CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Makan siang bersama


__ADS_3

Di kantor Waktu sudah menunjukkan pukul 12:00 itu artinya jam makan siang telah tiba tapi Rendi malah masih merasa kenyang. Terlihat pak direktur datang menghampiri nya untuk mengingatkan nya makan siang.


"Nak sebentar lagi lanjutin nya ini sudah jam 12 loh." Nasehat pak direktur kepada anaknya, tapi rendi malah hanya mengangguk saja seakan gak boleh di ganggu saat bekerja. tak selang beberapa menit kemudian Reno datang untuk mengajak mereka makan siang bareng.


"Pa makan siang yuk, Ren makan siang." Ajak Reno kepada mereka di dalam ruangan itu.


"Iya aku selesai kan dulu kak," ujar rendi sambil melanjutkan mengerjakan laporan itu.


"Eh Ren bagaimana kabar Cindi?" Tanya Reno kepo.


"Dia baik-baik saja kok kak," Rendi terdengar begitu cuek menjawab nya seakan dia tidak peduli lagi tentang nya.


"Ohhh syukurlah, selama ini kan dia tidak pernah lagi jalan-jalan ke kantor." ujar rendi sambil melirik papa nya yang berdiri di samping nya.


"Iya papa juga rindu sama dia, sekali-sekali bawah dia ke sini nak jalan-jalan." mendengar hal itu rendi hanya bisa menganggukan kepalanya saja, dia sebenarnya malas tapi itu sudah perintah papanya jadi mau tidak mau dia harus mengikutinya.


Beberapa saat kemudian tugas yang tadinya numpuk akhirnya sudah selesai juga, sekarang dia baru merasakan lapar tepat nya di jam 01:0 siang di kantor.


"Sudah selesai?" Tanya Reno kepadanya.


"Iya kak ini barusan selesai." Ujar Rendi.


"Yaudah ayo turun makan siang, papa sudah lapar dari tadi loh nungguin kamu." Ucap pak direktur sambil memonyongkan mulut.


"Papa kelihatan awet muda kalau mulutnya di monyongin, monyongin lagi pa." Mendengar hal itu Reno sontak saja tertawa terbahak-bahak meski pak direktur umurnya sudah tua tapi dia masih terlihat seperti usia 50 tahunan.


"Ada-ada saja kamu nak," muka papanya sekarang sudah memerah akibat pujian yang tak biasa di lontarkan oleh anak tampan nya itu.


Mereka lalu keluar dari dalam kantor, di lift Rendi seperti biasanya hanya diam saja.


"Pak kalau si Rendi ini tidak mau membawah Cindi ke sini maka kita lah yang akan menjengguk nya papa kan tidak sabar pengen menimang cucu la..."

__ADS_1


"Ohok ohok ohok," Belum selesai Reno melanjutkan perkataan nya Rendi sontak saja langsung terbatuk akibat kaget dengan sebutan kata menimang. Reno lalu memukul-mukul pundak adeknya.


"Ehm, benar kan kataku?" Tanya Reno kepada adiknya, saat itu rendi seperti di paksa oleh keadaan tidak tau mau jawab apa.


"Ehmmm," Rendi berdehem saja, kali ini tenggorokan nya masih terasa gatal akibat ke jailan reno barusan sengaja meledek nya.


Rendi pasti kaget saat aku sebut kata menimang, mampus kamu dek, biar dia tau kalau papa itu lagi nungguin cucu dari dia dan Cindi.


Reno masih tersenyum-senyum seakan-akan semuanya baik-baik saja, berbeda dengan Rendi yang sudah pucat sekarang. Di kepalanya masih terngiang-ngiang dengan apa yang barusan di katakan kakak nya.


Gimana mau punya anak, Aku aja tidak suka sama dia. bisik rendi dalam hatinya.


Tunggu saja Rendi papa dan aku akan mencari cara bagaimana caranya agar kalian itu bisa romantis. Reno semakin licik saja ingin menyusun strategi rencana lagi dengan papa nya. Seakan tidak mengerti kalau Rendi sendiri merasa tertekan hidup berdua dengan orang yang sama sekali tidak dia cintai, rasanya seperti orang asing saja bagi Rendi.


Cindi hanya bisa memaksimalkan keadaan saja, sedangkan rendi hanya bisa mengimbangi dirinya. Jika dia tidak bisa mengimbangi nya lagi maka Cindi lah yang jadi sasaran nya dan kena semprotan dari mulut rendi.


...🐼🐼🐼...


"Selamat siang pak," Ujar salah satu kariawan dan di susul oleh kariawan lain nya. Pak direktur dan kedua anak nya hanya membalasnya dengan senyuman meski si Rendi kepala batu itu hanya tersenyum karena terpaksa.


Mereka lalu duduk di kursi pojok dekat jendela di mana di depan nya itu jalan raya besar, mereka memang sengaja memilih kursi yang pojok biar bisa liat pemandangan luar agar bisa memanjakan mata abis kerja seharian.


Sambil menunggu hidangan makanan yang telah di siapkan sang kasir mereka malah asik mengobrol, padahal selama ini kan rendi paling kalem dan cuek di antara mereka tapi demi menghargai orang tua dia malah memilih ikut arus aja.


"Pa, gimana kalau malam ini kita adakan acara kecil-kecilan di rumah." Ajak Reno kepada papa nya sambil menyipitkan mata memberi kode.


"I iya boleh juga, kayaknya itu seru deh." Ujar Pak direktur sambil tersenyum sumringah, Rendi di samping papanya hanya tersenyum saja seakan menyetujuinya padahal dalam hatinya dia begitu malas mengikuti acara-acara seperti itu.


"Pa aku kayaknya ini," Belum selesai dia ngomong dan mencari alasan yang tepat papanya malah memotong pembicaraan mereka.


"Cindi lagi rindu sama kita deh, kayaknya seru kalau bentar malam dia datang." Ujar pak direktur.

__ADS_1


"Iya, rendi kamu harus undang dia karena nanti malam kita juga bakalan ngajak tante mu." Reno memukul pundak Rendi pelan.


"Papa telpon mamamu dulu yah, supaya dia bisa menyiapkan banyak makan malam." Ujar papanya lalu memencet tombol hp yang dia gunakan.


Saat Pak direktur sibuk menelpon istrinya reno dan Rendi malah sibuk berbicara dengan sang kasir yang datang membawahkan pesanan mereka.


"Ini pesanan nya pak," ujar sang pelayan itu.


"Iya makasih yah," Ujar Reno ramah.


"Iya pak," Kasir itu tersenyum ramah lalu beranjak pergi dari hadapan mereka setelah semua nya sudah tertata rapi di meja itu.


"Katanya apa?" kata Reno.


"Katanya gini, kenapa baru bilang untung katanya di kulkas masih lengkap semua." Ujar pak direktur dengan tersenyum membayangkan wajah istrinya kalau lagi marah kayak gimana.


"Papa dari tadi senyum-senyum abis menelpon ibu." Rendi membuka suara menegur papanya.


"Gak papa kok." Ucap papanya bohong.


"Papa bukan pembohong handal, paling dia lagi mikirin mama kalau lagi marah kayak gimana." Ucap Reno menimpali papanya.


"Hahhahaha tau saja kamu kalau mama mu marah seperti apa." Ujar Pak direktur.


"Iyalah tau, mama kan suka curhat sama aku." Rendi hanya menatap Reno sekilas sambil tersenyum.


"lah kamu kenapa ikutan senyum kayak papa, jangan-jangan kalian berdua sedang jatuh cinta." Ledek reno dengan sengaja.


"Jatuh cinta apaan coba yang ada patah cinta." Kesal Rendi sambil melanjutkan makan siang mereka. Kalau ada Hajra maka tidak ada yang berani ngomong karena hajra pasti langsung menegur siapapun yang bicara sambil makan.


"Makan-makan jangan bicara lagi, kalau ibumu tau dia bisa marah." Nasehat pak direktur, mereka akhirnya memilih untuk makan tanpa bersuara lagi.

__ADS_1


__ADS_2