CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Kejailan Rendi di restoran.


__ADS_3

Di meja makan restoran itu cindi hanya termenung melihat makanan lezat itu masuk ke dalam mulut Rendi dengan lezat nya. sedangkan sushi yang dia pesan sudah habis dia lahap semua. setiap satu suapan ikan yang akan masuk ke dalam mulut Rendi begitu sangat dia perhatikan. karena tidak tahan lagi akhir nya cindi berusaha untuk mengungkapkan ke rendi apa yang membuat nya begitu gelisah.


"Ehhmmm, yang boleh minta nggak? dikit aja dikit aja gak papa," ucap cindi dengan memberi kode jarinya sambil mengangkat alis nya satu. kali ini dia benar-benar harus membuang jauh-jauh rasa malu nya. Rendi yang dari tadi sengaja membuat dia ngiler tersenyum sangat puas di dalam hatinya, merasa benar-benar menang dalam mengelabui gadis yang berada di depan nya sekarang itu.


Ternyata dia benar-benar baper yah dengan gaya makan ku yang super keren ini. bisik nya dalam hati dengan tersenyum licik dalam hatinya.


Cindi kali ini hanya bisa menatap ikan lezat itu dari tadi tanpa menatap ke arah lain. Rendi lalu merasa iba lalu memotong beberapa bagian daging itu dan menusuknya menggunakan pisau kecil dan garpu lalu meletakkan ke piring yang berada di depan cindi.


Kali ini matanya benar-benar bersinar melihat ada sepotong daging ikan lezat melayang ke piring nya yang sudah benar-benar kosong. dengan tersenyum percaya diri cindi menatap Rendi dengan dengan perasaan damai.


"Makasih sayang, ternyata suami ku berhati lembut." ucap cindi sambil menepuk-nepuk pundak Rendi di depan nya dengan satu tangan nya. Rendi kali ini hanya bisa menatap tangan putih mulus yang sedang menepuk-nepuk pundak nya dengan ringan. Cindi lalu melahap sepotong daging ikan yang di berikan Rendi barusan. Dia benar-benar sangat menikmati di setiap gigitan ikan gurami yang rasanya berpadu dengan rasa manis, asin, dan gurih. Sambil mengunyah ikan guru itu dia mengangkat jempol nya ke arah Rendi.


"Wah perpaduan rasa yang guri, manis, dan asin, sangat memukau sehingga membuat siapa pun akan terpanah oleh lezat nya ikan ini." dengan pede nya cindi mengucap kan kata-kata itu di depan Rendi, sontak saja membuat Rendi tertawa dalam hati sampai terbatuk-batuk.


"Memang lagi promosi ikan yah, sampai kebawah iklan makanya jangan kebanyakan nonton iklan." ucap Rendi dengan kata-kata yang cetus padahal dalam hatinya dia terpingkal-pingkal terbahak-bahak sampai terbatuk-batuk.

__ADS_1


" Hehhehe maaf ayang, tapiii....."


"Beneran enak dan lezat loh yang." ucap Rendi bersamaan dengan cindi ngucapin nya. Cindi mengerutkan kening nya heran.


"Loh kok pas banget yah ngucapinnya? wah emang kita di takdir kan bersama yang gak boleh pisah, ini mah gak boleh di biarin." ucap cindi sengaja membuat Rendi semakin panas. Tapi kali ini Rendi hanya menggeleng saja, tanpa merespon lagi perkataan cindi.


Setelah menyantap begitu banyak cindi kali ini kekenyangan, dia sampai kewalahan untuk berjalan. tapi Rendi sengaja berjalan cepat karena memang udah mau cepat-cepat sampai di rumah.


"sayang, sayang tungguin lah ini aku kenyang banget loh ya ampun." Ucap cindi dengan polosnya. Sambil mengikuti langkah Rendi dengan membawa begitu banyak pesanan makanan di tangan nya.


"Jalan yang cepat dong, masa gitu aja gak bisa di kejar sih." ucap Rendi sambil melanjutkan jalan nya Tanpa menghiraukan lagi ocean cindi. Di dalam mobil Rendi menunggu cindi yang masih berada jauh di belakang berjalan tergopoh-gopoh akibat kekenyangan. ada perasaan senang di hatinya saat mengingat semua yang terjadi waktu di restoran tadi.


Ada apa dengan ku jangan-jangan aku mulai suka sama dia, sejak kapan aku memujinya. cetus nya dalam hati dengan perasaan sedikit kesal. Cindi lalu membuka pintu mobil depan lalu duduk di dekat Rendi dengan sedikit kesal.


"Yang kok gak di bantuin, ini loh kekenyangan perutku udah buncit gini." ucap cindi berharap Rendi mau ngertiin dia, tapi yang terjadi malah sebalik nya. kerena tidak tahan lagi akhirnya Rendi lepas ketawa juga gak nyangka dia gadis yang pandai melawak.

__ADS_1


"Hahahhaha, aduh aduh Hahhahhha," Kali ini cindi kebingungan dengan ulah Rendi seharian ini. tidak biasanya dia begitu terlihat ramah dengan nya, biasanya mereka sering bertengkar tumben kali ini suasana agak sedikit berbeda.


"Yang kok ketawa sih, bukan nya tadi di tolongin gitu." ucap cindi dengan wajah sedikit kesal, Rendi kali ini hanya diam saja. Kali ini cindi lah yang kebingungan dengan tingkah Rendi seharian ini, seperti dia bukan Rendi yang dia kenal dengan wajah yang jutek, kalem, dan tegas kali ini dia melihat Rendi begitu berwibawa dan agak bersemangat.


"Ehhmmm, aduh tenggorokan ku kok kering yah." ucap Rendi beralasan. Cindi yang mendengar nya hanya terdiam saja kali ini, dia benar-benar bingung dengan sikap Rendi yang berbeda dari biasanya.


Kali ini di dalam mobil itu tidak ada lagi suara canda tawa semua begitu hening, Rendi kali ini memilih fokus menyetir sedangkan cindi udah molor dari tadi. sekali-kali Rendi menatap wajah cindi yang begitu putih bersih dan halus, wajah yang begitu indah di pandang bagi kaum Adam. Yang bisa membuat siapa pun terpanah, semakin di liat wajah itu semakin memancarkan aura kecantikan.


Seharusnya menjadi seorang Rendi sangat bersyukur mempunyai istri yang begitu cantik rupawan, lucu, adem dan tau sopan santun. Tapi entah kenapa dia begitu keras kepala, dan selalu menganggap semua perempuan sama saja pengen nya memang sendiri dan tidak mau kalah. Dia selalu menganggap perempuan wanita egois kecuali ibunya, karena selama ini hanya ibunya yang benar-benar mengerti dengan situasi dia.


Mobil itu memasuki kompleks perumahan elit, sedangkan gadis di samping nya masih saja tertidur pulas. Beberapa menit kemudian mobil itu memasuki bagasi rumah yang di tinggali oleh mereka. Terlihat di luar ibu sudah berada di teras untuk menjemput mereka.


"Wah ibu rajin banget menjemput anaknya di depan pintu." ucap Rendi sambil mencium tangan ibunya.


"Loh loh Nak cindi mana? jangan bilang kamu simpan dan restoran." ucap ibu hajra sambil menoleh ke kiri kanan.

__ADS_1


"Cindi, Owhh iya cindi aku lupa di restoran Bu, tadi dia ketinggalan abis katanya dia kekenyangan dan perutnya jadi buncit jadi gak bisa jalan lagi pulang ke rumah." Ucap Rendi sambil pura-pura menggaruk kepalanya nya yang tidak gatal.


"Ada-ada aja kamu nak, cindi ketiduran yah di dalam? angkat dia lalu bawah masuk ke dalam kamar." Ibu hajra lalu memukul lengan Rendi dengan pelan lalu menyuruh Rendi menggendong cindi masuk ke dalam rumah. Kali ini Rendi hanya bisa menuruti perkataan ibunya, Rendi kali ini berharap kalau cindi tidak akan terbangun dari tidur nya.


__ADS_2