CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Di hari libur


__ADS_3

Rasanya seluruh tubuhnya malas untuk digerakkan di hari Minggu ini, di bawah selimut Cindi masih juga tertidur dengan pulas nya. Hari ini di kampung neneknya panen jadi rencana mau turun ke kampung bersama keluarga. Lagi-lagi Cindi harus izin ke kantor itu, untuk liburan di hari Minggu.


Yah tapi setidaknya kemarin dia sudah izin dengan pihak perusahaan, meski wajah pria itu masam mendengar kata liburan.


Flashback on


Di dalam ruang direktur Cindi menyerahkan tumpukan dokumen di meja itu, mata pak direktur tidak berhentinya melotot memandangi tumpukan dokumen di meja.


"Rendi apa-apaan ini," Teriak pak direktur menegur Rendi.


"Dokumen lah pak, yang diperbaiki oleh Cindi." jawab Rendi dengan cueknya dia sudah tau kalau papanya akan marah jika mengetahui hal ini.


"Ya ampun kamu menyuruh Cindi menyelesaikan dokumen ini sendirian, Rendi itu namanya pemborosan kertas loh." Tegur papanya.


"Yah dari pada dia tidak berbuat apa-apa mending aku kasih tugas saja pak." Cindi yang mendengar hal itu bukan main kesalnya kayak apa.


Ya ampun pria ini rupanya sangat suka mengangguku, kalau dia bukan bos sudah ku tarik dari tadi rambutnya, kesabaranmu benar-benar habis berhadapan dengan pria tidak sopan ini.


"Silahkan duduk dulu nak," Pak Direktur menyuruh Cindi duduk di sofa, Cindi hanya bisa mengikuti langkah pak direktur dan duduk di sofa itu.


"Pak maaf sebelumnya, apakah aku boleh izin pulang kampung." Izin Cindi kepada pak direktur.


"Kampung... kamu pulangnya kapan?" Tanya pak direktur, saat Cindi menyebut kampung seakan dia teringat masa kecilnya.


"Kayaknya besok pak, di kampung ku lagi panen." mendengar hal itu pak direktur tiba-tiba teringat dengan rencana yang dia bangun bersama Reno.


"Boleh tapi ada syaratnya."


"Syarat, syarat apa pak?" Cindi semakin khawatir jika persyaratan itu tidak bisa dia jalani.


"Karena bapak sudah lama tidak pulang kampung, besok kami juga akan menyusul untuk liburan di kampung mu jadi bapak minta alamat nya." mendengar hal itu Cindi terkaget.


Aku tidak salah dengar pak direktur dan keluarga nya akan ikutan liburan, aduuh kalau Rendi tidak ikut tidak masalah....


"Pa, kayaknya aku malas ikut deh." Teriak Rendi dari kejauhan.


"Kampung kamu di mana nak?" Tanya pak Direktur.


"Kampung aku di Kuningan Jakarta pak."

__ADS_1


"Ohhh, kayaknya cocok kalau bapak ikutan libur di sana. Nenek bapak juga tinggal di daerah situ loh sekalian jalan-jalan ke rumah nenek bapak nanti."


"Ooooh, iya pak."


"Rendi.... kamu harus ikut," Teriak bapaknya tegas.


"Iya deh pak," Ucap Rendi dengan nada suara yang lemas, jika bapaknya sudah meninggikan suara hanya dua pilihan Rendi diam atau menyetujui nya.


"Nak Cindi kamu tinggal kasih tau besok lokasinya supaya kami juga bisa nyusul, sudah lama bapak tidak pulang kampung. Pak direktur menyandarkan tubuhnya di sofa itu dengan perasaan yang sedikit legah.


Cindi hanya bisa menghela nafas, mau bagaimana lagi dia tidak bisa menolak. Pokoknya besok dia akan memberi pelajaran Rendi, karena pria itu sudah bermain-main dengan dirinya. Cindi menatap Rendi dengan tatapan ingin menerkam, Rendi yang menyadari hal itu hanya bisa berfokus pada satu titik di depan matanya yaitu layar komputer.


Apa lagi yang di pikirkan wanita itu, seperti dia menyiapkan rencana pembunuhan kepadaku, tatapannya sangat menyeramkan.


Cindi terus manatap pria itu penuh dengan kekesalan, tiba-tiba kepalanya terbentur keras sama sesuatu di pintu.


Bruukkk


Suara tabrakan di pintu membuat Rendi langsung tertawa sejadi-jadinya, "Hahahaha, mata nya di simpan di mana mba?" Tanya Rendi.


Merasa di tertawakan Cindi langsung keluar dari ruangan itu tanpa berkutip, hari ini dia benar-benar kesal, dan malu. Setelah Cindi keluar dari ruangan itu, Pak direktur yang melihat kejadian itu langsung menegur Kelakuan tidak sopan Rendi.


"Tidak ada apa-apa kok pa, Hanya terlihat sedikit lucu saja." Rendi lagi-lagi hanya bisa menunduk dia tidak terlalu peduli lagi dengan teguran papanya.


Dengan perasaan kesal Cindi keluar dari ruangan direktur, di lift Cindi menghela nafas lalu keluar dari lift. penyakit jantungnya kambuh dia hanya bisa menghela nafas Agar bisa bernafas dengan keluasan.


...🐼🐼🐼...


Semuanya telah di kemas masuk ke dalam tas ransel Cindi, dia teringat dengan obat nya. Rupanya obatnya masih banyak. dia akan cek up lagi jika pulang dari liburan, yah Cindi hanya berharap semoga cepat dapat pendonor jantung.


Di bawah terlihat semuanya sudah siap untuk pulang ke kampung, Linda om dan tantenya juga terlihat sudah siap untuk pulang ke kampung ikutan panen.


"Sudah lama yah nunggunya?" Teriak Cindi di tangga, mendengar hal itu mereka semua menjawabnya dengan jawaban yang berbeda-beda.


"Tidak juga, jawab Tante Dian.


"Kakak kok lama banget?" Tanya Annisa.


"Udah hampir satu satu jam nunggunya." Ucap Wina dan suaminya.

__ADS_1


Mendengar hal itu Cindi hanya tersenyum tersipu malu, Linda menghampiri Cindi dan memeluknya. Cindi lalu menggendong Annisa ke mobil, lagi-lagi dia membuat Annisa cemburu.


"Annisa juga pengen," rengek Annisa ke Cindi. Dion yang melihat hal itu langsung menggendong keponakannya.


"Annisa sekarang sudah berat yah." Ucap Dion, Annisa hanya tersenyum malu-malu.


Kali ini mereka menggunakan dua mobil Cindi dan keluarga nya pakai mobil keluarga dan Dion bersama keluarga juga menggunakan mobil pribadinya.


Di perjalanan Cindi dapat Telpon dari pak direktur, sebenarnya Cindi masih kesal sama tingkah Rendi di kantor kemarin.


Dring.... Dring.... Dringggg


"Halo Assalamualikum pak,"


"Waalaikum salam, Apa lokasi yang di kirim nak Cindi sudah benar?" Tanya pak direktur.


"Iya pak, Sudah benar kok." Jawab Cindi sopan


"Kalian sudah sampai?" Tanya pak direktur di ujung telpon.


"Yah masih di perjalanan nih pak, memangnya bapak sudah sampai yah?"


"Kami juga di jalan nak."


"Ohhh, sampai jumpa di kampung pak."


"Iya, kami tutup dulu telponnya."


Tuut... Tuut... Tuut


Telpon terputus cindi melanjutkan tidurnya, karena perjalanan memang masih bisa di bilang jauh. Rupanya Annisa sudah dari tadi terlelap dari tidurnya, dan Ibu masih sibuk cerita dengan papanya.


Mereka sudah sampai di kampung halaman, Cindi masih tertidur pulas bersama Annisa. Di kejauhan terlihat mobil juga baru sampai, Pak Direktur beserta keluarganya ikutan turun di luar terlihat nenek sudah menunggu di depan rumah.


Pak direktur mendekati nenek itu, dan bertanya banyak hal. Semua hanya terkaget ketika tiba-tiba pak direktur memeluk nenek itu.


"Sudah lama kita tidak bertemu." Ucap pak direktur. Semua yang menyaksikan sampai bertanya-tanya kecuali Lina dan Cindi yang rupanya sudah tau.


...🐼🐼🐼...

__ADS_1


__ADS_2