
Pulang kantor semuanya menuju rumah Cindi, Cindi pikir kalau mereka semua akan datang hanya untuk bertamu saja ternyata ada rencana lain di balik semua itu, bahkan Cindi dan keluarga nya sendiri tidak tau acara perjodohan dadakan ini.
"Silahkan masuk pak," Wina mempersilahkan tamunya masuk yang tak lain keluarga kerabatnya sendiri. Pak direktur masuk ke dalam rumah itu, terlihat di taman kecil fi depan rumah banyak pot-pot bunga yang membuat rumah ini terlihat lebih asri.
Cindi yang berada di kamar langsung turun ke bawah. Terlihat ada bunga di tangan pak direktur dan sesuatu yang di bawah Oleh Rendi berbungkus kan kado kecil segi empat.
Ada apa ini, kenapa om membawah bunga di tangannya. Ucap Cindi dalam hatinya. Rendi dari tadi hanya menunduk dan sekali-sekali senyum tipis ke arah Wina dan Tono.
"Ehmm, Ini ada apa yah kok datang rameh-rameh?" Tanya Wina.
"Jadi begini jadi tujuan kami datang ke sini ingin melamar nak Cindi." Ucap pak direktur. Mendengar hal itu Cindi yang sementara minum langsung terbatuk-batuk.
Ohok ohok ohok,
"Lamar, om tidak salah orang kan?" Tanya Cindi menyakinkan omnya.
"Tidak nak, kami sudah pikirkan matang-matang kalau nak Cindi akan cocok dengan nak Rendi." Ucap Hajra.
"Rendi!" Cindi sontak kaget dan teriak. mendengar hal itu Rendi sepertinya hanya bisa tertunduk pasrah jika Cindi akan membencinya dan tidak menyetujui lamaran ini.
"Iya Rendi, apakah nak Cindi bersedia menerima lamaran nak Rendi." Ucap pak direktur.
Sekarang waktunya aku menjebak nya. bidik cindi dalam hati nya sambil menatap Rendi yang sedari tadi menunduk.
"Ehmmm, om tante sepertinya yang melamar yang harus mengatakan nya." Ucap Cindi sengaja memancing Rendi. Mendengar hal itu Rendi yang dari tadi tertunduk langsung menatap Cindi geram.
__ADS_1
"Iya Cindi benar, nak rendi ayo katakan sesuatu dengan nak Cindi." pinta Hajra, tapi kali ini rendi lagi-lagi hanya terdiam.
"Gak usah tante, sepertinya calonku sedikit pemalu." Ucapan Cindi malah mengundang tawa semua orang yang ada di ruangan itu.
Hahahahaha, Rendi semakin gugup berada di situasi di luar dugaannya ini.
"Kak pasangkan Cincinnya dong," Rengek Cindi dengan duduk di depan Rendi sambil menyerahkan jari manisnya. Mendengar hal itu entah kenapa Rendi yang suka jail dan angkuh itu malah menjadi kaku dan membisu saat melihat jari-jari cindi sudah berada di depan matanya.
"Ehmm, oke-oke." Ucap Rendi, dengan mengumpulkan semua keberanian yang dia miliki Rendi lalu membuka bungkusan kado kecil itu dan mengambil cincin yang ada di dalam tempat yang berbentuk hati berwarna merah.
"Waw rupanya calonku sangat pintar memilih nya. Mendengar gombalan Cindi Rendi hanya fokus ke jari manis itu dan memasangkan cincin berlian berwarna putih mengkilat di jari manis nya. Entah kenapa hal yang kebetulan ini justru membuat Cindi langsung menerima lamaran Rendi, dia hanya ingin menunjukkan ke bayu bahwa dia sekarang sudah lamaran dan akan menikah.
Hubungan nya dengan bayu yang sudah bertahan hampir tiga tahun malah sekarang hanya tinggal kenangan saja. Padahal dua bulan kedepan harusnya Bayu lah yang akan melamarnya tapi takdir telah berkata lain.
"Makasih kak, aku suka cincin nya." Ucap Cindi ke pada Rendi saat Rendi sempat menatapnya, Rendi hanya tersenyum tipis saja.
Bayu kita liat siapa yang akan sakit hati besok, kau akan menyesal karena sudah selingkuh di belakang ku.
Setelah acara lamaran selesai Keluarga pak direktur akhirnya pulang, Rasanya Rendi bisa bernapas dengan legah walau masih sedikit gugup apalagi saat dia mengingat kegenitan Cindi yang di buat-buat di depan orang banyak.
...🐼🐼🐼...
Cindi naik ke kamarnya entah kenapa dia mau menerima lamaran rendi, apa karena keluarganya atau karena kemauan dirinya sendiri. Cindi baru terpikirkan akan hidupnya kelak bersama Rendi seperti apa, Tapi semuanya sudah terjadi jadi cindi hanya bisa pasrah saja. Mungkin saja Rendi adalah pria yang di kirimkan tuhan untuknya dan bayu hanya teman untuk sementara saja.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 20:03 malam tepat pukul delapan lewat Tina menelpon. Katanya dia akan jalan-jalan ke mall bersama Abi dan suaminya, dia mengajak Cindi dan annisa ikut bersamanya. Cindi masuk ke dalam kamar adiknya terlihat annisa masih tertidur pulas.
__ADS_1
"Sayang kok tidur magrib, jalan-jalan ke mall bareng abi yuk." Ajak Cindi kepada adiknya, mendengar ajakan itu Annisa langsung terbangun dan mengucek matanya.
"Jalan-jalan sama abi?" Mendengar hal itu membuat annisa tidak begitu yakin
"Iya sayang, Ayo bangun ganti baju." Ucap Cindi lalu menggendong adiknya menuju kamar mandi. Setelah mencuci muka annisa, Cindi lalu mengambil baju di dalam lemari dan memakaikan di badan adiknya.
Setelah semuanya sudah siap, Cindi menggandeng tangan adiknya turun ke bawah, terlihat di bawah ibu dan ayahnya sudah berada di ruang tamu dengan menggunakan baju yang tidak biasanya mereka gunakan.
"Loh papa, ibu, mau ke mana?" Tanya cindi kaget.
"Loh, sayang kita mau ke mall bareng kamu." Ucap tono ayahnya cindi.
"Padahal aku baru mau izin loh, tau-taunya kalian sudah tau." Mendengar perkataan Cindi wina lalu memberi taunya.
"Sayang tadi kami di telpon sama mba Lina katanya mau mengajak kami makan malam di sana." Jelas Wina.
"Ohhh, berangkat yuk," Cindi menarik tangan Annisa menuju parkiran mobil bersama ayah dan ibunya. Tak terasa mereka sudah sampai di salah satu mall terkenal di jakarta.
"Bu, apakah mba Wina juga mengajak saudaranya?" Tanya Cindi kepada ibunya.
"Sepertinya itu pasti, kami saja di ajak." Wina begitu yakin hal itu.
"Ohhh," Cindi hanya bisa bergumam oh saja lalu kembali terdiam. Seila tetap menggandeng tangan adiknya masuk ke dalam mall itu, papa dan ibunya terlihat begitu bahagia saling bergandengan tangan.
Ibu sama ayah masih terlihat romantis, pengennya punya suami seperti ayah baik, penyayang, dan pengertian.
__ADS_1
Terlihat di kejauhan di meja makan restauran Lina dan keluarganya sudah menuggu mereka, Mendengar ada tamu baru yang masuk di restauran Rendi sempat menoleh mata cindi dan Reno saling bertemu tapi saling tidak menghiraukan satu sama lain layaknya orang asing, padahal tidak lama lagi Cindi akan jadi istrinya tapi pria itu tidak seperti biasanya.