CEO Ku Adalah Suamiku

CEO Ku Adalah Suamiku
108. Bab 108


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Lima hari setelah Gavin pulang dari Bali pergi berlibur bersama kedua Opa dan Omanya, kini Bagas, Zahra dan juga anak mereka Gavin sudah berada di Bandara. Mereka berpamitan kepada keluarga nya yang ikut ke Bandara melepas kepergian Anak dan menantunya yang akan pergi ke London.


"Bagas Ayah mohon kamu jaga istri dan anak kamu ya.., soalnya mereka kan di London baru pertama kali. Ingat jangan kamu sakiti mereka." Pesan Ayah mertuanya.


"Iya Yah.. Ayah tenang aja Bagas akan jaga istri dan Gavin" Jawabnya.


"Kalian baik-baik disana ya.. Entar kalau ada waktu Papa dan Mama lihat kalian ke London, sekalian ngajak mertua kamu sekali-kali kesana." Ucap Papanya.


"Jangan lupa kalau sudah sampai hubungi kami."


"Hati-hati ya mbak.. Sheina juga kalau ada waktu main ke London ngajakin Shakeela juga, Keela kan belum pernah Sheina bawa ke London." Sheina


"Bro, hati-hati ya.. jangan lupa jaga kesehatan. Awas jangan sampai Lo tergoda sama mantan-mantan Lo disana!" Ucap Rio menggoda Bagas.


"Cih, sialan Lo!" balas Bagas kesal. Sedangkan Rio tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Bagas.


Selesai berpamitan ke semua keluarganya Bagas ,Zahra dan juga Gavin akhirnya masuk ke dalam Bandara. Sebenarnya Zahra sedih harus meninggalkan mereka, apalagi ia harus jauh dari Ayah dan Ibunya yang hanya tinggal berdua. Zahra kasian lihat orang tuanya yang jauh dari anak-anaknya, kakaknya Yuda tinggal di Bandung bersama istri dan anaknya sedang dirinya akan menetap di London. Ya tapi mau gimana lagi, ia harus ikut kemana suaminya akan tinggal, apalagi Bagas suaminya sudah memutuskan untuk menetap di London.


Zahra hanya bisa berdoa semoga seluruh keluarga nya dan juga keluarga kecilnya di beri kesehatan dan umur panjang oleh Allah, agar suatu saat nanti mereka masih bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarga besarnya.


__ADS_1


Akhirnya selama hampir menempuh perjalanan 17 jam mereka sampai juga di London. Sementara Daniel sahabat sekaligus asisten Bagas sudah menunggu kedatangan Bagas dan keluarga kecilnya di depan Bandara.


Selesai mereka mengambil koper-koper yang mereka bawa, kemudian Bagas yang sedang menggendong anaknya mengajak istrinya jalan menuju pintu keluar Bandara.


Sampainya di luar Bagas sudah melihat Daniel yang melambaikan tangan ke arahnya.


"Ayo sayang, Daniel sudah nunggu kita tuh di depan." Ucap Bagas pada Zahra sembari menggenggam tangan Zahra menghampiri mobi Daniel.


"Bagaimana kabar Lo Bro?" Tanya Daniel setelah selesai memasukkan koper-koper mereka kedalam mobil.


"Alhamdulillah gue baik bro." Jawab Bagas santai. "O iya kenalkan ini istri gue Zahra, Lo pasti belum pernah lihat orangnya kan?"


"Hei gue Daniel.." Ucap Daniel. "Senang akhirnya bisa berjumpa dengan mu Zahra.." tambahnya.


"Astaghfirullah mas, kok gitu sih ngomongnya! senyum sama orang kan sedekah mas.."


"Iya mas tahu, tapi senyum kamu jangan di manis-manisin begitu di depan Daniel." Kesal Bagas


"Di manis-manisin gimana sih mas?! kan emang seperti ini senyumnya Zahra, aneh deh kamu mas!" Ucap Zahra tak kalah kesal dengan yang di ucapkan suaminya.


Sedangkan Daniel yang masih diam mendengarkan perdebatan antara Bagas dan Zahra Istrinya, heran dengan sifat Bagas yang Posesif pada istrinya. Padahal dulu Bagas sebelum menikah tidak seperti ini kepada mantan-mantan nya terdahulu, Bagas malah terkesan cuek. Tapi sekarang Bagas sangat posesif hanya karena sebuah senyuman.


"Wah apa ini benar Bagas yang gue kenal?" Tanya Daniel menghentikan perdebatan Bagas dan juga Zahra sembari tersenyum melihat Bagas.

__ADS_1


"Ya jelas ini gue Bagas, jadi menurut Lo gue siapa?!" Tanya Bagas yang bertambah kesal dengan pertanyaan dari Daniel.


"Hahaha gue kira orang lain. Karena setahu gue nih ya, Bagas tidak pernah Posesif seperti ini..! Apalagi dulu dengan man\_" ucapan Daniel terhenti karena mendapat tatapan tajam dari Bagas. Bagas mengisyaratkan dengan tatapan tajam nya agar Daniel tak melanjutkan ucapannya, karena ia tidak mau membahas mantannya di depan Zahra wanita yang ia cintai. "Hahaha iya maaf gue ngerti." Ucap Daniel lagi. "Maaf Zahra.." Daniel minta maaf ke Zahra karena merasa tidak enak.


"Iya gak apa-apa, nyantai aja." Balas Zahra.


Lalu Daniel melihat anak kecil yang sedang tertidur di gendong oleh Bagas.


"Apakah dia putra kalian?" Tanya Daniel ke mereka berdua.


"Iya Bro ini anak gue Gavin, yang sempat gue tinggal selama tiga tahu ini." Jawabnya.


"Dia sangat tampan, kalau gue perhatiin dia lebih mirip ke Kakek William dari pada mirip Lo Bro.." Ucap Daniel yang lagi memperhatikan wajah tampan Gavin.


"Hahaha lo tuh ya selalu benar, dia emang lebih mirip ke Kakek William dari pada gue, bahkan Gavin lebih tampan dari Papanya." Ucap Bagas membenarkan ucapan Daniel.


"Eh maaf kok malah ngobrol disini. Ayo Bro, Zahra masuk ke mobil biar gue antar ke rumah Kakek William." ajaknya


"Iya juga ya! Ayo sayang masuk, pasti kamu dan Gavin capek berjam-jam di pesawat."


"Iya mas.."


Setelah mereka sudah masuk kedalam mobil, Daniel langsung menjalankan mobilnya menuju rumah almarhum Kakek William, yang akan di tempati oleh Bagas dan keluarga kecilnya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2