
"Tidak semua kisah dalam hidup seseorang akan sama ada yang membenci tapi akan mencintai pada akhirnya, ada yang sangat mencintai tapi akan sangat membenci pada akhirnya. kisah ini seperti bumi yang sama berputarnya mengikuti roda kehidupan." Mendengar hal itu Reno hanya mengangguk.
"Siapa sangka kebencian akan bertahan lama jika tetap hidup satu atap, dan siapa pula yang menyangka kalau kasih sayang akan bertahan lama tanpa penghargaan." Nasehat pak direktur kepada Reno. Dia tidak menyangka seorang ayah yang sangat sibuk ternyata telah menyimpan kata-kata yang terdengar indah dan bijaksana.
"Papa benar-benar papa yang terbaik, kalau bukan karena restu papa aku tidak mungkin akan menikah sama Sinta sekarang.
"Kamu salah nak, papa hanya perantara saja untukmu, jika kamu tidak menikah dengan istrimu yang sekarang kau akan tetap dapat perempuan yang baik jika kau mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
"Ayah benar, buruk fisiknya belum tentu buruk hatinya cantik fisiknya belum tentu cantik hatinya."
"Yah, jika kita mencari perempuan maka jangan cari yang sangat sempurnah karena kapan kita mencari yang sempurnah maka kita tidak akan dapat, karena manusia tidak ada yang sempurnah hanya kita lah pasangan yang saling menyempurnakan." nasehat pak direktur kepada pak Reno.
"Aku hanya bisa berharap Pa, semoga Rendi tidak akan menyakiti hati wanita lugu dan baik hati itu.
"Jika Cindi bisa tahan dengan sikap Rendi maka dia lah yang akan merubah kepala batu itu menjadi meleleh."
"Bapak benar, aku yakin Cindi pasti bisa menghadapi anak itu."
*******
Cindi masuk ke dalam ruangan semua mata menatap nya penuh tanda tanya.
"Ehhhhmmm, Cindi ada apa pak direktur memanggil mu apa ada masalah sama pekerjaan kita. Tanya Tina.
"Cindi di suruh untuk memperbaiki laporan yang ada di leptop pak direktur, jadi pak direktur meminta bantuan." Kata Cindi kepada Tina dan menyakinkan yang lain kalau tidak ada masalah.
"Aduuuh aku sangat bersyukur aku pikir kita akan kena marah jika kita salah membuat laporan lagi."
"Lina untung hanya laporan pak direktur yang salah," kata Rangga ikutan khawatir.
Lina yang mendengar perkataan Cindi hanya bisa tersenyum dia sangat tau sifat ayahnya tidak suka marah.
Cindi bersyukur tidak ada yang curiga maksud pak direktur memanggilnya jika ada yang tau Cindi bisa jadi di benci sama mereka karena iri.
Untung pak direktur kasih saran kalau kalau tidak saya bisa dihina kalau cari muka sama pak direktur, kenapa harus cari muka anak bukan menantu apalagi keluarga. gumamnya dalam hati.
"Kamu kenapa Cindi," tanya Lina khawatir.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa kok kak, aku hanya sedikit sesak napas habis terkurung di lift sampai lantai tiga."
"Oooh, kalau kamu ada masalah cerita dong sama kakak, kakak tidak mulut ember kok." Nasehat kak Lina anak pak direktur yang rendah hatinya minta ampun
Lina satu-satunya orang yang menganggap Cindi seperti adiknya, dia sangat baik dan murah senyum.
Di ruang pak direktur, Reno menelpon ibunya.
Tut Tut Tut.
Tut Tut Tut.
"Pa, ibu tidak angkat telpon.
"Telpon lagi," perintah pak direktur. Reno lalu menghubungi lagi ibunya tapi tetap tidak ada jawaban.
"Pak tidak diangkat." kata Reno khawatir jika terjadi masalah di rumah.
"Coba telpon pake nomor rumah." perintah pak direktur. Reno menelpon nya lagi dengan telpon rumah.
Tut, Tut, tut,
"Bu ini Reno Bu."
"Ada apa nak menelpon ibu. khawatir Hajra diseberang telepon."
"Ibu harus mendengar berita ini, jadi sebentar malam papa dan Reno mengajak seorang perempuan untuk makan malam di rumah, jadi bisa kah ibu menyiapkannya sebentar sore?"
"Untuk apa mengundang perempuan asing ke rumah nak?"
"Jadi begini Bu, aku dan papa berencana untuk menjodohkan Rendi dengan perempuan itu." Terdengar ibunya kegirangan di dalam telpon.
"Ibu, apakah ibu bisa mengerjakannya?" tanya Reno di seberang.
"Yah, akan ibu usaha kan lagian bibi membantu ibu nak jadi jangan khawatir." Kata ibunya dari kejauhan.
"Okey, terima kasih bantuannya ibu, sampai di rumah akan aku lanjutkan lagi cerita nya."
__ADS_1
Iya nak," ibu menutup telponnya dengan semangat 45 lima yang berkobar dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
...🐼🐼🐼...
Hajra hari ini begitu bahagia mendengar kalau tidak lama lagi Rendi akan menikah. itu artinya beban ibunya akan teratasi lagi, senyuman mengembang di pipinya tidak bisa lagi menahan kebahagiaan. Itu artinya dia juga akan menimang cucu lagi, seuntai senyum manis terukir di wajah yang masih terlihat cantik itu.
Ibu Hajra nama ibu Reno, tapi dia lebih suka di panggil ibu saja tanpa menyebut nama belakang nya.
Ibu hajra memanggil semua pelayan yang ada di rumah untuk membantunya menyiapkan jamuan makan malam untuk tamu yang akan di undang untuk makan malam, walaupun tamu nya cuma satu tapi dia harus benar-benar menyiapkan berbagai masakan di meja makan.
Dia mulai memasak nasi, lauk pauk, seperti ikan dan beberapa potong ayam yang sudah tersedia di kulkas.
Semua pelayan rumah membantu ibu Hajra
mereka semua tidak pernah mengeluh jika di suruh oleh ibu Hajra.
Ibu Hajra dia sangat baik hati dan cukup penyabar menghadapi situasi yang di alami nya.
Ibu Hajra sangatlah penyanyang dan bijaksana dalam mengambil keputusan, jika ibu Hajra berkata ini salah tidak boleh dilakukan itu artinya dia benar. Semua anak akan mendengarnya, hanya saja jika orangnya Rendi yah maklum saja. Walaupun umur Rendi harusnya umur menikah tapi dia belum juga menikah. Sudah tak terhitung kan jumlah cewek yang sudah dia bawah ke rumah hanya untuk pajangan ke orang tuanya agar tidak di jodohkan seperti kakak nya yang lain.
Flashback on
Rendi pulang dari kampus sesampainya di rumah dia di jodohkan sama tetangga nya, belum beberapa hari tetangganya sudah tidak tahan dengan sikap Rendi yang keras kepala dan egois. Tapi apa yang membuat dia terkenal dan di suka banyak orang, itu karena rata-rata orang kampus tau siapa itu Rendi dan apa pekerjaan ayahnya. Siapa yang tidak mau dengan pria yang tampan, kaya, dan keren.
Tapi atas kelakuan Rendi banyak juga wanita dan pria yang tidak suka padanya, yah namanya juga orang kaya, orang kaya mah bebas mau ngapain.
Waktu sore telah tiba Rendi pulang dari kampus langsung menuju ke kamarnya dan mengganti baju yang akan di gunakan di rumah. Di saat dia lagi mengganti baju, tercium aroma bau sedap yang membuat hidungnya ingin mengikuti arah bau sedap itu, tidak salah lagi ibu pasti masak-masak di dapur.
Sesampainya Rendi di dapur betapa terkejutnya dia begitu banyak masakan yang ibunya buat.
"Eehmmmm," semua berbalik ketika Rendi berdehem.
"Kau mengejutkan ku nak, kapan kau pulang ibu tidak melihatmu pulang?." Ucap Hajra heran kepada anaknya.
Rendi memeluk ibunya dan berkata "Bagaimana mungkin ibu bisa melihatku pulang, ibu kan sekarang lagi masak-masak."
"Iya, kata bapak mu di kantor dia mengundang seseorang untuk makan malam di rumah." mendengar perkataan ibunya Rendi hanya bisa menganggukan kepala.
__ADS_1
...🐼🐼🐼...