
Nenek Salimah terkejut dengan apa yang terjadi barusan, dia tidak menyangkah kalau akan bertemu dengan pak direktur utama. Di balik keharuan mereka ternyata ada rindu yang sudah lama menunggunya.
Lina dan Cindi mendekati mereka penuh haru, yang lain malah bertanya-tanya dalam hati. Ada apa ini dan apa yang terjadi?.
"Ya ampun nek, kok aku baru ketemunya sekarang!" Ucap Lina lalu memeluk nenek itu penuh haru, Cindi hanya bisa memukul pelan pundak Lina.
"Cindi, aku baru sadar apa alasan kamu waktu itu di kantor." Lina lalu mendekati Cindi dan memeluknya, Semua semakin bingung dengan kejadian yang barusan terjadi.
"Tunggu, Ini sebenarnya ada apa yah? kok aku tambah binggung." Ucap Tono penuh tanda tanya.
Cindi mendekati orang-orang yang ada di depan rumah itu, dan berkata dengan singkat.
"Pa...ma... Kita ternyata keluarga dekat tapi gak saking kenal." Cindi memeluk ibunya, semua yang mendengar hal itu sontak kaget. Rendi yang ada di dekat Reno malah lebih syok lagi dengan apa yang barusan di katakan Cindi.
Keluarga? apa yang terjadi kenapa aku baru tau, dan sejak kapan Cindi tau, Ya ampun aku benar-benar pusing dengan situasi seperti ini.
Saat ini kepala Rendi dipenuhi seribu tanda tanya yang melayang-layang di atas kepalanya. Dia benar-benar binggung harus bagaimana, dan hanya bisa diam menyaksikan semua peristiwa itu. Berbeda dengan Reno, Ibu, dan Sinta yang langsung berbalik menatap ke arah Rendi, Rendi di tatap seperti itu langsung canggung.
"Ehmmm, kok kalian menatapku?" Tanya Rendi kepada mereka. Reno mendekati nya dan memukul pundak dengan senyuman tanda tanya di wajahnya.
Sebenarnya apa lagi yang mereka rencanakan tanpa sepengetahuan aku. Semoga mereka tidak merencanakan hal yang gila yang tidak bisa di cerna oleh memori ku ini.
Pembicaraan pak direktur terhenti dan langsung menyuruh semua yang ada di luar rumah untuk masuk ke dalam, karena tetangga mulai berdatangan menyaksikan kejadian ini. Bahkan parah Gadis banyak yang meminta berfoto-foto dengan Rendi.
"Itu bukannya artis Korea itu yah?" Tanya seorang gadis.
"Bukan lah, dia mungkin cuma mirip saja." Ucap gadis satunya. mereka semua menghampiri Rendi dan meminta berfoto denganya.
"Kak, aku boleh foto gak?" Tanya Santi, Rendi hanya bisa mengangguk mendengar ajakan gadis itu. Para gadis berkerumunan untuk antri minta foto ke Rendi, keluarga yang menyaksikan hal itu hanya bisa melongok kaget.
__ADS_1
Di sela-sela mereka berfoto ada seorang gadis yang melewati mereka semua, dia mencium tangan nenek Salimah wajahnya sangat mirip Cindi hanya saja dia masih remaja.
"Nek aku pulang," Ucap gadis cantik itu. Melihat banyak wajah-wajah baru di halaman rumah itu, gadis itu sempat malu-malu dan langsung mencium tangan mereka semua satu persatu. Cindi yang mengenali gadis itu langsung memeluknya, dia sangat merindukan gadis itu.
"Kamu sudah besar yah sekarang?" Tanya Cindi kepada.
"Iya dong kak, masa sih aku kecil terus." Ujar Siska dengan malu-malu. Rendi bahkan mengira kalau mereka saudara kembar.
"Annisa sekarang sudah besar yah, ikut kakak ke dalam yuk!" Pinta Siska kepada Annisa, dia hanya masih sedikit canggung saja.
"Dia siapa?" Tanya pak direktur. Siska yang mendengar itu langsung memperkenalkan diri nya.
"Namaku Siska Reyna Candra winata om." Ucap gadis itu.
"Namanya bagus, nama belakang itu di ambil dari nama nenek kamu." Siska heran kok om di depannya ini bisa tau.
"Om kok tau?" Tanya Siska.
Mendengar hal itu Cindi sontak saja tertawa, "Hahaha, Om sebenarnya nama Cindi pake gelar itu, hanya saja kepanjangan jadi cuma di singkat aja jadi C.W." Jelas Cindi kepada keluarga pak direktur.
"Masuk dulu yuk," Salimah tiba-tiba sudah datang di pintu untuk menyuruh mereka semua masuk. Mereka semua masuk ke dalam rumah tercium aroma masakan yang sangat lezat dan membuat siapa pun akan kelaparan jika menciumnya.
...🐼🐼🐼...
"Wah masakan nenek harum sekali." Ucap Rio, Rupanya para gadis tadi banyak juga yang minta tanda tangan dan mengajak Rio berfoto, pantas saja dia baru mengeluarkan suara.
"Gimana nak, seru yah berfoto-foto sama para gadis?" Tanya Sinta. Di ledek sama mamanya tiba-tiba muka Rio jadi memerah, Rio hanya tersenyum tipis.
"Nama kakak Rio yah?" Tanya Siska dari belakang Rio.
__ADS_1
"Eh bidadari muncul, bikin kaget aja." Ucap Rio sengaja menggombal Siska karena dia tau kalau gadis itu sangat pemalu. Semua yang mendengarnya malah tertawa, Siska lagi-lagi malu di depan umum seperti habis tertangkap basa.
"Aduuh aku malu," Siska menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" Kamu jangan gombalin keponakan mba, tapi... mba rasa kalian cocok." Tiba-tiba Lina datang dan memeluk Siska yang pemalu itu dengan sedikit meledek mereka berdua.
"Yah kalau gak cocok, di cocokin aja mba." Gombal Rio lagi, entah kenapa Rio sangat suka menggombal Siska apakah dia suka sama Siska atau kah hanya untuk seru-seruan saja.
Setelah jamuan makan siang telah selesai nenek Salimah membawah beberapa makanan yang siap di makan di ruang tamu di bantu oleh Siska dan Cindi.
"Wah nenek hari ini masak banyak makanan, apa nenek masak sendiri yah?" Tanya Rio.
"Kan di bantu sama ibu siska," Ucap men Salimah.
"Tunggu, aku kok belum ketemu ibunya Siska yah!" Rio langsung berlari ke dapur, di liatnya seorang ibu-ibu paru baya menggunakan baju dress putih sedang menggaruk adonan di dapur.
"Ehmm, tante ibunya..." Belum selesai Rio menyelesaikan kalimatnya, ibu itu sontak kaget dan teriak histeris
"Arggghhhh," Teriakan ibu siska ternyata di dengar oleh semua orang. Lina lalu menuju dapur untuk menyaksikan apa yang terjadi.
"Ada apa yah?" Tanya Lina di pintu dapur.
"Ya ampun mba terkejut, kukira siapa di belakang mba." Mba itu berusaha untuk mencairkan suasana di tempat itu. Lina lalu mendekati Rio di samping mba Lina.
"Ya ampun rupanya ini dia biang kerok nya yang membuat mba kaget." Lina menarik telinga Rio ke luar dari dapur.
"Arggghhhh, aduh mba aku kan cuma mau kenalan." Kesal Rio kepada Lina.
"Kenalan sama calon mertua bentar saja." Ucap Lina lalu mendudukkan keponakan nya di kursi. Rio hanya tersenyum jail sama para penghuni rumah dan melanjutkan makan nya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian makan siang telah usai, Mba ningsi di bantu oleh Siska dan Cindi mengeluarkan beberapa makanan di ruang tamu, dengan sajian teh hangat dan kopi sesuai keinginan para tamu.
...🐼🐼🐼...