CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Kedatangan bi inem


__ADS_3

Saat asik-asiknya Cindi lagi menonton drama korea tiba-tiba ada yang menelpon. Cindi lalu mengambil handphone yang terletak di atas lemari kecil.


"Halo, assalamualaikum." Ucap Cindi ramah.


"Iya, waalaikumsalam non. aku sudah ada di depan pintu non." Ucap pelayan yang akan membantu nya.


"Ohhh, iya bi tunggu aku turun bukakan pintu." Cindi langsung berlari ke luar untuk membukakan pintu buat bibi, dia tidak enak jika harus membiarkan orang lain menunggu di luar pintu. Apalagi kan Bibi itu sudah berkepala lima, cindi sangat menghargai orang lain. Tapi jika orang lain berlaku tidak adil padanya bisa saja Cindi akan menegur mereka siapa pun itu.


Bibi inem masuk ke dalam rumah itu, dia kali ini benar-benar terpanah dengan panduan rumah pilihan pengantin baru itu, di dalam nya benar-benar terkesan unik dan bisa membuat mata nyaman dengan banyak nya penghijauan di setiap sudut rumah.


Bi inem langsung menyimpan tas nya di atas sofa, dia tersenyum ramah ke Cindi yang terheran-heran dengan tingkah bi inem. bibi inem seolah-olah baru liat rumah saja padahal kan di rumah majikan nya dia sudah terbiasa hidup mewah. Cindi mengikuti bi inem dari belakang sambil terheran-heran.


Ada apa dengan bi inem apa dekorasi rumah ini tidak bagus. Bisiknya dalam hati.


"Ehmm, bibi kok seperti kebingungan." ucap Cindi masih keheranan.


"Rumah non keren, aku benar-benar suka." Ucap bi inem.


"Ohhhh, kirain tadi bibi mau bilang dekorasinya aneh." ucap Cindi, Mereka berjalan-jalan keliling rumah sambil mengobrol.


"Eh iya non kucing nya Mas rendi ikut loh." Ucap Cindi.


"Kucing, kucing apaan bi?" Tanya Cindi heran.


"Mas rendi punya kucing non, tadi pagi dia pesan ke pak budi buat di antar kucingnya ikut sama bibi.


"Loh, kalau rendi suruh bawah kucing ke sini terus kucingnya mana?" Tanya Cindi heran.


"Kucingnya mungkin lagi main di luar taman, tadi waktu aku sampai kucingnya sempat ku gendong." jelas bibi.


"Ohhh, yaudah kalau begitu bibi boleh ku anyar ke kamar tamu." Ucap Cindi sambil mempersilahkan bibi jalan mendahuluinya dan dia ikut di belakang.

__ADS_1


"Non kucingnya mas rendi ku ambil dulu di luar, nanti dia bertamu di rumah tetangga tidak kembali-kembali. Pamit bibi untuk keluar mencari kucing nya mas rendi.


Cindi mengikuti Bibi inem dari belakang, dia benar-benar kepo dengan kucing yang dari tadi dia cerita. Di taman pekarangan rumah Terlihat seekor kucing yang sedang berlari-lari bermain sendiri seakan dia menikmati nya.


"Puss.. cecece... Puss.... sini." panggil bibi memanggil kucing berbulu tebal itu. Puss menoleh ke belakang dan memilih berlari-lari seakan mengajak bibi untuk mengejarnya. Bi inem akhirnya terpancing, dia berlari-lari mengejar kucing itu di pekarangan rumah yang cukup luas.


Cindi tertawa melihat kucing itu berlari-lari seakan sedang bermain-main dengan bi inem.


Bi inem kewalahan mengejar kucing itu, Cindi sampai memegang perutnya karena dari tadi ketawa terus.


"Puss, puss, ayo sini puss ayo puss, jangan lati terus puss," Tak henti-henti nya dia memanggil kucing itu. Sampai akhirnya anggora kecapean dan memilih untuk berbaring di atas rumput tebal itu.


Melihat anggora kelelahan akhirnya bibi inem ikutan duduk di samping anggora sambil mengusap-usap kepalanya manja, Cindi teringat film nya yang suka dia tonton.


"Aduhhh, kok aku sampai lupa kalau hari ini film nya main." Tanpa pikir panjang Cindi langsung berlari menuju ke kamarnya tanpa memikirkan bi inem dan kucing itu lagi.


Di kamar Cindi langsung duduk di depan televisi sambil memakan kerupuk yang sudah tersedia dia meja.


Bibi inem berbalik dengan menggendong kucing anggora itu sambil mengusap-usap kepalanya. Anggora di bawah masuk ke dalam rumah, pintu lalu di tutup.


Tak, Tak, Suara pintu di kunci, Anggora langsung turun dari gendongan bi inem. Bi inem melepaskan anggora lalu mengambil tas nya kembali yang berada di atas meja dan membawanya ke atas kamar yang tadi di tunjuk cindi.


Bi inem istirahat di kamar itu, dia mengunci pintu kamar lalu membaringkan tubuhnya ke atas kasur.


...🐼🐼🐼...


Di kantor Rendi sibuk mengecek beberapa data untuk meeting besok pagi. Pak direktur yang masih istirahat di tempat tidur malah sibuk memijit-mijit kakinya. Saat Reno masuk ke dalam ruangan dia sempat melihat papanya sibuk memijat-mijat kakinya.


"Pa sakit kaki yah," Reno menghampiri bapaknya yang masih sibuk memijit kakinya.


"Ini lagi keram, papa bangun tiba-tiba keram." Ucap papanya.

__ADS_1


"Ya ampun pak, sini saya pijat-pijat." Reno lalu memegang kaki papanya dan memijat-mijatnya pelan-pelan.


"Pa, bilang yah kalau sakit!" ucap Reno sambil memijat-mijat betis papanya. Rendi sempat berbalik ke arah mereka, lalu kembali fokus ke layar.


Sampai akhirnya jam makan siang tiba, perut rendi sudah berbunyi, minta di isi. Sampai tiba waktunya Reno dan papanya berdiri dari tempat itu.


"Ehmmm, dek makan siang yuk lapar nih." ajak Reno kepada rendi.


"Iya kak," Tanpa pikir panjang rendi langsung menyimpan file itu dan mematikan laptop. terlihat papanya sudah baikan lagi, Mereka lalu keluar dari ruangan kantor menuju ke lift.


Di lift mereka sama-sama terdiam, tidak ada yang ngomong satu orang pun. Mereka saling melirik satu sama lain sampai akhirnya Reni tertawa membuat suasana hening tadi menjadi ribut.


"Hahahaha, Kok pada lirik-lirik sih?" Tanya reno.


"Lah emang siapa yang duluan?" Tanya papanya balik. Rendi dan reno saling menunjuk satu sama lain seakan tidak ada yang mau di tuduh.


"Rendi, kakak" Ucap mereka secara bersamaan.


"Kakak yang duluan," Ucap rendi kesal.


"Rendi yang duluan pak," kesal reno. mereka saling menunjuk-nunjuk satu sama lain.


"Kalian kayak anak-anak aja bertengkar padahal kan sudah besar." Tegur papanya. Rendi dan reno saling menunjuk satu sama lain seakan tidak ada yang mau di salahkan.


"Ya udah terserah kalian, papa diam saja." Kali ini papa mereka diam, rendi dan reno akhirnya berhenti berdebat. Reno tiba-tiba merangkul pundak adeknya seakan baik-baik saja.


"Hahahhaha Ya ampun dek, jangan ngambek gitu akun kan cuma bercanda doang." Ucap rendi sambil tertawa gila.


Pak direktur hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan mereka berdua. Rendi ikutan tertawa sampai akhirnya lift sampai di lantai satu, merek keluar dari lift menuju kantin kantor.


...🐼🐼🐼...

__ADS_1


__ADS_2