CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Perbincangan perjodohan tiba


__ADS_3

Semua hanya terdiam dan tersenyum-senyum, hal itu membuat Rendi semakin merasa seperti aneh dan asing. Pak direktur lalu memberi tau yang sebenarnya ke rendi.


"Jadi begini nak, sebenarnya aku mau menjodohkan kamu dengan Cindi." belum selesai pak direktur bicara Rendi sontak saja langsung terkejut dan syok mendengar nya.


"Apa, Cindi? ya ampun bapak tidak salah orang?" Tanya Rendi masih kaget.


"Loh dia kan anak yang baik, sopan dan ramah." Ucap pak direktur.


Sopan nya sama bapak saja kalau sama aku dia biasa saja kok


"Itu kan menurut bapak, tapi..." Belum selesai Rendi melanjutkan perkataanya Sudah di putus duluan sama pak direktur.


"Tidak ada tapi-tapian pokoknya bapak mau kamu menikah sama dia." Tegas Pak direktur.


"Apa? pak please deh ini tuh sudah bukan jamannya siti nur baya main perjodohan, udah modern pak nanti rendi cari sendiri." Rendi masih kaget dan syok mendengarnya.


"Rendi kamu kan tau kalau kamu itu orangnya susah untuk mengerti orang lain, sekarang kamu harus menerima kenyataan supaya kamu bisa merubah sikapmu itu nak." Nasehat pak direktur dengan perkataan lemah lembut itu.


"Tapi pak dia itu sepupu aku," Tegas Rendi dan beranjak ingin berdiri tapi tangannya di tarik oleh mamanya.


"Nak, justru karena dia sepupu kamu kita malah sangat yakin kalau Cindi bisa merubah kamu. percuma nak kita menikah sama orang jika kita sama-sama keras dan tidak ada yang mau di atur, tapi Cindi itu beda dia mampu membina mu menjadi baik ibu yakin itu." Nasehat Hajra dengan memukul-mukul pundak anaknya, semua di ruangan itu hanya bisa mematung memandang Rendi.


"Tapi bu kami tidak saling menyukai," Rendi menatap ibunya memohon-mohon tapi hajra malah sangat mengerti dengan kondisi rendi saat ini.


"Sayang kamu sekarang itu sudah waktunya menikah, kita tidak tau kapan akan datangnya cinta dalam diri seseorang entah esok ini haru atau tahun depan, tidak ada yang tau nak. Ayahmu dulu sama ibu juga di jodohkan kami saling suka saat berlangsung beberapa bulan pertengkaran dan kebencian tapi takdir telah merubahnya menjadi cinta." Rendi mendengar hal itu kaget dia tidak menyangkah kalau ibunya dulu di jodohkan juga.

__ADS_1


"Ibu tapi..." Hajra langsung menutup mulut Rendi dengan satu jari telunjuk.


"Suuut, nak Kamu harus percaya sama kami sekarang umurmu sudah mau masuk 28 tahun loh. Ini sudah waktu yang matang untuk menikah kali ini kamu harus ikuti kemauan ayah dan ibumu sebelum kami berdua tiada, ibu dan ayahmu sudah sangat tua nak kami hanya ingin melihatmu nikah dan akan hidup bahagia." Nasehat ibu Rendi cukup membuat Rendi merasa takut berdosa, ibunya adalah orang yang paling dia banggakan dan sayangi di dunia ini.


"Jika itu sudah kemauan ibu ayah dan kalian semua, maka saya akan menerima kesepakatan ini tapi jika kami memang tidak bisa menyatuh maka kami akan."


"Stop, Rendi kamu tidak boleh berkata seperti itu harusnya kamu bilang semoga tuhan bisa menyatuhkan kita." Reno menahan pembicaraan rendi sebelum ibunya akan kecewa mendengar nya.


"Kak, terus aku harus bilang apa lagi, kalau dia jodohku pasti tuhan akan menyatuhkan." Kesal Rendi saat Reno memotong pembicaraan nya.


"Aamiin," Semua sontak bersorak mengaminkan doa Rendi. Rendi hanya bisa pasrah, kali ini dia hanya bisa terdiam membisu.


"Okey kalau begitu Ayo masuk masing-masing ke kamar kalian istirahat besok akan kembali beraktivitas lagi." Nasehat pak direktur karena sepetinya semua sudah aman dan baik-baik saja jadi tidak ada yang perluh di khawatirkan lagi. Semua beranjak dari kursi itu dan kembali istirahat, jam sudah menunjukkan pukul


...🐼🐼🐼...


Di kamar Cindi sibuk dengan tugas kantor nya yang kemarin belum selesai di kerjakan nya, Dia mulai mengantuk sebenarnya dia tidak boleh telat tidur tapi karena tugas nya tinggal sedikit jadi mau tidak mau dia harus menyelesaikan.


Setelah beberapa jam mengerjakannya akhirnya laporan itu sudah selesai semua dia print, Cindi kembali naik ke kasurnya tak lupa sebelum tidur dia meminum air satu gelas dan membaringkan tubuhnya agar jantungnya bisa cepat sehat.


Seorang pria berjalan-jalan di koridor kantor, wajahnya terlihat murung tidak seperti biasanya. Cindi mendekatinya tanpa ragu-ragu, tidak salah lagi pria itu Rendi.


"Ada apa dengannya kenapa dia di balkon kantor bukannya sekarang jam kantor?" Pikir Cindi sambil mendekati pria itu.


"Ehmm, kamu sedang apa di sini." Sapa Cindi dengan sopan.

__ADS_1


"Bukan urusan mu," ketika pria itu hendak berbalik masuk ke kantornya Cindi menarik lengan bajunya. Hal itu sontak membuat Rendi kaget dan membalikkan tubuhnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Bentak Rendi kesal.


"Ehmmm, Pak Rendi ku yang baik hati aku mau tanya satu hal sama kamu." Cindi mendekati rendi semakin dekat hal itu sobtak saja membuat Rendi kaget dan mendorong tubuhnya.


"Sana, sana jauh-jauh dari kehidupan ku." Rendi mendorong tubuh Cindi sampai terkulai jatuh ke lantai. Ternyata di belakang Cindi jendela terbuka satu kali saja dia mundur maka nyawanya akan melayang.


"Rendi apa yang kamu lakukan." Cindi marah dan kesal saat hendak melangkahkan kakinya untuk berdiri tiba-tiba saja rendi mendorongnya tapi Cindi malah menarik lengan baju Rendi. Cindi terlempar keluar dari luar jendela balkon itu terlihat Rendi kaget dan binggung harus melakukan apa. Rendi ingin menolongnya tapi lengan itu sedikit lagi akan terlepas dari tangannya karena tubuhnya berat, Rendi berusaha menarik Cindi naik ke atas sampai ada tangan seseorang pria di samping rendi yang tidak dia kenal membantu rendi menarinya.


Cindi berhasil di selamatkan tapi orang itu hilang setelah membantu Rendi Cindi langsung saja syok dan memeluk Rendi ketakutan dengan apa yang barusan terjadi.


"Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu ingin membunuhku?" Tanya cindi memukul-mukul dada Rendi masih ketakutan.


"Karena kita akan di satukan dalam pernikahan, aku takut jika aku tidak bisa menjadi pria yang bertanggung untukmu, aku pikir kamu tidak semestinya tau ini."


"Kamu jahat, kamu hampir saja membunuhku, dan apa yang kamu katakan tentang pernikahan kenapa harus aku?" Tanya Cindi belum sempat di jawab oleh Rendi, Rendi berlalu pergi dan menghilang meninggalkan Cindi di gedung yang mengerikan itu.


"Hahahaha, Menikah, menikah, wah sepertinya kakak sepupu tampanku mulai merayuku." Cindi kaget dengan apa yang dia katakan.


Dia tersadar mimpi ini hanya mimpi, pukul menunjukkan 06:02 pagi Cindi terbangun dia kaget ternyata ini beneran hanya mimpi saja,


Woahhhh, legah rasa nya hanya dalam mimpi tapi kok ini kedua kalinya aku dan rendi membahas pernikahan dalam mimpi, bahkan mimpi pertamaku menikah dengannya mimpi kedua malah baru mau nikah. Rasanya aneh saja, aku merasa ini pertama kalinya dalam hidupku mimpi akan menikah dan hampir di bunuh olehnya.


...🐼🐼🐼...

__ADS_1


__ADS_2