
Pagi harinya, Zahra terbangun terlebih dahulu. Pagi ini ia akan mencoba alat test kehamilan yang sudah Zahra beli kemaren di apotik. Setelah mengambil alat tersebut dari dalam tasnya, Zahra bergegas ke kamar mandi karena sudah tak sabar lagi ingin tahu benar atau gak nya ia hamil.
Setelah beberapa menit menunggu, Zahra akhirnya melihat test pack tersebut dengan jantung yang berdetak kencang. Air mata Zahra keluar gitu aja setelah ia melihat hasilnya positif.
"Ya Allah Alhamdulillah aku hamil." Ucapnya sendiri sembari menutup mulutnya tak percaya dirinya di berikan kepercayaan lagi kepada Allah untuk hamil secepat ini. Padahal beberapa tahun yang lalu mereka sampai hampir 7 bulan baru mendapatkan Gavin anak pertama mereka.
"Sekitar tiga hari lagi kan mas Bagas ulang tahun, aku akan beri kejutan untuknya, pasti mas Bagas bahagia kalau tahu aku hamil, apalagi mas Bagas sudah sangat menginginkan aku hamil lagi." monolog nya. Zahra pun keluar dari kamar mandi setelah ia selesai mandi sembari membawa tes pack bukti bahwa ia sudah hamil, untuk sementara ia menyembunyikan dulu kabar gembira ini ke pada Bagas. Zahra akan menyimpan benda pipi tersebut di sebuah kotak kecil dan tepat dihari ulang tahun Bagas, Zahra akan memberikan nya sebagai kado.
Selesai memakai pakaian, Zahra menghampiri Bagas untuk membangunkan suaminya itu. Zahra pun duduk di pinggir ranjang tepat di samping Bagas, Zahra menatap dalam suaminya yang masih tidur pulas di ranjang, di usapnya lembut rambut suaminya, rasanya Uda gak sabar ia ingin memberitahukan ke Bagas kalau dirinya Uda hamil.
"Mas bangun, entar telat loh mau kekantor." Ucap Zahra.
"Emmmh, entar lagi sayang lima menit ya.." Ucap Bagas yang sudah membuka matanya.
"Gak ada lima menit mas, cepat bangun.."
"Oke, tapi morning kiss dulu sayang.. itukan uda jadi kebiasaan kita kalau bangun tidur harus morning kiss lebih dulu sayang kalau kamu lupa." Ujar Bagas yang sudah memajukan bibirnya minta di cium oleh Zahra.
Zahra tersenyum melihat suaminya yang sudah memajukan bibirnya, sungguh bayi besarnya ini sangat menggemaskan. Kemudian Zahra mendaratkan ciuman nya di kening Bagas, lalu di ciumnya kedua pipi suaminya dan terakhir Zahra mencium bibirnya.
Saat akan melepaskan bibirnya dari suaminya, Bagas langsung menarik tengkuk Zahra agar ciuman itu tidak terlepas, lalu Bagas ******* bibir istrinya dengan lembut. Bagas yang tadinya hanya ingin ********** saja, kini Bagas menginginkan lebih.
Kini posisi Zahra sudah di bawah tubuh Bagas. Tangan Bagas perlahan membuka kancing baju kemeja tunik milik istrinya, setelah terbuka semua di raihnya kedua dada Zahra dan Bagas lama bermain disana. Pada saat penyatuan akan di mulai terdengar suara gedoran pintu dari pintu penghubung kamar Gavin.
"Papa, Bunda buka pintunya.. Gavin mau masuk.." teriak Gavin dari dalam kamarnya.
Sontak membuat Zahra mendorong tubuh Bagas, Zahra langsung mengambil pakaiannya dan lari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya kembali. Sedangkan Bagas sudah mengumpat ia kesal karena gagal bercinta dengan Zahra.
__ADS_1
"Papa, Bunda buka pintunya.. " teriak Gavin lagi karena belum juga di bukakan pintunya.
"Iya sabar Boy.." Balas Bagas yang sudah memakai kaos dan celana bokser nya kembali. Bagas pun langsung membuka pintunya, dilihat wajah tampan anaknya sudah cemberut sembari menatap tajam Papanya.
"Papa Bunda mana?!" Tanya Gavin ketus dengan wajah yang masih cemberut.
Bagas kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Gavin, Bagas terkekeh geli melihat Gavin yang cemberut dan melihat dirinya begitu tajam.
"Maaf Boy, Papa baru bangun tidur.. kalau Bunda lagi mandi." Jawab Bagas pada Gavin. "Anak Papa yang tampan ini kok belum mandi?" Tanya Bagas sembari tangannya mengacak rambut Gavin.
"Gavin mau di mandikan sama Bunda!" Jawab Gavin jutek.
"Emm, gimana kalau mandinya sama Papa aja, Papa juga belum mandi.." Ucap Bagas
"Benelan Papa mau mandi sama Gavin?"
"Iya Boy.." jawab Bagas.
"Gavin gak marah lagikan sama Papa?"
"Gavin gak malah sama Papa kok, tapi Gavin kesal sama Papa, kalena Papa lama buka pintu kamarnya."
"Hahaha, kalau gitu maafin Papa Boy.." ucap Bagas semabari membawa Gavin ke kamar mandi yang ada di kamar Gavin, dan mereka pun mandi bersama.
Tiga hari telah berlalu, tepat hari ini hari ulang tahun Bagas. Hari ini Zahra tidak ikut ke kantor Bagas karena malam harinya Zahra ingin menyiapkan kejutan kecil-kecilan untuk suaminya itu dan hanya di rayakan keluarga kecilnya saja dan ya satu lagi Daniel sahabat suaminya. Baru besoknya Zahra akan mentraktir semua karyawan Bagas di kantin kantornya, untuk merayakan Ulang tahun suaminya dan untuk rasa syukurnya karena Allah telah memberikan kesempatan dirinya hamil kembali.
__ADS_1
Tadinya Bagas menolak permintaan Zahra untuk tidak ikut kekantor, soalnya sudah dua hari ini Bagas gak tahu kenapa kalau tidak melihat wajah istrinya Bagas akan merasa mual, Bagas bingung kok bisa seperti ini. Tapi dengan berbagai bujuk rayuan Zahra, akhirnya Bagas mengijinkan Zahra untuk tetap dirumah dan itu cuman satu hari saja.
*Bagas*
*Assalamu'alaikum.. halo sayang lagi apa*?
Ini Uda yang ke 6 kalinya Bagas menelpon Zahra dan tadi Bagas juga video Call Zahra sampai 4 kali. Samapi membuat Zahra yang berada di rumah jengkel padanya., tapi Bagas tidak memperdulikan itu.
*Zahra*
*Waalaikumsalam mas.. ini lagi bantu-bantu pelayan mas*..
Bohong Zahra, padahal dirinya lagi buat kue Ulang tahun buat suaminya.
*Bagas*
*Sayang jangan capek-capek kan sudah ada pelayan yang mengerjakannya, mas gak mau kamu lelah*.
*Zahra
Iya mas.. Ya ampun mas Uda dong telponnya.. ini Uda yang 6 kalinya loh kamu telpon aku.
Bagas
Habisnya kamu gak ikut mas kekantor hari ini, jadi jangan salahkan mas kalau mas neloponin kamu terus. Ya uda mas lanjut kerja lagi ya.. entar mas telpon lagi. Dah sayang I love you.
Zahra
__ADS_1
Iya mas.. I love you to*.
Telponnya pun terputus. Kemudian Zahra melanjutkan kembali membuat Kuenya.