CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Rumah bu susi


__ADS_3

Di dalam ruangan Cindi mulai di perkenalkan dengan beberapa pelanggan bu susi, para pelanggan menyukai cindi dengan wajah dan tubuh yang indah.


"Cindi kamu jangan sungkan-sungkan yah ini semua itu teman kamu nanti di sini, mereka semua juga lagi terapi." Ujar bu susi.


"Iya bu, makasih sudah mau di perkenalkan sama mereka." Ujar Cindi.


"Iya sama-sama, ini sudah kewajiban ibu," Ujar bu susi sambil tersenyum ramah.


"Iya bu," Ucap Cindi ramah.


"Hai semua perkenalkan ini teman baru kalian namanya Cindi." Bu susi memperkenalkan Cindi ke yang lain nya.


"Ohh, namanya Cindi? Dia sangat Cantik sekali." Ujar Bu leni dengan tersenyum ramah.


"Aduuh, makasih banyak bu." Ujar Cindi terlihat pipinya mulai merah akibat pujian yang bertubi-tubi dari para tamu.


"Dia cantik kan?" Tanya silia ke ani.


"Yah cantik sih," Ujar ani sambil menatap Cindi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Di tatap seperti itu Cindi hanya bisa melemparkan senyum ke arah mereka. Cindi sudah biasa dengan tatapan iri seperti itu, dia tidak terlalu banyak pikir lagi yang sekarang dia pikirkan itu bagaimana caranya agar dia bisa cepat sembuh dari penyakitnya.


Cindi lalu menyimpan tasnya di atas meja itu dengan rapi, lalu mendekati bu susi yang lagi sibuk mengurus para pelanggan nya. Cindi lalu duduk di samping ibu susi terlihat bu susi dan beberapa pelayan nya ikutan menerapi para pasien.


Terapi itu bertahan cukup lama bahkan hampir dua jam, Cindi sendiri yang masih baru malah keenakan dan merasa sedikit legah. Setelah selesai terapi terlihat ibu susi ke dapur dan membuat jus buah buat pasien nya sebagai penyegar.


Mereka istirahat sambil berbincang-bincang seru, sampai akhirnya pelayan ibu susi kembali ke ruangan dengan membawah jus segar dan alami itu, jus alpukat campur susu.


"Ini yah bu minuman nya, biar habis ini bisa tambah sehat selalu." Ujar pelayan itu.


"Aduhh, makasih sekali dong mba." Ujar salah satu pelanggan. Mereka semua mengambil bagian mereka, sambil sekali-sekali mereka bercakap-cakap untuk mencairkan suasana.


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, sampai akhirnya waktu Magrib telah tiba. Pak dokter lalu masuk ke dalam bersama aldo, mereka lalu pamitan untuk pulang.


"Gimana perasaan mu, habis ini terapi?" Tanya ibu susi.


"Yah aku merasa sedikit ringan dan lebih berenergi sih bu." Ujar Cindi sopan.

__ADS_1


"Kami juga sepertimu, kami di sini ada yang kanker, tumor, tapi sejak bertemu ibu susi semua terasa menyegarkan, dan memberikan energi positip sampai akhirnya semangat telah membuat kami sembuh. Pasca setelah operasi kami terapi dan ada juga yang tidak bisa bayar rumah sakit memilih untuk terapi saja." Mendengar ibu itu berbicara panjang lebar Cindi hanya tersenyum saja.


"Kalau begitu kami pamit dulu yah, karena ini juga sudah malam takut di cariin sama suami." pamit Cindi.


"Ohhh, kirain tadi suaminya mba." Ujar salah satu pelanggan.


"Iya aku kira suaminya," Ujar yang lain menimpalinya.


"Bukan bu, dia dokter saya yang sudah merawat saya dan menyarankan saya untuk terapi." Ucap Cindi untuk mencairkan suasana yang lebih baik.


"Ohhh," Mereka semua hanya mengangguk saja tanda mengerti. Setelah pamitan Cindi dan pak dokter ridho langsung pergi dari ruangan itu.


Mobil itu melaju pergi meninggalkan halaman rumah yang luas itu.


...🐼🐼🐼...


Di dalam mobil Mereka mengobrol, Cindi mulai merasa tidak enak sama pak ridho apalagi dia punya anak dan istri.


"Pak makasih sudah mau membantu saya," Cindi sangat bersyukur.


"Tidak papa kok pak, nanti saya ambil sopir pribadi." Ujar Cindi sambil tersenyum ramah.


"Iya, tapi jika kamu belum bisa jujur ke suami kamu, maka lebih baik kamu harus menyimpan nya sampai kamu benar-benar sembuh.


"Iya pak kayaknya lebih baik dia tidak tau pak," Ujar Cindi.


"Sebenarnya kalau dia tau itu lebih baik, tapi bapak hanya mengkhawatirkan kalau itu bisa mengganggu pekerjaan nya." Ujar pak dokter.


"Kamu mau singgah makan, sekalian beliin suamimu." Ujar Cindi.


"Iya pak boleh." Ujar Cindi. Mobil itu lalu singgah ke salah satu restoran yang sangat terkenal enak dan sehat. Cindi dan pak dokter singgah di rumah makan itu, terlihat di dalam sudah banyak yang datang tapi masih ada kursi yang masih kosong.


Mereka lalu pergi ke salah satu kursi paling pojok, dan memesan makanan yang ada di menu itu.


"Kamu mau pesan yang mana?" Tanya Pak dokter.

__ADS_1


"Aku pesan yang ini saja pak," Tunjuk Cindi ke salah satu menu makanan laut yang di masak matang.


"Okey kalau begitu aku pilih ini saja," Pak dokter menunjuk salah satu makanan laut Favoritnya. yaitu ikan emas bumbu sambal enak.


"Sekalian pesan kan untuk suamimu juga, dia pasti sudah menunggu mu di depan rumah." Ujar pak dokter yakin.


"Ia pak, aku pilih ikan gurami ini dengan bumbu yang lezat." Ujar Cindi sambil menunjuk salah satu menu ikan yang terlihat lezat.


"Bapak tidak pesankan buat mba dan vino?" Tanya Cindi.


"Aku pesan itu juga buat mereka, aku yakin mereka sangat menyukainya." Ujar dokter dengan tersenyum membayangkan wajah istrinya sangat senang jika tau dia membawahkan ikan kesukaan untuknya.


"Pak bungkus saja pak, nanti aku makan di rumah saja." Ujar Cindi dia khawatir kalau rendi akan mencarinya.


"Okey, mba saya bungkus menu ini satukan dan yang ini juga satukan," Ujar Pak dokter.


"Aku sama nasinya 4 porsi yah mba, yang ini pake nasi." Tunjuk Cindi ke salah satu menu yang di pesan nya.


"Ini bayar masing-masing yah mba?" Tanya pelayan.


"Iya mba," Ucap Cindi ramah.


"Siap mba, tunggu kami akan menyiapkan nya." pelayan itu lalu masuk ke dalam dapur untuk menyiapkan pesanan mereka, beberapa menit kemudian pesanan mereka sudah selesai. Cindi dan pak dokter lalu pergi meninggalkan restoran itu.


"Ingat pesan bapak kamu harus tetap tenang dan sabar, jangan buat suamimu jadi banyak pikiran." Nasehat pak dokter lagi.


"iya pak, kayaknya itu bisa mempengaruhinya." Di jalan sungguh macet dan membuat mereka malah telat sampai di rumah. Habis isya mereka baru sampai di rumah, Cindi turun dari mobil terlihat di luar sudah ada rendi yang menunggu nya.


"Makasih yah pak tumpangan nya, salam sama mba ku." Ujar Cindi sengaja biar rendi dengar jadi gak berprasangka buruk.


"Siap, kamu hati-hati yah nak ingat pesan aku." Nasehat pak dokter ramah.


"Siap pak," Pak dokter lalu melajukan mobilnya pergi dari tempat itu. Waktu terus berlalu Cindi masuk ke dalam rumah.


...🐼🐼🐼...

__ADS_1


__ADS_2