CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
batas dari kesabaran bersandiwara


__ADS_3

Rendi berjalan menuju parkiran, dia langsung masuk ke dalam mobil, mobil itu keluar dari kantor perusahaan ternama itu. Rendi lalu mengambil ponsel nya menghubungi seseorang.


"Tuuuut..... Tuuuut..... tuuutt....


"Halo sayang ada apa?" Tanya cindi di seberang, Rendi langsung gugup terlihat keringat nya naik turun.


"Ibu mana?" Tanya nya.


"Ibu Balik ke rumah," ucap nya


"Kapan dia balik,"


"Baru saja, dia bersama bibi katanya anak bi inem sakit jadi dia sama ibu balik ke rumah." ujarnya


"Owhh terus di rumah cuma kamu sendiri?" Tanya Rendi.


"Iya sayang siapa lagi.


"Ya udah tunggu aku pulang." Rendi tidak mau banyak pembahasan langsung mematikan telpon nya.


Tuuut tuuut.


"Halo, bukan nya sekarang ada meeting yah." Belum di jawab telpon nya udah di matiin, tadi udah tau kalau istrinya pasti bertanya soal itu. soalnya di kantor sekarang lagi meeting, tapi karena di gantian sama Reno jadi Rendi tidak perlu khawatir lagi. Dia hanya perlu di rumah selama dua Minggu untuk pemulihan agar cepat sembuh.


mobil itu memasuki perumahan elit, terlihat orang-orang berlalu lalang di jalanan. memang perumahan ini begitu ramai karena fasilitas nya lengkap ada kolam renang umum, ada taman ada mesjid, gereja dan dekat dari taman safari.


Rendi lalu membuka pagar rumah itu dan memarkir mobilnya di halaman rumah tempat parkir mobil. terlihat rumah itu tertutup rapat Rendi menekan bel yang ada di dekat pintu. terlihat seorang wanita keluar dengan wajah kaget.


"Loh kok pucat banget kamu?" Tanya cindi panik lalu membopong tubuh yang berat itu masuk ke dalam rumah.


"Badan mu panas banget aku ambil obat dulu, cindi lalu masuk ke dalam tak lama kemudian kembali dengan kotak obat P3k dintangan nya.dia lalu mengambil termometer lalu membuka baju jas Rendi.

__ADS_1


Baru saja cindi membuka satu kancing bajunya rendi lalu menahan tangan itu, lalu memasang kembali kancing bajunya.


"Kamu mau ngapain?" Tanya Rendi dengan suara berat.


"Aku dulunya seorang perawat, jangan membantah lagi ini sudah tugas ku dan satu lagi jangan berprasangka yang tidak-tidak."


"Ya udah buka saja," Rendi lalu membiarkan cindi membuka kancing bajunya satu persatu.


"Lagian Apa salahnya sih kita juga udah sah kok, seharusnya aku pantas melihatnya." ucapnya dengan kesal karena Rendi pura-pura cuek saat termometer di selipkan di ************ ketiak nya.


Wajah cindi semakin dekat tercium bau aroma sampo yang digunakan cindi. mendengar hal itu Rendi hanya tertunduk lessu.


"Aku masih sakit begini kamu masih berani bicara di depan ku." ucapnya sambil menatap kedua mata berwarna coklat itu.


"Nggak usah di tatap nanti aku baper lagi, kesalnya lalu berniat mengambil P3k dan bergegas pergi namun tiba-tiba ada tangan yang menariknya dan membuatnya menubruk tubuh Rendi.


"Bukan nya ini yang kamu mau," ujar Rendi. tangan seila kesakitan.


Rendi di bawah berbaring di sofa, terlihat ada obat di meja dengan air putih dia baru sadar kalau ternyata diam-diam cindi masih perhatian dengan nya. Rendi mengambil obat itu namun tiba-tiba cindi datang dan mengambil nya. terlihat di tangan cindi ada mangkok dan bubur ayam hangat.


Cindi duduk di samping Rendi lalu menyuapkan sup ayam masuk ke dala mulutnya. kali ini dia hanya bisa nurut, beruntung banget dia dapat wanita yang selalu perhatian padanya tanpa memikirkan perasaan nya sendiri.


"Aku minta maaf yah kalau ada salah." Rendi terduduk lesu.


"Udah makan bubur nya Dulu baru minum obatnya, tidak usah terlalu di pikir itu sudah biasa terjadi." dia lalu mengusap keringat yang menempel di kening Rendi dengan ujung baju nya yang dia angkat naik ke kening Rendi. Terlihat perut putih dan mulus itu membuat otak Rendi traveling. saat tangan nya ingin menutup perut cindi dengan kain yang dia tarik dari tangan nya.


Cindi lalu menahan tangan itu, Rendi tak bsrkutip dan hanya bisa diam mematung. setelah selesai mengelap kening nya cindi menurunkan kembali bajunya.


"Kan udah sah kenapa harus di tutup, gak papa asal yang liat suamiku sendiri." ujar cindi dengan perkataan lembut dan senyum, kata-kata itu cukup menusuk ke dalam hati Rendi ada perasaan sakit di dalam hatinya selama ini dia menafkahi nya secara lahir tapi tidak dengan batin nya. Rendi tiba-tiba mengambil kedua tangan cindi dan menyentuh kan tangan itu ke wajahnya sendiri.


"Ada apa dengan mu? tanya nya heran.

__ADS_1


"Aku merasa bersalah sama kamu, selama ini cuek sama kamu." ujarnya sedikit sedih.


"Owhh nggak papa, anak pintar buburnya di habiskan ayo minum obatnya." ujar cindi lalu memberikannya ke Rendi. Rendi mengambil obat dari tanah cindi lalu meminum nya.


"Anak pintar, ayo aku antar naik ke kamar." cindi lagi-lagi mengelus-elus rambut pria itu. lalu memapah tubuhnya menaiki anak tangga satu persatu.


"Hati-hati ayo sedikit lagi sampai." cindi memberikan semangat kepadanya, sekali-kali Rendi menatap wajah cantik itu tapi cindi sama sekali tidak menghiraukan itu semua. sudah terbiasa dan dia sudah mantap untuk tidak baper lagi.


Cindi membantu nya untuk berbaring di atas tempat tidur, cindi lalu mengunci pintu dan mengambilkan nya selimut tipis dari dalam lemari. saat hendak menyelimuti badan nya Rendi langsung menarik tangan cindi hingga membuatnya tertidur tepat di atas dadanya.


"Bolehkah aku meminta istriku menemaniku saat ini." izinnya ke cindi, karena kasihan cindi lalu mengangguk. padahal dia baru berniat untuk bercerai dengan Rendi bulan depan karena tertekan setiap hari tapi yang terjadi malah harus mendapatkan perlakuan aneh darinya sekarang.


Ya Tuhan apa-apaan ini, aku harus bagaimana sekarang." gumamnya dalam hati dia membiarkan dadanya berada di atas dada Rendi sampai pria itu tertidur cindi lalu pelan-pelan ingin keluar kamar namun saat baru selangkah saja. tangan nya di tarik oleh Rendi.


"Jangan tinggalin aku," Rendi menarik tangan itu namun langsung di hempas oleh cindi kali ini dia benar-benar muak dengan kepura-puraan Rendi. dari tadi dia benar-benar menganggap Rendi hanya pura-pura. dia bahkan tidak percaya lagi dengannya semua dia lakukan karena suruhan orang tuanya.


Rendi kaget langsung tertunduk lesu, cindi semakin geram di buatnya. dia benar-benar putus asa sekarang.


"Rendi mau kamu apa sih sebenarnya aku udah capek dengan semua sandiwara ini, bisa tidak kita berhenti berpura-pura dan menjalani semuanya seperti biasanya." kesal cindi kala itu.


"Maksud kamu?" Tanya Rendi heran.


"Aku tau ini pasti di suruh sama orang tuamu, kita udah banyak bersandiwara di depan mereka. kamu tidak perlu pura-pura saat kita berdua." kesal nya.


"Maksudnya apa sih," ucapnya dengan kata-kata yang sedikit sulit keluar sambil memegang kening nya.


"aku benar-benar bosan masa kamu tidak paham sih ren, aku tidak terima perlakuan tadi. aku hanya tidak mau hanya di anggap seperti pelacur." ujarnya kesal.


"Tapi aku benar-benar serius tadi." ucapnya menyakinkan wanita itu namun semuanya sia-sia.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2