


"Silahkan masuk nak." Ucap Direktur utama kantor itu, Cindi hanya bisa tersenyum dan masuk ke ruangan itu menyerahkan laporan di meja Rendi.


...🐼🐼🐼...


__ADS_2