
Bagas dan Zahra sudah sampai kantor. Setelah selesai makan siang dan berbicara ke istrinya kalau malam ini ia akan ke Bali, mereka langsung kembali ke kantor. Makan siang mereka kali ini lebih cepat karena Bagas harus menyelesaikan beberapa berkas sebelum ia pergi ke Bali.
Zahra keluar dari mobil. Ia berjalan masuk menuju lobby. Saat beberapa langkah tiba-tiba tangannya di tarik oleh Bagas, dan ia membawa Zahra kesamping mobilnya. Kemudian Bagas menarik pinggang istrinya agar lebih dekat lagi padanya.
"Astaghfirullah.." Mas ngagetin aja sih. Ada apa mas..?" tanya Zahra
"Kiss nya belum sayang.." jawab Bagas. "Kamu lupa ya hmm?"
"Mas entar ada yang lihat kita disini loh."
"Biarin aja sayang.." gak lama lagi kita akan mengumumkan hubungan kita. Kamu gak masalahkan hmm?"
"Tapi mal..-" ucapannya terhenti, karena suaminya sudah mencium bibirnya dengan lembut bahkan sangat lembut. Ia mengecap serta ********** lembut. Bagas bahkan tidak perduli bahwa saat ini ia mencium istrinya di parkiran. Bagas selalu saja kecanduan dengan bibir manis istrinya. Kemudian ia melepaskan ciumannya. Bagas tersenyum melihat bibir Zahra bengkak karena ulahnya. Sangat terlihat lucu dan menggemaskan. "Mas ini parkiran loh malu dilihat orang. Kebiasaan deh kamu mas mencium tanpa lihat tempat." ucapnya kesal
"Iya sayang bawel banget sih bidadari surga nya mas.." ucap Bagas sembari mencium lagi bibir istrinya singkat
"Mas..!" Zahra menghela napasnya panjang. Sungguh suaminya hari ini sangat menyebalkan menurutnya. "Uda ah Zahra masuk."
"iya ya Uda kamu masuk. Maaf ya sayang.." ucap Bagas sembari ia mengecup kening istrinya.
Setelah itu Zahra pun pergi masuk kedalam gedung. Disusul Bagas yang berjalan di belakang Istrinya tapi dengan jarak agak sedikit lebih jauh.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang telah melihat mereka berciuman di samping mobil Bagas tadi. Dia juga telah mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponselnya. Sungguh menurutnya ini akan menjadi pertunjukan yang luar biasa, jika foto ini dikirim pada Bu Sonya ucapnya sambil tersenyum sinis.
Sambil jalan ke lift Bagas menelfon adiknya Sheina. Beberapa kali menelfon adiknya tapi tidak diangkat-angkat oleh Sheina. Akhirnya Bagas Menelfon Rio untuk menanyakan Sheina pada nya. Panggilan pertama tidak di angkat, kedua juga gak di angkat dan panggilan ketiga.
Rio
"Iya halo.."
Bagas
"Lo dari mana aja sih bro di telpon gak di angkat-angkat..!"
Rio
"Iya maaf gue gak dengar ponsel gue silent. Gue ada di ruangan kenapa?"
__ADS_1
Bagas
"Sheina ada sama Lo apa gak?"
Rio
"Iya ada, kami lagi makan siang di ruangan gue."
Bagas
"Bro suruh Sheina keruangan gue ya kalau sudah selesai makan. Soalnya ada yang pengen gue omongin sama dia."
Rio
"Oke bawel..!"
Sambungan telfon pun terputus.
"Wah Rio Uda bohong sama Bagas ya.. padahal ponselnya kan gak di silent. 🤣🤣🤣
Bagas sudah berada di lantai 20. Ia berjalan menuju ruangannya. Saat melewati ruangan Rio, Bagas pun berhenti. Bagas pengen langsung mau menjumpai adiknya di ruangan Rio dan tidak jadi menyuruh adiknya datang keruangannya. Bagas pun jalan ke depan pintu ruangan Rio, lalu ia memegang gagang pintu saat ingin membukanya Bagas di kejutkan oleh sekretarisnya Mila yang telah memanggil dirinya.
Bagas pun menoleh ke arah Mila. "Iya ada apa Mil.." Jawab Bagas
"Maaf Pak ganggu. Apa Pak Bagas mau keruangan Pak Rio..?" tanyanya
"Iya Mila." jawab Bagas. "Ada apa kamu panggil saya..?" tanyanya
"Ada yang mau saya bicarakan dengan Pak Bagas."
"Oke. Ya uda kita keruangan saya saja." ucapnya kepada Mila. Bagas pun pergi keruangannya bersama Mila. Ia tidak jadi masuk keruangan Rio. Sampai ruangan Bagas langsung duduk di sofa dan ia menyuruh Mila duduk di sofa kecil yang ada di depannya.
"Apa yang ingin kamu bicara kan Mil..?" tanya Bagas
"Begini Pak saya ingin menanyakan soal masalah Catering dan Cake untuk acara ulang tahun Perusahaan." jawab Mila
"Apa kita harus kembali memesan Catering seperti yang tahun lalu? atau Pak Bagas ingin menu yang berbeda."
__ADS_1
"Kalau itu entar saya tanya kepada orang tua saya dulu soalnya saya gak gitu ngerti masalah Catering." jawab Bagas
"Kalau Cake nya gimana Pak..?" tanya Mila. "Ulang tahun Perusahaan kan di selenggarakan di Hotel mewah milik Pak Bram Pratama, apa kita pesan Cake nya sekalian di Toko kue Bu Indah istri Pak Bram juga Pak?" tanyanya lagi
"Kamu kenal sama mereka?"
"Iya Pak saya kenal dengan mereka. Setiap ada acara Perusahaan kita selalu menyewa hotel atau pun pesan Cake nya kepada mereka. Kata Pak Bimo sih mereka adalah teman Pak Bimo." jawab Mila
"Kamu tahu Mila kalau Pak Bram Pratama itu mertua saya.." ucap Bagas
Mila yang mendengarkan ucapan dari Bosnya pun membuka mulutnya terkejut kalau ternyata Pak Bram itu mertua dari CEO Perusahaan. Karena selama ini ia tidak mengetahui kalau Bos nya itu sudah menikah.
"Mil tutup mulut kamu entar kemasukan lalat." ucap Bagas sembari tersenyum melihat ekspresi wajah Mila.
Mila langsung menutup mulutnya. "Eh.. maaf Pak saya hanya terkejut ternyata Pak Bagas sudah menikah. Tapi Pak, selama ini Pak Bagas gak pernah membawa istri Bapak ke Perusahaan. Apa lagi mengenalkan kepada para karyawan disini. Malah Pak Bagas di gosipkan dekat dengan karyawan marketing kalau gak salah namanya Zahra. Eh tunggu dulu atau jangan-jangan Zahra itu..-" Ucapannya pun terhenti kemudian Mila melihat kearah Bagas yang sudah senyum-senyum sambil melihatnya.
"Jadi benar kalau Zahra istri Pak Bagas?!" tanyanya lagi kepada Bagas
"Kamu benar Mila kalau karyawan yang bernama Zahra Adelia Pratama bagian marketing itu istri saya dan dia anak dari Bram Pratama." jawab Bagas sembari terus tersenyum
"Jadi Pak Bram itu ayahnya Zahra. Ya ampun Pak Bagas.. ini sungguh berita yang sangat besar. Saya senang Pak Bagas bersama Zahra. Pak Bagas sangat cocok sama Zahra, tampan dan cantik. Saya jadi penasaran gimana reaksi terkejut nya karyawan disini kalau mendengar berita ini Pak. Apa lagi mereka yang Uda ngomongin tentang Zahra yang tidak-tidak karena kedekatan Zahra dengan Pak Bagas. Bu Sonya pasti malu kalau tahu Zahra istri Pak Bagas. Saya tahu Bu Sonya kan selalu saja ingin menggoda Pak Bagas setiap ada kesempatan. Apa lagi kalau sedang meeting dia berusaha terus mendekati Pak Bagas."
"Kok kamu bisa tahu Mila?" tanya Bagas."Sebenarnya saya sudah muak sama Sonya setiap kita meeting bersama seluruh kepala devisi dia selalu saja berusaha mendekati dan menggoda saya. Saya sudah mau pindahkan Sonya ke kantor cabang, tapi Zahra melarangnya. Katanya kasihan, padahal dia tahu Kalau Sonya itu tidak menyukainya."
"Setiap kita meeting Pak, saya sering perhatikan tingkah laku dari Bu Sonya kepada Pak Bagas. Makanya saya tahu kalau dia berusaha dekati Pak Bagas. Tapi saya bersyukur ternyata Pak Bagas gak pernah tergoda olehnya. Apa lagi Pak Bagas ternyata sudah menikah sama Zahra, yang saya tahu ya Pak kalau Zahra orang nya baik banget, jadi makin panas dong Bu Sonya."
"Saya harap sama kamu Mil jangan beri tahu dulu kepada siapapun karena ini masih di rahasiakan dan akan kami umumkan hubungan saya dan Zahra di acara ulangtahun Perusahaan besok. Kamu ngerti Mila." ucap Bagas dengan tatapan tajam dan wajah yang serius.
"Iya Pak saya ngerti. Saya tidak akan menceritakan tentang ini kepada siapapun." jawab Mila sedikit takut melihat ekspresi wajah Bosnya yang serius dan agak sedikit menyeramkan.
"Oke bagus. Ya uda kalau begitu kamu pesan Cake nya kepada mertua saya saja. O iya Mila kalau bisa brownies nya jangan lupa ya, saya paling suka brownies buatan mertua saya." ujar Bagas sembari tersenyum manis pada Mila
"Baik Pak. Kalau gitu saya permisi." ucap Mila
Tadi wajahnya serem nah sekarang Uda tersenyum manis aja lagi. Dasar Pak Bos. Gumam Mila dalam hati
"Oke silahkan." jawab Bagas
__ADS_1
Selesai berbicara dengan Mila, Bagas kembali ke mejanya dan malanjutkan mengerjakan beberapa berkas yang ada di mejanya.