
Persiapan pernikahan besok memang sangat merepotkan dan membuat kedua pasangan itu merasa resah sekaligus gugup. Tapi demi keluarga mereka terpaksa mereka harus menerima kenyataan hidup.
Hari ini Rendi dan Cindi di liburkan dari kantor untuk persiapan pernikahan, jadi dia gantikan oleh reno untuk sementara.
"Nak kamu harus temani Cindi untuk memilih-milih baju pernikahan yang akan dia gunakan." Ucap Hajra.
"Ya ampun bu, kan aku bisa sendiri atau sekalian dia ditemani sama mba lina saja." Ucap Rendi, tapi lina malah mendesak nya terus.
"Sayang yang mau nikah kan kamu, lagian kan supaya satu kali jalan saja." Nasehat Hajra.
"Tapi Bu..." Hajra langsung memotong pembicaraan Rendi.
"Tidak ada tapi-tapian, pokoknya ibu tidak mau tau kalian harus pergi bersama." Ucap Hajra tidak mau terimah alasan.
"Ya sudah aku siap-siap ibu telpon dia bilang aku akan menjemputnya." Reno kali ini nyerah sama ibunya. Rendi berlari menaiki tangga menuju kamarnya, Dari jauh Hajra hanya tersenyum penuh kemenangan.
Hajra mengambil ponsel yang ada di meja makan tadi, dia lalu menghubungi Cindi.
Tuut... tuut... tuut.... Suara telpon untuk menyambungkan ke si penerima sudah tersambung.
"Halo," Ucap bu Hajra.
"Halo iya ini dengan siapa?" Tanya Cindi dari jauh.
"Ini ibu nak, ibu hajra." Ucap bu hajra.
"Ibu... Ya ampun bu maaf ternyata aku tidak menyimpan kontak ibu," Cindi merasa bersalah.
"Iya tidak papa kok nak, kamu lagi apa?" Tanya Hajra.
"Gak ada kok bu, lagi istirahat saja." Ucap Cindi.
"Begini nak, Rendi kan lagi mau jalan-jalan cari jas ibu saranin ke dia sekalian saja beli gaun pengantin barengan kamu." Ucap hajra.
"Ohhh, boleh kok bu aku siap-siap dulu deh." Ucap Cindi di seberang.
__ADS_1
"Okey nak, kamu beneran Tidak sibuk kan?" Tanya Hajra memastikan.
"Tidak kok bu," Hajra lalu tersenyum.
"Okey, kalau begitu kamu siap-siap nak ibu tutup telpon nya." Hajra lalu menutup telpon nya, tak henti-henti nya dia tersenyum sendiri.
Di kamar Rendi memilih-milih kemeja yang akan dia gunakan, sampai akhirnya dia memilih kemeja Biru yang warna nya sangat terang sampai kulit nya yang putih itu tambah bersinar.
"Sepertinya ini cocok, lagian ngapain coba aku sibuk memilih baju yang terbaik." Kesal Rendi di dalam kamar nya.
Rendi mengambil dompet nya yang ada di atas meja dan di masukkan ke dalam tas Ransel kecil nya yang biasa dia pake ke kampus. Dia tidak peduli lagi kalau Cindi akan menertawakan gaya nya terserah yang terpenting dia bisa mengikuti keinginan ibunya itu.
Ya ampun bu aku benar-benar tidak habis pikir ini semua akan terjadi, aku benar-benar pusing.
Rendi menuruni anak tangga dan berjalan keluar, terlihat di ruang tamu ibu Hajra sedang menunggu nya. Rendi meminta izin ke ibunya.
"Bu aku pergi dulu yah, ibu jaga diri di rumah." Ucap Rendi lalu memukul-mukul pundak ibunya pelan.
"Iya nak, kamu juga harus semangat dong, besok kan hari pernikahan kamu." Nasehat Hajra.
Rendi menyalami ibunya lalu menuju parkiran, dia masuk ke dalam mobil dan membawah nya pergi ke jalan besar, Terlihat Hajra melambaikan tangan di pintu rumah.
...🐼🐼🐼...
Cindi masih sibuk memilih-milih maju yang cocok di gunakan untuknya jalan-jalan ke mall.
Saat sudah lama memilih-milih baju akhirnya dia tertarik dengan salah satu baju yang sudah beberapa tahun tidak dia pake.
"Ya ampun cepat sekali waktu itu berlalu, bahkan aku sendiri sudah membeli baju ini selama dua tahun lebih." Ucap Cindi, Cindi lalu memakai baju itu, untung nya pas masuk ke badan nya, dia lalu berencana memakai nya.
Setelah menggunakan baju lengan panjang bertuliskan saranghaeyo. dia lalu menggunakan celana jins tidak terlalu ketat dan liplos pink, gaya Cindi di luar kantor benar-benar keren dan patuh di acungi jempol. Berbeda jika dia ke kantor maka dia mesti sangat peminim.
Cindi lalu membawah tas samping kecil yang biasa dia gunakan kalau mau pergi kemana-mana. Setelah semua sudah di masukkan ke tas terutama dompet dan handphone, Cindi lalu keluar dari kamar nya.
Cindi menuruni anak tangga satu persatu, dia menuju ke dapur, di dapur terlihat wina dengan memasak untuk persiapan makan siang. Cindi mengambil buah apel dari atas meja, Wina tiba-tiba berbalik dan kaget melihat Cindi sudah berpakaian seakan ingin berpergian.
__ADS_1
"Loh mau ke mana nak?" Tanya Wina.
"Mau pergi bareng kak rendi untuk memilih-milih baju pengantin bu," Ucap Cindi sambil mengunyah buah apel.
"Kalau makan tuh duduk nak, jangan berdiri." Tegur Wina. Cindi lalu duduk di kursi dengan tenang.
"Bantuin ibu dong, ambilin mangkok." Ucap wina meminta tolong, Mendengar di suruh oleh ibunya Cindi langsung berdiri mengambil mangkok yang di maksud ibunya.
"ini kan bu," Ucap Cindi di tangan nya terlihat mangkok kaca untuk sayur. Wina lalu mengambil mangkok yang Cindi ambil dari dalam lemari. Cindi kembali ke kursinya dan mengambil apel kedua untuk di makan.
"Sayang kalau kita sudah nikah maka kita akan selalu bekerja, sampai akhirnya kamu menyewa babi sister untuk menemanimu mengurus bayi dan pekerjaan perempuan. Jujur ibu paling tidak suka kalau kau mengalami hal yang sama seperti ibu.
"Apa sesulit itu bu?" Tanya Cindi, meski dia sebenarnya sudah tau.
"Iya, memang merawat dan membesarkan itu bukanlah hal yang gampang untuk di lakukan semua orang nak." Ucap winda.
"Berarti waktu kecil aku ribet dong bu." Tanya Cindi.
"Yah lumayan Ribet lah tapi lebih ribet annisa dong." Ucap Wina.
"Yah baguslah, tapi sampai sekarang kayaknya annisa ribet juga." Cindi sengaja mengencangkan suaranya karena annisa lewat di belakang mereka.
"Ribet kak Cindi," Ucap annisa kesal.
"Eh bu aku mau berangkat tapi kak rendi belum datang juga." Lagi-lagi Cindi sengaja membesarkan suaranya agar annisa dengar.
"Apaa? kak Cindi mau jalan bareng Kak rendi aku ikut dong kak." Annisa tiba-tiba datang ke hadapan kakanya memohon-mohon.
"Tadi ngambek, Tidak usah deh ini cuma buat kita berdua bocil gak boleh ikutan." Ucap Cindi.
"Yaudah gak papa, eh tunggu kakak bilang aku bocil. Ya ampun kakak aku tuh sudah besar liat nih." Ucap annisa sambil memperlihatkan badan nya ke Cindi.
"Ih ni bocil, eh bocil pergi belajar gak usah ikutan." Ucap Cindi sengaja membuat annisa marah. Annisa marah di bialngin bocil, dia langsung menghentakkan kakinya ke lantai sampai dia sampai di depan kamar nya.
"Uhhh dasar bocil." Wina hanya tertawa melihat tingkah annisa marah.
__ADS_1