
Cindi berusaha untuk nenangin diri, dia tidak tau lagi harus ngapain. dia hanya bisa mengusap-usap dada nya, gimana tidak coba dia bahkan mimpi lagi.
Keringat mulai memenuhi dahinya Cindi hanya bisa mengusap dada nya, dia sangat bersyukur karena hanya sebuah mimpi. dia bahkan akhir-akhir ini sering mengalami halusinasi akibat selalu mimpi aneh-aneh.
"Ya tuhan ku, entah sudah berapa kali aku mimpi kayak gini." Cindi hanya bisa mengusap keringat di dahinya dengan tangan kanan nya sambil membaca doa. Cindi mengambil handphone nya yang rupanya sudah ada di bawah bantal.
Pukul sudah menunjukkan pukul 06:00 dia langsung bangkit dari tidurnya lalu membuka pintu kamar itu. Entah kenapa setiap kali dia mimpi buruk pasti dia akan merasakan sensasi seperti lagi nonton horor sendirian.
"Ya ampun kok bisa sih, aku mengalami hal ini lagi. apa karena pengaruh obat yah." Cindi bertanya-tanya dengan dirinya sendiri, dia benar-benar tidak tau harus ngapain lagi. Di luar kamar terlihat rendi yang sedang berdiri menatapnya dengan tatapan aneh.
Ada apa dengan nya, kok dia pucat kayak orang sakit saja.
"Ehmmm, ada apa beb." Tanpa disadari Olehnya ternyata Cindi sudah berada di hadapan nya.
"Eh nggak, minggir dong aku mau mandi nih." Usir Rendi, Cindi langsung menyamping dan membiarkan rendi lewat. Saat rendi sudah sampai di depan pintu, Cindi sempat memanggilnya lagi.
"Rendi, beb ingat bentar turun makan. kamu kan belum makan siang nanti kamu sakit loh, aku kan repot ngerawatnya." Ucap Cindi sambil tersenyum dengan wajahnya yang putih pucat seperti ada arti yang sangat besar lewat kata-kata nya.
Rendi hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa dia masuk ke kamar dan menutup pintu, saat mendengar pintu tertutup seakan ada rasa sakit di dada Cindi, akibat ulah Rendi yang tidak pernah mau menghargainya sedikit pun meski dia sudah berusaha berkata baik sekali pun.
"Makasih atas rasa sakitnya," Ujar Cindi sambil tersenyum memaksa. Cindi turun ke bawah untuk menyiapkan makan malam padahal mereka belum makan siang.
Di dapur terdengar suara pisau sedang memotong-motong sayuran, Cindi memang sudah sangat ahli dalam memasak. Karena waktu masih sekolah dia suka berada di dapur untuk menemani ibunya untuk memasak di dapur.
Cindi hari ini berencana akan menyiapkan makanan spesial yang sering di masak bersama ibunya. yaitu ayam goreng pedas campur kecap manis, dengan sayur tumis kangkung. Memang menjadi seorang istri itu bukanlah hal yang mudah, tapi belajar menjadi istri yang baik itu hal yang mudah jika seorang pasangan saling memudahkan satu sama lain.
__ADS_1
Selesai memasak semua nya Cindi lalu memajang nya di meja makan dengan tertata rapi, nasi di pemanas juga sepertinya sudah matang.
"Aduuhh, akhirnya semua sudah selesai." Cindi membuka celemek yang dia pakai tadi untuk masak dan di gantung nya di belakang pintu dapur.
"Loh ternyata di sini ada pintu." Ujar Cindi, pintu itu ternyata tembus ke kolam renang, cindi hanya tersenyum pak direktur benar-benar sangat cerdas untuk mendesain rumah ini.
...🐼🐼🐼...
Rendi sudah mandi, dia langsung turun ke bawah. Baru di tangga bagian bawah sudah tercium aroma-aroma yang sangat menyengat di hidung Rendi, dia langsung terburu-buru masuk ke dapur.
Cindi yang sedang duduk termenung tiba-tiba di kaget kan oleh kehadiran Rendi yang langsung terhenti saat melihat Cindi menatapnya.
"Sepertinya pangeran ki sudah datang, ayo sini makan." Melihat makanan di meja makan membuat rendi hanya bisa menelan air liurnya, lagi-lagi Cindi mengerutkan keningnya tanda heran.
"Ish, sini dong." Cindi menarik tangan rendi mendekat dan mendudukkan dirinya di kursi. Rendi hanya menurut saja dia tidak mau terlalu banyak bicara karena perutnya sudah dari tadi kelaparan.
Saat tangan Cindi ingin mengambil kan makanan untuknya tiba-tiba saja ada tangan yang melarang nya. Rendi mengambil piring itu dari tangan Cindi dan mengisinya sendiri, dia kali ini bingung mau makan di depan Cindi.
"Ehhhmmm, makan saja gak papa kok." Ujar Cindi.
"Iya," Rendi melanjutkan makan nya, Cindi dari tadi menatap nya yang membuat diri nya malah menjadi salah tingkah sendiri.
"Kalau makan itu baca doa beb, jangan buru-buru nanti tersendat loh." Tegur Cindi.
"Iya,Iya." Jawab Rendi lagi-lagi dia kembali mengunya makanan masuk ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Beb, kalau makan gak boleh bersuara dong." Tegur Cindi lagi.
"Iya-iya," Jawab Rendi kesal, Cindi hanya menggeleng-geleng saja melihat rendi makan dengan lahap. Cindi merasa lapar jadi dia memutuskan untuk makan juga, di meja makan mereka berdua makan dengan lahap. Rendi yang keras kepala selalu merasa asing sejak mereka di jodohkan.
Selesai makan Rendi membantu Cindi membersihkan meja makan, dia dari tadi hanya terdiam. Cindi sangat senang karena dia mau di bantu oleh rendi, setelah membantu Cindi Rendi langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Cindi masih mencuci piring, tiba-tiba perutnya kesakitan akibat telat makan padahal kan kemarin-kemarin meski dia telat makan tidak bakalan sakit seperti itu.
Cindi berusaha untuk menguatkan dirinya, dia terus mencuci piring dan kadang sekali-kali memegang perutnya. Setelah cuci piring Cindi terdiam di meja makan, perutnya benar-benar tidak bisa di kontrol hanya karena telat makan.
"Ya ampun aku harus ke kamar minum obat, Kayaknya aku kemarin punya obat mag dari rumah." Cindi berjalan tergopo-gopo ke kamar.
Cekrek, suara pintu kamar terbuka terlihat Rendi sedang membaca majalah cindi hanya tersenyum ke arah Rendi meski rendi sama sekali tidak menatap nya.
Tak tak tak, Mendengar suara itu telinga Rendi malah terganggu dia langsung menegur Cindi saat melihat dia membongkar tas nya seperti mencari sesuatu.
"Diam," Teriak Rendi kesal karena terus-terusan mendengar suara itu.
"Maaf aku sedang mencari sesuatu," Ujar Cindi dengan tersenyum ke arah Rendi. tangan kirinya masih memegang perutnya sedangkan tangan kanan nya mencari obat.
Benar saja obat maag itu terselip di bawah baju dalam koper nya, Cindi langsung buru-buru mengambil obat itu dan memasukkan nya ke mulut. Dia lalu mengambil air minum di meja samping tempat tidur yang dia bawah tadi dari dapur.
Rendi kali ini hanya menggelang-geleng saja, dia benar-benar tidak tau harus bagaimana, dengan perasaan binggung dia hanya bisa melanjutkan membaca koran, Cindi malah sudah terduduk lemas dan keringatan di lantai dengan memegang perutnya.
...🐼🐼🐼...
__ADS_1