
Di meja makan semua sudah tertata rapi, Rendi masih molor di atas kamarnya. Cindi lalu pamit ke bibi untuk memanggil rendi.
"Bibi aku naik dulu yah, siapa tau rendi lagi istirahat di atas." ucap cindi sambil tersenyum ramah ke bibi itu, terlihat bibi inem ikutan tersenyum ramah.
Cekrek, Cindi membuka pintu kamar itu secara berlahan-lahan sampai akhirnya terlihat lah seorang pria sedang terbaring di sisi tempat tidur dengan nyenyak nya. cindi lalu mendekatinya.
"Ehmmm, bang bangun dong udah magrib loh." ujar cindi membangunkan rendi dengan pelan-pelan takutnya rendi malah kaget.
"iya, iya bentar." ucap rendi sambil sedikit terkejut, dia lalu bangun dari tempat tidurnya dengan sangat malas. Rasanya dia masih ingin tidur tapi nyatanya berbeda.
"Ya udah aku turun duluan yah sayang, kasian bibi loh sendiri di bawah." ucap Cindi, perkataan cindi barusan hanya di anggukan saja oleh rendi meski dia tidak begitu merespon nya. Cindi lalu turun ke bawah dan kembali ke dapur.
Saat mereka asik-asik ngobrol tiba-tiba rendi datang dan langsung duduk tanpa berkata-kata sedikit pun. Seperti biasanya di meja makan seperti kuburan sepi tidak ada suara.
Sampai selesai makan pun masih tidak ada suara di meja makan, itu sudah hal biasa bagi mereka. Selesai makan seperti biasanya rendi langsung naik ke kamar sedangkan cindi lebih memilih untuk bersih-bersih di dapur menemani bibi inem.
Di dapur mereka membersihkan sambil ngobrol bareng-bareng, bibi begitu suka sama cindi sampai mereka dalam semenit langsung bisa akrab. Tidak biasanya ada orang yang begitu langsung bisa beradaptasi dengan nya, tapi bibi inem malah punya kelebihan yang tidak di miliki semua orang. Solidaritas nya tinggi, siapa pun yang ada di dekatnya akan merasa begitu nyaman dan terhibur.
Flasback on
"Nak Cindi rendi itu waktu kecil dia dia suka sekali nangis kalau habis main sama teman nya." ucap bibi sambil tersenyum-senyum mengingat masa-masa kecil rendi yang begitu lucu, Cindi sampai-sampai kepo di buatnya.
__ADS_1
"Memang waktu kecil dia kenapa bibi?" Tanya Cindi tak sabar mau tau.
"Dia waktu kecil tuh Nak suka di jailin sama teman nya," Ucap bibi, kata-kata bibi semakin membuat cindi merasa kaget dan semakin ingin tau masa kecil rendi.
Di jailin kayak mana yah bi, kok aku makin penasaran aja!." Ucap cindi.
"Yah namanya anak-anak, pernah suatu hari aku mengajak nya jalan-jalan terus di jalan dia bertemu teman nya. Teman nya mengajak dia main kelereng waktu itu, kebetulan waktu itu dia bawah kelereng. rendi tidak enak kalau bibi ikut dengan nya jadi dia menyuruh bibi pulang saja." Ucap bibi panjang lebar.
"Terus waktu bibi di suruh pulang, bibi pulang beneran?" Tanya Cindi kepada bibi inem.
"Bibi pura-pura pulang tapi sebenarnya bibi malah memilih untuk mengawasi anak-anak itu, akhirnya bibi berbalik arah dan mengikuti mereka dari belakang tanpa sepengetahuan nya. sampai akhirnya bibi mengikuti mereka sampai lapangan kecil, mereka berhenti di sana rendi yang tak berada jauh dari pengawasan bibi saat itu terus mengawasi mereka dari jauh." Ucap bibi bercerita panjang lebar.
"Waktu bibi berbalik mengawasi mereka, apa yang mereka lakukan waktu itu?" Tanya cindi semakin kepo saja.
"Terus apa yang terjadi bi, saat rendi tau teman nya bermain curang?" Tanya Cindi.
"Yah rendi saat itu kan cuman bisa diam saja sampai akhirnya dia memilih untuk berhenti main. saat dia hendak pergi teman nya langsung memukulnya dari belakang, rendi kaget dan hanya bisa menangis." bibi serasa terharu setiap kali mengingat masa-masa kecil rendi.
"Loh emang di waktu kecil tidak nakal bi?" Tanya cindi kepada bibi. Terlihat bibi hanya tersenyum-senyum kecil.
"Yah gitulah dia nak, waktu kecil sangat penakut sampai dia berusia 11 tahun dia mulai nakal. Sehabis di pukul sama teman nya reno mengajari adiknya bela diri untuk jaga-jaga tapi bukan nya jaga diri sendiri dia malah suka berantem di kelas. Kita semua binggung mau di apakan anak itu, bapak direktur malah sering menghadap ke kantor sekolah." ucapan bibi membuat cindi semakin kepo saja.
__ADS_1
"Bibi serius?" Tanya cindi.
"iya bibi serius loh, kamu tidak percaya?" tanya bibi.
"iya loh bi aku gak begitu yakin." ucap cindi.
"Yaudah kamu ikut bibi ke kamar, bibi mau nunjukin sesuatu sama kamu." ucap bibi sambil tersenyum ramah. Cindi hanya bisa menuruti kata-kata bibi, dia benar-benar penasaran apa yang akan bibi itu perlihatkan kepadanya.
kamar itu terletak di samping kamar cindi di mana kamar itu kamar kosong. pintu kamar pun di buka, cindi mengikuti langkah bibi untuk masuk ke dalam kamar itu.
" duduk aja nak di situ," tunjuk bibi disamping tempat tidur. terlihat bibi membuka salah satu peti-peti kecil tempat penyimpanan berharga nya. cindi hanya terbengong saja, dia tidak tau apa yang akan bibi perlihatkan dengan nya. sampai suara bibi memecahkan lamunan nya.
"Ehmmm ini nak," terlihat bibi memperlihatkan beberapa foto-foto masa kecil rendi yang meresahkan itu. Cindi begitu memperhatikan wajah tampan anak kecil itu, dia begitu memperhatikan wajah itu. sampai tak sadar dia mengucapkan salah satu kata yang membuat bibi tersenyum.
"Ehhmmm, ini loh wajah aslinya waktu kecil bi, ganteng juga loh." ucap cindi saat menyadari bibi menatap nya heran dia cuma bisa tertunduk malu-malu.
"iya loh nak, dia memang cakep dari lahir. kayak seperti kamu sudah di kasih anugrah kecantikan alami dari dalam perut." puji bibi, pujian bibi hampir saja membuat cindi seperti melayang-layang di angkasa.
Sambil tersenyum malu-malu dia menutup mukanya dengan kedua tangan nya. entah kenapa dia merasa kalau pujian bibi inem benar-benar tulus dan benar, tidak kayak biasanya dia di puji sama orang-orang karena ada sesuatu yang dia liat pada dirinya tapi bibi malah memujinya dengan sepenuh hati.
cindi terus menatap foto-foto rendi waktu kecil, sampai tiba pada salah satu foto yang sudah sangat usang, di foto terlihat seorang ibu-ibu cantik menggendong anak perempuan kecil sambil tersenyum manis menghadap ke kamera. jiwa-jiwa ke kepoan cindi kumat lagi.
__ADS_1
...🐼🐼🐼...