
Kicauan burung di atas pohon membuat suasana menjadi lebih terasa hidup, Rendi yang sedang duduk di depan jendela sedang menghirup udara segar. meski dia masih merasa demam tapi dia berusaha untuk bangkit dari tempat tidur dan menikmati kenyataan hidup yang ada.
Saat asik melamun tiba-tiba handphone nya berdering, rendi lalu beranjak dari kursinya menuju sisi tempat tidur.
Tuuuuut.... tuuuuut..... tuuuut.... Rendi lalu mengangkat telpon.
"Hallo," Ucap suara di seberang sana.
"Iya pa, aku turun ke bawah sekarang." ucap rendi, tapi pas mau turun papanya malah sudah menahan nya duluan.
"Ehhhh kamu kan punya istri nak, lagian kamu sakit kenapa mesti kamu yang turun. nanti reno aja yang naik ambil datanya." Cegah papanya dari telpon.
Rendi kembali duduk di sisi tempat tidur, dan menutup telpon dari papanya. Cindi memasuki kamar itu dengan membawah napan yang berada di tangan nya. terlihat rendi sedang termenung menatap keluar kamar, napan itu lalu di simpan di meja pas di samping tempat tidur.
"Halo sayang selamat pagi," ucap cindi, mendengar ada yang memanggil nya sontak saja dia langsung terkejut serasa ada bumi yang menghantam tubuhnya. Rendi berbalik di liatnya ada makanan di meja, dia langsung beranjak dari tempat duduknya menuju makana n yang berada di atas napan itu tanpa memandang cindi yang langsung keheranan. Gimana tidak heran dia yang memanggilnya tapi rendi malah menatap makanan di meja sisi tempat tidur bukan menatap nya.
Aneh kamu sayang, bukan nya menatap yang memanggil mu malah menatap makanan yang ada di meja. kesal cindi, di liatnya rendi menikmati makanan itu tanpa berkutik. dia begitu cemburu dengan sarapan yang di bawakan untuk rendi.
"Waw enak banget yah makanan ini, aduh aku begitu menikmatinya." ucap rendi sengaja membuat cindi kesal.
Tega kamu sayang cuma puji makanan nya aja tidak puji yang membuatnya, kesal cindi pada rendi yang sengaja membuat nya marah.
"Aduh enak banget susunya juga enak, uhhh mantap." Ucap Rendi dengan membuat-buat cara makan yang lezat, air liur cindi seakan mau menetes melihat rendi sedang bermesraan dengan makanan itu. Karena tidak tahan lagi akhirnya roti yang masih tinggal satu langsung di ambilnya dan di masukan semuanya ke dalam mulutnya.
Melihat hal itu mata rendi langsung terbelalak kaget saat makanan itu langsung masuk semua ke dalam mulut yang sangat kecil itu. Dia tidak menyangkah roti sebesar itu bisa satu kali masuk ke dalam mulutnya cindi, padahal dia aja harus makan sedikit-sedikit.
__ADS_1
"Woahhhh, Upppssss." Ucap rendi sambil menutup mulutnya seakan-akan dia kaget saat itu, Cindi yang kesal tadi berusaha mengunyah roti itu langsung pura-pura seakan tak terjadi apa-apa.
"Syusyunya bagi dong..."ucap cindi kepada rendi saat melihat gelas di tangan rendi masih menyisakan setengah gelas susu. Mendengar hal itu rendi sontak terdiam dan mencerna perkataan cindi.
"Ahahhahaha, Syu syu Hahahhaha," semakin lama suara rendi semakin besar aja ketawa.
"Ayo ih kasih aku, nih rotinya nyangkut di leher." Kesal cindi.
"Ahahahhaha, aduuuuh..... kayak mana pula kamu makan." ucap rendi dia masih tertawa terbahak-bahak sambil memukul keningnya dengan tangan kiri sedangkan susu masih di pegang di tangan kanan nya.
Sontak saja cindi tambah kesal dia sekarang benar-benar gak bisa tahan makanan yang nyangkut di leher, rendi bukan nya kasih cindi malah menertawakan dirinya. Sampai tiba saatnya roti yang nyangkut membuatnya cegukan.
"Syu hik, syu hik, syu hik...." Cindi meminta segelas susu sambil cegukan. Hal itu sontak membuat rendi semakin gila tertawa.
"Tuhh hik, tuh syu hik," Cindi semakin kesal juga di buatnya padahal dia udah jelasin secara rinci tapi rendi belum juga memahami dirinya padahal dia dari tadi keselek makanan.
"Ayolah ngomong yang jelas dong, masa habis minta syuhik minta tuhhik lagi apaan sih." Ucap Rendi pura-pura tidak ngerti padahal dia benar-benar sudah sakit perut ketawa.
"Uhuhuhuhu hiks, Uhuhuhu hiks, Uhuhuhu hiks" cindi langsung menangis tidak bisa menahan lagi lehernya yang keselek makanan. Rendi langsung panik saat cindi mulai kesal dan nangis dia langsung memberi susu itu ke cindi yang ternyata tinggal dua sendok.
"Haaa,' Rendi sontak kaget saat melihat susu itu sudah tumpah separuhnya akibat tertawa sambil memegang gelas. dia baru sadar kalau cindi menangis melihat susu itu tinggal dua sendok saja.
"Uhuhuhuhu, Hiks, Uhuhuhu.... hiks." Mendengar hal itu rasanya lagi-lagi rendi mau tertawa, gimana tidak lucu cindi menangis sambil cegukan belum lagi mengisap ingusnya yang keluar masuk terus tak ada hentinya.
...🐼🐼🐼...
__ADS_1
Rendi langsung mengambil kan air minum yang berada di sisi tempat tidur, dan memberikan nya pada cindi.
"Ini minum, udah tau ada air di tekok eh malah minta syu... hiks aku." Ucap rendi sambil mengusap-usap punggung cindi. Saat sadar ada air di tekok muka cindi yang yang tadinya pucat langsung menjadi merah merona karena harus menahan malu. Ternyata dari tadi ada air di tekok coba dia tau dia tidak bakalan mungkin minta susu rendi.
Aduhhh mana aku tau ada airnya orang tekoknya keramik coklat." Kesal cindi dalam hati, masih berusaha menahan malu di hadapan rendi. Saat sudah merasa baikan cindi lalu menyuruh rendi untuk istirahat.
"Sayang makasih yah, aduuh kamu istirahat aja lagi." Ucap Cindi.
"Ehhhhmmm," Suara berdehem dari belakang sontak saja membuat mereka berdua kaget. Tapi yang lebih kagetnya lagi saat mereka tau siapa yang sedang memerhatikan mereka dari tadi di belakang.
"Kak reno, papa, dari tadi yah?" Tanya rendi, cindi dan reno langsung jadi salah tingkah.
"Ahhh enggak baru juga, iya kan pa?" Ucap reno pura-pura seakan tidak lihat.
"I iya, baru kok ini kita datang," Ucap papanya yang ikutan menimpali perkataan rendi. Cindi yang berusaha membaca gerak-gerik mereka. sudah tau kalau mereka sedang berusaha mengelabui rendi dengan berbohong biar rendi tidak curiga.
Reno dan papanya lalu masuk ke dalam kamar itu untuk mengambil data yang mau di berikan rendi kepadanya.
"Mana datanya, ini udah mau mau masuk rapat kita nanti telat loh." ucap pak direktur seakan mengejar waktu.
"Ohhh iya pak, ini sudah aku masukin ke flashdisk kok pa," ucap rendi sambil mengambil flashdisk di dalam lemari kecil itu dan memberikan nya ke papanya.
"Ohhh ya udah kalian lanjut yah, kita mau lanjut ke kantor loh." Ucap reno sambil tersenyum-senyum memukul pundak rendi seakan memberi semangat kepadanya. rendi hanya saling menatap penuh tanda tanya, sedangkan pak direktur dan rendi tersenyum-senyum keluar dari kamar mereka.
...🐼🐼🐼...
__ADS_1