
Rendi tertidur di atas kasur itu dengan menggunakan baju kaos hitam dan celana pendek sekarang dia benar-benar udah sembuh. kepalanya udah nggak sakit lagi, kemarin dia juga lupa kenapa dia bisa sampai jatuh sakit lagian dia juga tidak mau mengingat kejadian malam itu.
nananana, nananan, nananana, cindi keluar dari kamar mandi dengan bersenandung ria menuju ke meja rias. Dia melihat wajahnya yang putih bersih di dalam cermin meja rias itu, dia tiba-tiba ngomong dengan cermin.
Kok bisa yah gadis secantik aku tidak di bisa membuat pria itu mencintai ku, Hei cermin bisa kah kamu membuat dia jatuh cinta denganku please.
cindi berbicara dengan cermin itu seolah cermin itu bisa mengabulkan keinginan nya. cindi terus mengusap rambutnya dengan handuk sambil menatap wajahnya di meja rias itu.
Rendi yang dari tadi ternyata memperhatikan tingkah cindi malah membuatnya tersenyum, saat asik memperhatikan dirinya tiba-tiba cindi menoleh kepadanya. Rendi yang menyadari pergerakan itu langsung berpura-pura tidur lagi.
"Hei cermin lihatlah dia yang sedang tidur itu, wajahnya yang tampan dan sok imut masa tidak bisa kamu buat dia mencintaiku sedikit saja," ngobrol cindi dengan cermin dengan memencet kukunya.
Rendi hampir saja pingsan karena kaget di buat ulah cindi barusan, kali ini dia benar-benar harus pura-pura tidur jangan sampai ketahuan dan membuat gadis itu semakin kegeeran.
Cindi kembali menghadap ke cermin, Rendi lalu membuka matanya dan mengusap matanya. kali ini dia hampir saja syok saat cindi menunjuk dirinya tadi. saat asik mengatur napas tiba-tiba wanita itu menunjuknya lagi.
"Haaa pingsan," Rendi langsung pura-pura pingsan. cindi menunjuknya lagi.
"Hei kau kenapa harus kamu yang di sana yang pura-pura tidur, haaaa loh kok gayanya berubah sih. jangan-jangan dia mendengar ku." ucap cindi keheranan kali ini dia sadar posisi Rendi tadi sama yang sekarang berbeda.
__ADS_1
"Wah tidak benar ini gayanya tadi tidak seperti ini." cindi mendekati Rendi yang saat itu tambah panik kalau sampai ketahuan. cindi lalu membuat posisi tidur Rendi seperti pertama tadi lalu membisikan sesuatu.
"sayang tidur yang nyenyak jangan banyak bergaya kayak model majalah aja." bisik cindi pas di telinga Rendi, lalu menepuk-nepuk pipinya Rendi tidak sabar ingin bangun dari penyamaran nya namun di tahan karena tidak mau ketahuan.
Cindi lalu mengambil baju tidur di dalam lemari dan menyimpan nya di atas tempat tidur saat meletakkan pakaian itu di atas tempat tidur tidak sengaja bra-nya terlempar ke muka Rendi.
"Apaa apaan ini, kesal rendi dalam hati saat bra itu menempel di mukanya. Rendi lalu menarik tali bra itu agar tidak berada di atas wajahnya namun kali ini usahanya gagal.
"Bra ku mana yah bukan nya tadi ada di sini," cindi mencari-cari bra-nya di bawah kasur saat dia melihat wajah Rendi dia langsung panik.
matilah aku kok bra ku bisa terlempar sampai ke wajah pria itu, aduh kalau dia tau aku bisa kena marah.
Cindi lalu berhati-hati naik ke atas tempat tidur, handuk masih menempel di tubuh nya. saat hendak menarik bra itu dari muka Rendi malah tersangkut di telinga nya.
cindi lalu menyentuh telinga Rendi dengan halus sekarang bra itu udah nggak di wajah Rendi lagi tapi masih nyangkut di telinga.
"sayang gimana ambilnya ini nyangkut di telinga," kali ini cindi hampir nangis saat bra itu tidak bisa di ambil dan cindi merasa putus asa dia khawatir kalau Rendi akan memarahinya dan membentaknya lagi akhirnya air matanya jatuh pas menyentuh pipi Rendi.
Rendi tidak tahan melihat nya tapi dia terpaksa harus tetap pura-pura tidur, saat hendak membalikkan tubuhnya tiba-tiba dia melihat ingus cindi mau jatuh mengenai wajahnya akhirnya dia menarik handuk yang di gunakan cindi untuk mengelap ingusnya. cindi langsung panik dia lalu mengambil bra itu dan di gunakan secepat kilat.
__ADS_1
Hal mengejutkan lagi cindi kali itu hanya menggunakan bra dan CD Tampa sehelai benang lainnya, Rendi sontak kaget dan hanya menelan liur saat melihat tubuh gadis itu benar-benar nyata berada di atas perutnya. cindn benar-benar malu dia menutup wajahnya dengan kedua tangan nya. Rendi tersenyum dia lalu menggunakan handuk itu menutupi badan nya lalu mengusap rambutnya.
"Lain kali hati-hati hampir saja malam ini kamu jadi mangsa ku." bisik Rendi menggodanya, lalu mengangkat tubuh wanita itu dari atas perutnya dan membaringkan tubuh nya ke kasur sedangkan tangan cindi masih memegang handuk di bagian tubuhnya aga tidak jatuh.
Mendengar perkataan Rendi cindi makin malu dan hanya bisa menutupi wajahnya dengan selimut, karena malu cindi menarik lengan pria itu lalu mencium pipi Rendi.
" i love you," ucap cindi sambil tersenyum menang kali itu Rendi hanya terdiam saja tanpa sekata kata pun yang keluar dari mulutnya gadis itu selalu saja menang darinya, yang lebih parahnya cewek itu tidak malu malah dengan senang nya menggunakan baju di hadapan Rendi Tanpa malu.
"Ehmm kamu tidak malu," tanya Rendi padanya. cindi berbalik dan membisikkan sesuatu ke telinga nya.
"malu, aku bukan pelacur aku gadis murni dan kamu suamiku kamu seharusnya berhak melihatnya dan itu sudah kewajiban mu sayang." bisik cindi dia lalu menarik baju kaos atasan Rendi lalu menyisir rambutnya menggunakan tangan.
"Kayaknya aku mulai jatuh cinta dengan wajah ini," ucapnya pada Rendi yang hampir saja kesetrum listrik mendengar semua pengakuan cindi barusan. Cindi berlalu meninggalkannya menjemur handuk di teras sedangkan Rendi masih mematung di kamar.
"Sayang ayo turun makan malam ibu sudah menunggu di bawah," Cindi memegang lengan Rendi dan menarik tangan itu ikut bersamanya turun makan malam. kali ini Rendi terpaksa harus nurut lagi dengan permainan cindi yang dia nikmati sendiri.
"Ehhhm," Rendi berdehem dia benar-benar tidak sabar mau mengeluarkan unek-unek nya. cindi menatapnya Dari samping.
"kamu tampan juga yah sayang berarti aku wanita yang paling beruntung menikah dengan mu." bisik cindi di telinga nya, kali ini dia benar-benar panas.
__ADS_1
"Cindi hen," baru saja Rendi mau melanjutkan perkataannya cindi malah menutup mulutnya menggunakan jari telunjuk.
"Suut jangan ribut sayang nanti ibu mendengar pertengkaran kita malah sedih." ucap cindi sambil memperbaiki bentuk rambut pria itu lalu menariknya menelusuri anak tangga yang akan membawanya ke dapur cindi tersenyum dalam hatinya karena dia selalu bisa mengelabui Rendi, dan cindi percaya suatu saat nanti Rendi akan mengenangnya seandainya saja dia tidak berumur panjang.