CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
di rumah


__ADS_3

Cuaca malam ini cukup dingin karena musim hujan telah tiba, Cindi merasa sedikit malas untuk bergerak.


Tok tok tok


Seorang wanita paruh baya masuk ke kamar itu, dan langsung duduk di pinggir tempat tidur.


"Cindi ini sudah jam 1 malam tapi kamu belum makan juga," Terlihat kekhawatiran Wina di wajah nya itu.


"Iya Bu, Cindi rasanya Malas bergerak." Cindi kembali menyelimuti tubuhnya dengan selimut.


"Yaudah, ibu bikinin susu hangat yah." Mendengar hal itu Cindi hanya mengangguk lemas. Wina lalu bergegas turun ke dapur membuat kan susu hangat dan Roti bakar.


Cindi merasa kondisi tubuhnya semakin melemas dan demam, dia hanya bisa berharap kalau semuanya akan cepat selesai. Wina masuk ke dalam kamar itu dengan membawah roti bakar dan susu di nampan.


"Nak makan dulu," Wina meletakkan nampan itu di meja depan kamar Cindi.


"Iya ma," Cindi berusaha membangunkan tubuhnya yang mulai melemas. Di makan nya roti dan susu itu dengan lahap, Vina hanya bisa tersenyum-senyum melihat tingkah Cindi seperti tidak makan satu bulan.


"Besok jangan ke kantor, libur saja yah." Wina menasehati anaknya berharap nasehatnya akan di dengar olehnya. Cindi kala itu hanya bisa menganggukan kepala nya tanda mengerti.


Setelah semua Roti Cemplung masuk ke mulut Cindi beserta roti itu, Vina lalu membawah nampan kosong itu ke dapur.


Di dalam kamar Cindi merasa lebih baikan, entah kenapa di musim hujan begini dia bawahannya lapar, tapi tubuhnya juga rasanya berat untuk melangkah turun ke dapur.


Di kamar Cindi berusaha untuk membangunkan tubuhnya dan langsung mengambil kertas di meja dan amplok, dengan bersusah paya dia mengambil pulpen di laci tasnya dan mulai menulis surat izin nya besok di tempat kerja.


Ini sudah kesekian kalinya dia izin dari kantor, tapi rasanya demamnya malah semakin menjadi-jadi saja. Setelah selesai menulis surat izin dia kembali berbaring di tempat tidur itu, dan tertidur lelap.


Krek krek krek


Cindi terbangun di tengah malam, seperti ada suara mencakar-cakar dinding kamarnya. Itu sudah kebiasaan dirinya jika sakit maka dia akan mendengar banyak suara aneh dari seluruh ruang kamarnya. Kali ini suara cakaran seperti suara cakaran kucing yang sedang marah, Cindi berusaha memberanikan dirinya untuk keluar kamar melihat apakah benar-benar ada kucing atau itu hanya ilusinya saja. Suara cakaran itu semakin menjauh jika Cindi mendekatinya, sampai akhirnya suara itu hilang dengan sendirinya.


Cindi kembali ke tempat tidur nya niatnya untuk membuka pintu kamar di batalkan, di baringkan kembali tubuhnya di atas kasur dengan berselimut tebal menutupi seluruh tubuhnya. Saat ingin memejamkan mata lagi-lagi dia mendengar suara seperti mencakar dinding kamarnya, Cindi semakin lama semakin kesal juga dibuatnya. Cindi dengan susah payahnya membangunkan tubuhnya dan langsung berlari ke pintu untuk membuka nya.

__ADS_1


Cekrek


Di luar pintu betapa kagetnya dia melihat Anggora di depan pintu sudah penuh dengan luka darah seperti habis di cakar hewan lain. Cindi langsung panik dan berusaha untuk menenangkan diri, Cindi mengambil kucing itu dan membersihkan luka pada tubuhnya, tiba-tiba seorang anak kecil masuk ke kamar cindi dengan pisau kecil di tangannya.


"Lepas kucing itu," Teriak anak kecil itu. Mendengar suara yang tak asing Cindi langsung membalikkan tubuhnya, betapa kagetnya dia Annisa sudah ada di depannya dengan baju penuh darah. Ternya Annisa lah yang telah melukai anggora sampai anggora berlari ke depan kamarnya.


"Annisa apa yang kamu lakukan?" Teriak Cindi lantang.


"Kakak jahat, ini hukuman buat Anggora siapa suruh dia sudah mengigit tangan ku." Kesal Annisa dia lalu memperlihatkan Cindi bekas luka nya.


"Tapi kan tidak seperti ini juga kali sayang." Ucap Cindi dia lalu menenangkan adiknya dan memeluknya.


Tsuuuut


Pisau itu menusuk perut Cindi, Cindi lalu terkapar di lantai bersimbah darah. seluruh tubuhnya sekarang kaku di liatnya Annisa mengambil anggora dan menebas lehernya.


Setttt.....


"Tidak.........." Cindi teriak Annisa lalu menatapnya dengan senyum yang menyeramkan lalu keluar dari kamar Cindi dengan tertawa keras.


...🐼🐼🐼...


Cindi di tempat tidur terus-menerus mengingau Annisa berusaha membangunkan kakanya.


"Kak Cindi bangun kak," Annisa menepuk-nepuk pipi kakanya yang mulai tinggi demamnya. Cindi terbangun dari tidurnya, di liatnya Annisa sedang duduk di tempat tidurnya. Cindi langsung mundur ketakutan mengingat kejadian semalam, di liatnya di tangan Annisa ada pensil tajam.


"Annisa apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Cindi. Annisa yang mendengar itu sontak kaget dan benggong.


"Kakak bicara apa sih? Annisa kan baru sampe dari liburan." Ucap Annisa kesal bukannya kakaknya senang malah berpikiran negatif dengannya.


"Kamu kapan datangnya?" Tanya Cindi heran.


"Kakak yang bangunnya kelamaan, ini sudah jam 10 pagi loh kak." Ucap Annisa. Mendengar hal itu Cindi sontak terkaget.

__ADS_1


"Apa... Jam sepuluh pagi, aduhhh padahal kan aku mau suruh papa untuk kirimin surat ke kantor." Cindi hanya bisa menyesali kebodohannya.


"Kak, Linda dari tadi menunggu kakak loh di bawah." Kesal Annisa melihat keanehan kakanya.


"Apa.... Linda ada di bawah?" Teriak Cindi lagi.


"Kakak kebiasaan deh teriak di depan Annisa," Annisa ngambek dia langsung berjingkrak-jingkrak menghentakkan kakinya sambil menutup telinga, dia begitu kesal dengan kakanya.


"Kita turun bersamaan..." belum selesai Cindi berbicara annisa langsung meninggalkan Cindi di kamar Sendirian.


Di luar kamar Annisa celoteh seenaknya, "Kakak bukanya senang Annisa datang malah membuat Annisa kaget."


Tanpa pikir panjang Cindi berlari keluar dan turun ke bawah mendahului Annisa yang masih berada di sepertiga tangga. Di dapur di liatnya Linda menggunakan topi berwarna pink dengan jaket dan celana panjang. Cindi langsung memeluk keponakannya dari belakang, Linda menoleh sontak kaget dan tersenyum ke arah Cindi.


"Dari tadi menunggunya yah gadis cantik?" Tanya Cindi kepada Linda lalu menggendongnya.


"Iya," Ucap Linda.


"Cindi ingat kamu masih demam, jangan bawah Linda jauh-jauh." Nasehat ibunya.


"Iya Bu," Cindi membawa Linda ke taman di ikuti Annisa di belakangnya.


Di taman Cindi duduk di kursi, Annisa dan Linda berlari-lari di taman itu. Seorang pria dari kejauhan menatapnya.


"Cindi, apa itu anaknya?" Tanya Rendi dalam hati.


"Ehmm, lagi liatain apa dek?" Tegur Lina mengejutkan nya, Lina lalu berusaha mencari tau apa yang di liat Rendi.


"Jalan yuk kak!" Ajak Rendi dan mulai mengabaikan gadis di kejauhan.


"Ohhh, Cindi belum nikah kok." Tegur Lina kepada Rendi.


"Bodoh amat," Rendi lalu meninggalkan kakaknya di belakang dan kembali masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Gitu aja ngambek." Ledek Lina ikutan masuk ke dalam mobil. Rendi hanya fokus menyetir dan tidak peduli lagi dengan ucapan terakhir yang di lontarkan kakaknya.


...🐼🐼🐼...


__ADS_2