
Suara ketukan itu semakin lama semakin terdengar besar, yang lebih parahnya lagi suara itu membuat badan Rendi merinding seketika. Aduh siapa sih yang mengetuk pintu bikin takut-takut aja. kesalnya dalam hati.
ganggang pintu terbuka terbuka terlihat seorang wanita masuk dengan menggunakan daster berwarna bunga-bunga, Rendi kali itu hanya mengusapkan dada saat melihat daster itu dari ujung laptopnya.
"Ha hantu siang bolong pake daster emang ada yah?" Tanya nya dalam hati. lebih mengejutkan lagi dia semakin mendekati Rendi, Rendi yang masih mengintainya di balik laptopnya akhirnya ingat.
Loh bukannya ibu juga menggunakan daster yah tadi pagi? Tampa pikir panjang Rendi menaikkan kepalanya saat melihat wajah wanita itu dia langsung mengelus-elus dadanya.
"Kenapa sayang dari tadi wajahmu ibu liat pucat?" Tanya wanita itu.
"Wah ibu ada-ada aja, mengejutkan aku loh Bu." Rendi kali ini mengusap-usap dadanya yang hampir copot akibat ulah ibunya barusan.
"Loh sayang kenapa? ibu datang mau ngomong sesuatu yang penting sama kamu nak, apakah kamu bisa meluangkan sedikit waktumu?"
"Iya ibu ini tugas kantor sedikit lagi, kalau ibu mau menunggu gak papa." ucap Rendi sambil melanjutkan mengerjakan tugas kantor yang tinggal sedikit itu.
"Ya udah selesai kan dulu sayang tidak masalah." ucap ibu hajra dengan kata-kata yang sopan dan santai.
Ibu mau ngomong apa yah kok aku juga jadi penasaran yah, semoga tidak membahas cucu lagi. gimana aku bisa punya anak sama cindi sedangkan kita tidak saling mencintai. gumamnya dalam hati.
Tak beberapa lama akhirnya tugas kantor selesai juga, Rendi menyimpan file data itu lalu menutup laptopnya. hajra bertanya beberapa hal kepada nya.
"Sudah selesai nak?" Tanya hajra.
"Iya Bu udah nih barusan, ibu mau ngomong apa? kayaknya penting banget yah." hajra hanya mengangguk saja.
"Ini aku mau tanya sama kamu sayang apa cindi baik-baik saja yah, kok aku liat dia kayak pucat?" tanya hajra kepada Rendi khawatir dengan keadaan menantunya.
__ADS_1
"Kayaknya dia baik-baik saja Bu, kemarin sih sempat sakit tapi pas aku tanya dia bilang baik-baik saja." Ucap Rendi menyakinkan perkataan nya.
Owhhh ibu cuma khawatir jangan-jangan dia hamil, kasian janinnya." belum selesai hajra ngomong Rendi terbatuk.
"Ohok ohok ohok, ibu bicara apa tidak mungkin loh Bu dia hamil." Ucap Rendi heran.
"Loh maksud kamu dia belum hamil, jadi kalian empat bulan ini belum ngapain?" Tanya ibunya kaget.
"Iya Bu, kita masih butuh proses tidak mungkin langsung Bu. Kita aja belum saling mencintai gimana mau ngelakuin hal itu, lagian aku belum berani menyentuhnya takut nanti di bilang lancang." Rendi tertunduk dia sekarang merasa serba salah.
"Ya udah sayang tidak masalah, lagian ini juga kan bukan kemauan kalian untuk nikah tapi kemauan kita semua." Hajra hanya mengusap-usap pundak anaknya memberi harapan kalau semuanya akan baik-baik saja.
...🐼🐼🐼...
Di balik pintu ternyata ada seseorang yang sempat mendengar percakapan mereka, mendengar percakapan kedua orang tersebut membuat hatinya terasa sakit.
ya Tuhan bagaimana mungkin ini semua terjadi secara bersamaan, aku terpaksa menyimpan semuanya sendirian dari keluarga ku. semakin hari sakit ku semakin keras, tapi aku tidak tau harus bagaimana lagi.
Di dalam ruangan itu cindi masih berusaha menguping percakapan mereka, meski dia tidak mendengarkan semuanya tapi setidaknya dia tau apa sebenarnya yang mertuanya inginkan dari dirinya.
Entah sudah berapa menit dia ada di balik pintu mendengarkan percakapan mereka sampai akhirnya hajra memutuskan untuk keluar kamar.
Ya udah kalau begitu aku pamit dulu sayang mau istirahat dulu," pamit hajra kepada Rendi, dia lalu berjalan pergi meninggalkan Rendi. Mendengar hajra pamit cindi langsung buru-buru berlari kecil menuju kamarnya yang tidak jauh dari ruang kantor. Saat melangkahkan kakinya beberapa meter terdengar ada suara yang memanggilnya.
"Cindi sayang mau kemana itu buat Rendi kan?" Tanya suara yang tidak asing itu, muka cindi langsung memerah.
"Aduh mana ketahuan lagi," bisik nya dalam hati.
__ADS_1
"Cindi sayang, ada apa nak? ini buat Rendi kan?" Tanya ibunya lagi yang sudah berada di dekatnya sekarang.
"ehh iyaa Bu ini buat Rendi, tadi aku niatnya mau masuk tapi karena aku merasa ada hal yang ibu ingin sampaikan ke Rendi jadi aku urungkan niatku masuk Bu." Ucap cindi sambil cengengesan biar gak ketahuan menguping.
"Ohhh, ya udah bawah masuk aja ibu sudah ngomong kok sama Rendi." ucap ibu hajra tanpa curiga sedikitpun kalau cindi mendengar percakapan mereka.
"Iya Bu," cindi tersenyum kepada mertuanya dan berlalu meninggalkan nya, Hajra hanya menggelengkan kepala saja melihat aksi cindi barusan.
Rendi memegang keningnya kali ini dia benar-benar binggung harus bagaimana, cindi masuk ke dalam kamar itu tanpa mengetuk pintu.
"Sayang, ini kopinya." Ucapnya tanpa merasa berdosa sedikitpun.
"Ya ampun kaget aku, lain kali ketuk pintu jangan masuk kayak setan aja." bentak Rendi marah.
"Maaf tadi tidak sempat mengetuk pintu soalnya lagi bawah nampan." ucap cindi kaget melihat kemarahan Rendi.
"Iya gak papa Simpan di situ aja," Tegasnya sambil menunjuk di atas meja. cindi yang masih syok dan kaget bergetar tangan nya, dia lalu menyimpan kopi itu di atas meja berharap kopinya tidak tumpah rasanya air matanya mau jatuh tapi di tahan.
Setelah selesai menyimpan kopi di atas meja cindi berlalu meninggalkan tanpa berkutik sedikit pun dia masih kaget jantungnya masih kaget dengan bentakan tadi yang di lontarkan dari mulut Rendi tanpa merasa bersalah sedikitpun kepadanya.
Pintu di tutup lalu cindi turun ke dapur untuk menyimpan nampan di dalam lemari, air matanya menetes dia benar-benar tidak menyangka kalau bakalan di bentak lagi dengan Rendi.
Ya ampun kok aku manja banget cuma karena di bentak air mataku jatuh, cindi gak boleh lemah cindi harus kuat." ucapnya pada dirinya lalu mengusap air mata itu dan berlalu pergi dari dapur menuju kamar tidurnya.
Badannya hari ini sangat kecapean padahal dia tidak melakukan banyak hal, entah kenapa dia mulai sering kelelahan lagi akhir-akhir ini. Cindi ternyata baru ingat kalau lupa minum obat, dia mengambil obat dari dalam laci kecil lalu meminumnya. terasa dadanya yang berdebar-debar mulai agak sedikit normal lagi setelah beberapa menit minum obat penenang yang tinggal berapa biji itu.
kayaknya aku besok harus periksa lagi ke dokter untuk mengetahui kondisi ku sekarang.
__ADS_1
Cindi masih memegang dadanya lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur, beberapa menit kemudian dia tertidur pulas di atas kasur yang empuk dan membawanya ke alam mimpi.